Episode 108(118)

24 1 0
                                        

Pertengkaran antara Catherine dan Nadia sampai terdengar di kamar rawat inap Maulana, Fransis mengerutkan kening mendengar dua wanita itu bertengkar.

Fransis duduk di sofa panjang ruangan itu merasa terganggu, ia mengalihkan perhatian pada Maulana, pria itu juga terlihat terganggu hingga terbangun dengan mata sayu.

Fransis bangkit dari tempat duduk lalu berjalan mendekati Maulana, menyentuh pelan bahu sahabatnya itu."Apakah masih ada yang tidak nyaman?"

Maulana mengangguk."Tapi tidak seperti semalam." Ia mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan itu, mencari keberadaan sang Istri, namun tidak menemukannya.

Fransis menghela nafas."Istri mu di luar, seperti Istri muda Ayahmu mencari masalah lagi dengan anak kecil itu."

Perlahan Maulana menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, ia tidak suka Nadia membuat masalah dengan Fira, meski masih lemah namun pria itu berusaha untuk duduk.

"Kamu mau apa?" Fransis mengulurkan tangan menahan tubuh Maulana.

"Aku tidak ingin Istri ku mendapatkan masalah."Maulana mendudukkan diri di atas tempat tidur.

Maulana mengalihkan perhatian pada Fransis."Aku sendiri yang melarangnya bertengkar dengan keluarga ku, meski Mama Nadia bukan Mertua kandungnya, tapi aku tidak ingin Istri ku dianggap sebagai menantu kurang ajar." Ia memejamkan matanya sejenak, tubuhnya masih terasa sangat lemah namun Istri muda Ayahnya itu selalu membuat masalah.

"Karena itu ... Aku yang harus melindunginya. Jika seorang Suami melarang seorang Istri untuk membela diri di hadapan keluarganya, saat sang Istri jelas sekali ditindas, dan Sebagai Suami juga tidak mau membelanya. Bukankah sama saja dia berlaku dzalim? Artinya sebagai Suami juga gagal melindungi Istrinya?"

Fransis diam tidak mengerti ucapan Maulana, ia sama sekali tidak paham konsep seperti itu, dirinya bahkan tidak tertarik menjadi Suami, kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan hasrat seorang pria maka bisa pergi mencari wanita yang bersedia menjual dirinya.

Perlahan Maulana turun dari tempat tidur, lalu berjalan mendekati pintu membiarkan Fransis masih diam memikirkan ucapannya.

Sui dengan sigap membukakan pintu untuk Maulana, terlihat Fira masih duduk di sofa sedangkan Catherine dan Nadia masih adu argumen masalah harta miliknya dengan penuh emosi.

Fransis segera berjalan mendekati Maulana dan Sui, ia merasa bosan melihat pertengkaran wanita hanya demi harta milik seorang pria.

Fransis melangkahkan kaki mendekati Fira lalu menepuk pelan bahu gadis itu, Fira mengangkat kepala melihat Fransis.

"Kamu tidak merasa bosan?"

Fira tidak menanggapi, ia kembali menunduk tidak peduli dengan pertengkaran Catherine dan Nadia, dirinya hanya memikirkan apakah Maulana sudah baik-baik saja atau belum.

Fransis menghela nafas melihat sikap Fira."Kamu khawatir pada Ivan?"

Fira mengangguk."Aku ingin melihat Mas Ivan, tapi kalian melarang ku," katanya tidak berdaya.

Fransis melirik Maulana yang berdiri di ambang pintu, kemudian kembali memandang Fira."Coba kamu lihat siapa yang berdiri di depan pintu itu?"

Fira mengalihkan perhatian pada pintu kamar rawat inap Maulana, terlihat Maulana berdiri sambil berpegangan pada daun pintu, Reksi memegangi infus pria itu.

Fira tersenyum haru melihat sang Suami sudah bisa berdiri, ia pun bangkit dari tempat duduk tanpa menghiraukan pertengkaran antara Catherine dan Nadia, gadis itu berjalan cepat menuju Maulana dan langsung memeluk tubuh lemah tersebut.

Maulana sedikit terhuyung ke belakang, ia tersenyum dan membalas pelukan Istrinya."Kamu pasti khawatir."

Fira mengangguk."Aku pikir Mas tidak akan bangun, aku ingin di samping Mas, tapi Pak kuning itu melarang ku."

Maulana mengangkat pandangan menatap Fransis tajam, Fransis nyengir melihat Fira mengadu."Dasar tukang ngadu," batin Fransis.

Catherine dan Nadia mengalihkan perhatian pada Maulana, Catherine memutar tubuh lalu berjalan mendekati Maulana."Nak, Ibu dengar dari Fransis kamu pingsan. Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kamu sakit apa, Nak?"

Maulana mengalihkan perhatian pada Catherine."Hanya kelelahan saja, Bu. Ibu tenang saja."

Fira melepaskan pelukannya pada sang Suami, mengangkat kepala menatap pria itu tidak percaya.

Fira yakin penglihatannya masih normal untuk membedakan antara sapu tangan bersih dan sapu tangan ada noda darahnya."Mas."

Maulana menundukkan pandangan menatap sang Istri dengan senyum manis."Mas baik-baik saja, jangan khawatir."

Meski tidak yakin, Fira tetap mengangguk."Mas kembali saja ke tempat tidur, Mas baru keluar dari ruang ICU semalam."

Maulana mengangguk, ia melangkahkan kaki ke tempat tidur sambil dibantu oleh Fira.

Catherine ikut masuk ke dalam kamar rawat inap, Nadia dan Fransis mengikuti dari belakang.

Nadia berjalan mendekati Maulana yang sudah berdiri di dekat tempat tidur Maulana, menatap pria itu lembut."Van, Mama Nadia sangat khawatir padamu."

Maulana tidak menggubris ucapan Nadia, telinganya masih berfungsi dengan baik saat wanita itu menuduh Istrinya macam-macam.

"Ibu, aku akan memberikan 50 persen saham perusahaan Mizuruky pada Ibu dan 50 persen saham lagi untuk Fira."

Fira diam tidak mengerti apa yang dimaksud saham, sedangkan Catherine menggeleng tidak setuju dan Nadia terkejut tidak terima.

Fira maju selangkah lalu duduk di tepi ranjang Maulana."Saham itu apa Mas? Apakah sejenis produk di perusahaan Mas? Mas buat dua gitu?"

Fransis dan Sui sweet drop mendengarnya, Maulana tersenyum maklum mendengar pertanyaan sang Istri.

Ia meraih tangan gadis itu lalu memegangnya lembut." Saham itu adalah bukti kepemilikan dari sebuah perusahaan, kamu bisa menyebutnya sertifikat kepemilikan. Dengan saham itu itu memiliki hak untuk mendapatkan keuntungan dan hak suara dalam mengambil keputusan di perusahaan. Namun karena perusahaan Mizuruky itu hanya milik pribadi, jadi tidak ada saham adanya sertifikat kepemilikan, bukti bahwa perusahaan itu milik Mas. Jadi Mas mau bagi dua, untuk mu dan Ibu." Maulana menjelaskan dengan bahasa yang paling mudah dimengerti oleh gadis itu.

Fira mengangguk."Tapi aku tidak mau."

"Kamu tidak perlu munafik, Fira! Aku yakin tujuanmu menikah dengan Ivan pasti juga hanya untuk harta saja," kata Nita dengan sinis.

Maulana mengalihkan perhatian pada Nita, menatap gadis itu dingin."Jika kamu tidak memiliki bukti tentang tuduhan mu itu, sama saja kamu fitnah."

"Tapi, Van. Aku yakin apa yang dikatakan Nita itu benar, lebih baik jangan kamu berikan pada Fira." Nadia pura-pura setuju dengan pendapat Nita, ia tidak ingin aset perusahaan Mizuruky diberikan pada Fira melainkan padanya.

Maulana memandang Nadia sinis."Jadi harus ku berikan pada Mama Nadia?"

Nadia pura-pura menolak, dalam hati sangat berharap."Ya tidak begitu, Van."

"Aku tidak akan melakukannya, jika aku harus membagi perusahaan Mizuruky, akan ku bagikan pada Ibu dan Istri ku. Tidak ada untuk Mama Nadia atau siapapun." Maulana berkata dengan sungguh -sungguh.

"Aku tidak mau perusahaan, Mas." Fira mengangkat tangan, menaruh tangan sang Suami di pipinya.

Maulana dan Catherine mengalihkan perhatian pada Fira."Kalau begitu, kamu ingin apa, Sayang."

"Aku hanya ingin Mas saja, aku bisa kok hidup sederhana sama Mas. Lagipula aku juga tidak paham tentang begituan, aku hanya tahu kalau aku ingin selalu bersama Mas." Fira menatap mata sang Suami, khawatir pria itu marah dan menyebutnya bodoh.

Suami Terbaik 2 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang