Episode 91(101)

36 2 0
                                        

Fira diam sejenak memikirkan semua ucapan Catherine, jika Maulana adalah mantan Mafia, artinya tadi pria itu juga sedang berhadapan dengan Mafia.

Fira membalas genggaman tangan Catherine menatap wanita itu dengan penuh keyakinan lalu berkata,"Ibu, ayo kita kembali. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Mas Ivan."

Catherine tersenyum bangga dan mengangguk, ia mengalihkan perhatian pada Nindi, tapi menunggu perintah dari Catherine, Nindi memutar kemudi mobil ke arah rumah Maulana.

***

Gelisah dalam hati melihat persamaan dan kemiripan dirinya dengan Carlos Santana, berulangkali Maulana berusaha menepis pemikiran yang membenarkan bahwa mereka memang anak dan Ayah, daripada dengan Mizuruky Sinya, ia lebih mirip dengan Carlos Santana.

"Kamu bukan orang bodoh, Jhon." Carlos Santana mencondongkan tubuhnya ke arah Maulana, netra biru safir itu menatap mata Maulana.

Kedua netra safir saling bertatapan, Carlos Santana mencari emosi yang tersirat dalam netra safir tersebut, namun tidak sedikitpun dirinya menemukan, Maulana jauh lebih pintar menyembunyikan emosi dalam dirinya.

Suara mesin mobil berhenti di depan pintu rumahnya, berikutnya terdengar suara langkah kaki wanita semakin mendekat ke arah pintu.

Di luar ruangan, Fira, Catherine, Nindi dan Sintia berdiri di depan pintu rumah.

Fira mengulurkan tangan membuka pintu rumahnya, terlihat beberapa orang berbaju serba hitam dengan ekspresi wajah dingin berdiri di belakang Carlos Santana sedangkan beberapa orang dengan berpenampilan seperti seorang pengusaha muda berdiri di belakang Fransis, Fransis sendiri berdiri tidak jauh dari Maulana.

Fira tidak mengerti apa yang terjadi di dalam rumahnya, tapi tidak ada yang menakutkan kecuali udara dingin dan tegang antara Carlos Santana dan Maulana atau Jhon William.

Fira menarik nafas dalam lalu mengeluarkan perlahan, ia sudah meyakinkan diri untuk melindungi sang Suami, hatinya merasa dan bahagia melihat sang Suami baik-baik saja.

Gadis itu tersenyum cerah lalu memanggil sang Suami dengan suara riang,"Mas."

Maulana mengalihkan perhatian pada sang Istri, tidak menyangka gadis itu akan datang bersama Ibunya dan Nindi juga Sintia.

Maulana segera bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan cepat mendekati sang Istri, saat ini di dalam rumahnya apapun bisa terjadi, bahkan peperangan antara Carlos Santana dan dirinya mungkin tidak akan terhindarkan dan itu sangat bahaya bagi Istrinya.

Ekspresi dingin di wajah Maulana langsung berubah 180 derajat berganti dengan senyum manis dan tatapan mata lembut saat menyambut gadis cantik berusia 17 tahun itu.

"Sayang, kenapa kamu kemari? Bukankah Mas sudah meminta mu untuk jalan-jalan?"

Fira menoleh sejenak pada Carlos Santana, pria itu tidak memperhatikan dirinya namun dari ruat wajahnya terlihat sangat mengerikan dan berbahaya.

Fira kembali mengalihkan perhatian pada sang Suaminya, berjalan semakin mendekat pada pria itu lalu mengulurkan tangan memeluk pinggang sang Suami.

"Aku ingin selalu bersama Mas, aku tidak ingin jalan-jalan. Mas jangan mengusir ku lagi." Suara Fira terdengar lirih, ia semakin mengeratkan pelukannya pada sang Suami.

"Mereka orang jahat kan? Aku tidak ingin Mas sendirian melawan penjahat." Fira takut namun berjuang untuk tetap berani, ia sangat percaya bahwa Maulana akan selalu melindunginya.

Maulana membalas pelukan sang Istri, ia tersenyum bangga melihat gadis tercintanya tetap memilih bersamanya meski Catherine telah menceritakan siapa dirinya.

"Baiklah, Mas tidak akan memintamu pergi lagi."

Fira merasa senang, perlahan ia menarik diri dari pelukan sang Suami.

Carlos Santana melirik ke arah Fira dengan senyum licik, perlahan ia bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati Fira.

Maulana memutar tubuh ke arah Carlos Santana saat merasakan pria paruh baya itu mendekat, Maulana bersikap waspada dan menyembunyikan Fira di belakang punggungnya, tatapan Maulana berusaha tajam dan dingin.

Carlos Santana menghela nafas berat lalu berkata,"Istrimu cantik, Jhon."

Fransis berjalan mendekati Fira lalu meraih tangan gadis itu lalu menjauhkan dari Maulana dan Carlos Santana, Fira memperhatikan tangan Fransis, ia berusaha menarik lengannya namun cengkraman tangan pria itu terlalu kuat.

" Pak Fransis. Kenapa Bapak menjauhkan ku dari Mas Ivan?" Fira tidak mengerti saat dirinya di letakkan di antara para pria yang memakai setelan pakaian orang kantoran.

"Anak kecil, kamu diam di sini. Kamu lihat orang itu?" Jari telunjuk Fransis mengarah pada Carlos Santana. Fira mengikut arah telunjuk pria blonde tersebut.

"Dia orang jahat kan?"

Fransis mengangguk."Pintar, kamu jangan disana! Biarkan Ivan yang mengurus semuanya, kalau kamu di dekatnya, itu akan membuatnya lemah."

Fira tidak terima dengan ucapan Fransis, kedua alisnya seperti hampir menyatu, ia menunduk lalu melepas sepatu miliknya dan memutar tubuh memukulkan sepatu itu pada Fransis.

"Aduh, hei!"

Anak buah Fransis reflek mencekal kedua tangan Fira lalu memiting kebelakang hingga membuat gadis itu berteriak kesakitan.

Maulana mendelik tajam menatap anak buah Fransis, Fransis langsung menyuruh anak buahnya melepaskan pitingan pada lengan gadis itu.

"Sudahlah, kalian dengar ya... Jangan sentuh gadis kecil ini, dia ini Istrinya Jhon William, ketua kalian. Dia tidak akan menyakiti ku." Fransis meraih tangan Fira lalu mengusap pelan memastikan tidak sakit.

Fransis menghela nafas lega melihat tatapan mata Maulana kembali fokus pada Carlos Santana, Fransis mengenal Maulana saat dirinya juga seorang Mafia di Eropa, ia tahu betapa kejam dan tidak berperasaan pria itu terhadap siapapun, untungnya dirinya berada di pihak Maulana kalau tidak mungkin sekarang hanya tinggal nama.

"Jangan pernah menyentuh Istri ku!" Maulana mendesis memberikan peringatan pada Carlos Santana.

Carlos Santana mengangkat kedua bahu, ia pura-pura tidak mengerti arti ancaman.

Carlos Santana sedikit memajukan wajahnya pada Maulana, memiringkan kepala ke arah telinga lalu berkata,"Kecuali kamu bersedia kembali ke Eropa bersamaku."

Maulana melirik tajam Carlos Santana, ia menarik sudut bibirnya ke atas lalu menolak keinginan Carlos Santana,"Jangan harap."

Carlos Santana menarik nafas sambil memejamkan matanya sejenak, seorang Jhon William tidak pernah berubah setiap kali membuat keputusan, keras kepala dan susah dibujuk.

Saat Jhon William masih mudah bahkan sangat membutuhkan pekerjaan, ia sangat kesusahan menundukkan pria itu apalagi sekarang seorang Jhon William telah berubah menjadi Ivan Maulana Rizky dengan harta melimpah ruah, semakin sulit untuk dibujuk.

Carlos Santana menarik kembali wajahnya menjauhkan dari wajah Maulana, kelopak mata itu terangkat ke atas menunjukkan warna mata safir yang dingin dan sangat berbahaya.

"Kamu tetap keras kepala dan tidak berubah." Suaranya terdengar berat.

Maulana diam tidak menanggapi ucapan Carlos Santana, namun ia tetap penasaran dengan kata Ayah yang keluar dari mulut pria itu.

Maulana melirik Catherine sejenak, mungkin setelah Carlos Santana pergi,  ia akan menanyakan sendiri tentang kata Ayah yang keluar dari mulut pria itu.

Suami Terbaik 2 Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang