Episode 112(122)

20 4 0
                                        

Maulana duduk santai di atas ranjang UKS, laptopnya terbuka dan menyala, menampilkan layar meeting yang penuh dengan wajah-wajah serius dari para dewan Direksi Perusahaan Mizuruky. Mereka membahas tentang proyek baru yang sangat penting, yaitu penemuan sumber berlian baru di Afrika Selatan. Maulana memberikan analisis yang tajam tentang potensi keuntungan dan risiko yang terkait dengan proyek ini.

"Menurut saya, kita harus mempertimbangkan faktor lingkungan dan sosial dalam proses penambangan," kata Maulana, sambil menatap layar laptop dengan serius. "Kita tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama seperti yang terjadi di beberapa proyek sebelumnya."

Dewan Direksi lainnya memberikan tanggapan yang positif terhadap saran Maulana, dan mereka mulai membahas tentang strategi untuk mengimplementasikan proyek ini dengan cara yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Setelah 30 diskusi, mereka akhirnya mencapai kesepakatan tentang langkah-langkah yang harus diambil untuk memajukan proyek ini. Maulana menutup laptopnya, merasa puas dengan hasil meeting tersebut. "Saya rasa kita telah membuat keputusan yang tepat," katanya kepada dirinya sendiri, sambil tersenyum.

Maulana menoleh pada selang infus di tangannya, Fransis memasang infus saat setelah memeriksa kondisi tubuhnya, sekarang entah kemana pria rambut kuning itu pergi.

Di depan pintu ruang UKS, Kevin dan kedua temannya tertegun melihat Maulana melakukan meeting."Apakah Pak Ivan akan pergi ke Afrika?"Rendi salah satu teman Kevin bertanya.

"Aku tidak tahu." Kevin kembali melangkahkan kaki memasuki ruang UKS, ia berjalan ke ranjang sebelah milik Maulana.

Kevin merebahkan diri di ranjang tersebut, ia memegangi pipinya, rasa panas dan nyeri akibat tamparan dari Sui.

Maulana menutup laptopnya kemudian menaruhnya di meja kecil sebelah tempat tidurnya, ia mengalihkan perhatian pada Kevin, murid kelas 3A itu tidak menyapanya bahkan setelah melihat, dirinya juga terasa malas untuk bicara.

Tak lama kemudian Sui dan Fransis datang, Sui berjalan mendekati Maulana dan duduk di kursi terbuat dari plastik yang ada di dekat tempat tidur pria bermata safir itu.

Kevin langsung duduk saat melihat Sui, jantung berdebar kencang mengingat betapa keras tamparan dari Sui.

Fransis mengambil obat-obatan lalu mulai mengobati pipi merah akibat tamparan Sui."Kenapa kamu bisa bicara tidak punya sopan pada seorang wanita?"

Kevin tidak menjawab, ia melirik Maulana, dirinya tidak yakin akan baik-baik saja jika bicara jujur.

"Frans, kapan infus ini akan habis?" Maulana bertanya dengan tidak sabar.

"Cerewet, diam saja di sana." Fransis masih sibuk merawat wajah bengkak Kevin.

"Kenapa dengan wajah Kevin?" Maulana memiringkan kepala melihat wajah murid kelas 3A itu, ia baru menyadari kalau pipi Kevin merah seperti bekas tamparan.

"Dia ingin menghamili Istri mu, jadi ku tampar." Sui dengan tenang dan santai menjawab.

Mata Maulana berkilat tajam mendengar jawaban Sui tentang Kevin."Apa itu benar, Kevin?"

"Saya hanya becanda kok, Pak. Saya hanya ingin membuat Antonio marah saja, saya tidak bohong, Pak." Kevin menatap Maulana takut, sesekali melirik Sui Kazami, berharap pria itu tidak akan memukulnya lagi.

Maulana mengangguk."Kamu sudah minta maaf padanya?"

"Belum, Pak. Saya sudah ditampar duluan oleh Kakak rambut hijau itu." Kevin memalingkan muka tidak berani menatap Sui.

"Nanti minta maaf padanya, meski bukan pada Fira, kamu tidak boleh bicara seperti itu para wanita manapun selain Istri mu. Itu sama saja kamu melecehkan kehormatan seorang wanita." Maulana menghela nafas, ia sangat marah namun melihat wajah Kevin sudah merah seperti itu, ia tidak tega untuk kembali marah atau menambahkan tamparan.

"Baik, Pak." Kevin mengangguk terpaksa. Ia terdiam sejenak memperhatikan Maulana, Sui dan Fransis, Maulana saja sudah mengerikan sekarang malah ada Sui dan Fransis, mereka tidak terlihat kuat namun lebih menakutkan daripada Ayahnya.

Di dalam kelas 3F.

Edo berdiri di depan kelas memberikan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, suaranya terdengar serak karena terus bicara namun tidak ada yang mendengarkan penjelasan dari Edo, semua sibuk dengan kegiatan masing-masing bahkan Naira terus mengganggu Fira dengan berbagai macam pertanyaan.

Edo menghela nafas panjang, kepala terasa mendidih setiap kali masuk ke dalam kelas 3F, sekarang semakin parah terlebih setalah beberapa hari lalu dirinya marah-marah pada Maulana, seakan murid kelas 3F balas dendam padanya.

Antonio memutar tubuh ke belakang."Ngga, besok kamu ke lapangan sama siapa?"

Angga masih sibuk merapihkan rambutnya."Nebeng kamu bagaimana?"

"Nggak apa-apa si, sebenarnya aku ingin sama Fira, tapi pasti Pak Ivan yang sama Fira." Antonio mendesah kecewa.

"Ya kau si, Istri orang dipacari. Memangnya nggak ada gadis lain?" Angga pura-pura, sedangkan ia sendiri juga memiliki perasaan pada Fira, hanya tidak seberani Antonio untuk bersaing dengan Maulana.

Edo naik pitam melihat Antonio dan Angga ngobrol sedangkan dirinya sedang menjelaskan materi."Antonio! Angga!"

Antonio tidak peduli, ia memang terkenal murid kurang ajar dan suka melawan, bahkan sering mendapatkan surat untuk memanggil orang tuanya, namun tidak pernah digubris dan Gino Hernandez selalu menyelesaikan masalah anaknya dengan kekuasaan serta ancaman.

Hingga dua bulan yang lalu Maulana datang sebagai Guru sekaligus Wali Kelas 3F, sama seperti biasa, Antonio membuat keributan bahkan membawa sajam di dalam kelas.

Maulana yang terbiasa dengan sajam, dengan dunia gelap, tidak terkejut atau panik, dengan mudah ia melumpuhkan Antonio.

Gino Hernandez Ayah Antonio pernah datang ke sakolah dengan niat membuat perhitungan dengan Wali Kelas baru Antonio, namun berubah menjadi tunduk dan hormat saat mengetahui bahwa Maulana dan Mizuruky Ivan adalah orang yang sama.

"Ngapain si Pak, teriak-teriak?!" Antonio memutar tubuh lalu bangkit dari tempat duduknya, berjalan dengan angkuh mendekati Edo.

Edo mundur beberapa langkah kebelakang."Kamu mau apa?"

"Kenapa?" Antonio semakin mendekat dengan ekspresi wajah dingin.

"Mau lapor sama Pak Ivan? Apakah Bapak tidak bisa selain membuat masalah dengan Pak Ivan?!" Antonio membentak Edo, tatapan matanya mendelik dengan rahang wajah mengeras.

Edo semakin mundur hingga terpojok di dinding, tubuhnya menegang ketakutan, ia bukan tidak tahu seperti apa kurang ajarnya Antonio bahkan beberapa Guru yang menjadi Wali Kelasnya masuk rumah sakit hingga memutuskan berhenti mengajar di SMA Dirgantara.

Fira menggelengkan kepala melihat sikap Antonio, ia meraih ponsel miliknya lalu merekam sikap Antonio kemudian mengirim video itu pada Maulana.

Di UKS, Maulana menghela nafas melihat sikap Antonio, rupanya anak itu masih menaruh dendam pada Edo, ia melihat infusnya, ternyata belum habis.

"Frans, kapan habisnya infus ini?" Maulana sangat tidak sabar menunggu, ia tidak ingin membiarkan Edo ketakutan dan terkena mental akibat sikap Antonio.

Fransis terkekeh melihat Maulana tidak sabar, ia pun segera melepas selang infus di tangan Maulana."Kamu ini tidak pernah berubah, kondisi belum benar-benar pulih, sudah memaksakan diri."

"Berhentilah cerewet." Maulana merapikan bajunya, tidak sabar tangannya menarik telinga Antonio.

Suami Terbaik 2 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang