Hubungan antara Carlos Santana dan Ivan Maulana Rizky bukanlah hubungan biasa, secara biologis mereka adalah anak dan Ayah namun Maulana tidak mengetahui, yang dia tahu bahwa Carlos Santana mantan Ketuanya saat dirinya berada di German menjadi Mafia.
Catherine diam sejenak memikirkan ucapan Maulana, pria itu memintanya ke hotel bersama Fira dan yang lain, bagaimana kalau nanti Carlos Santana mengatakan tentang hubungan biologis antara mereka?
Catherine yakin Maulana akan menolak kebenaran itu karena dari kecil saat dilahirkan yang dia tahu Ayahnya adalah Mizuruky Sinya atau pria itu lebih suka dipanggil Steven.
Maulana memutar tubuh ke arah Catherine, keningnya berkerut melihat kecemasan dan keraguan di wajah wanita itu.
"Ada apa, Ibu?"
Catherine mengangkat pandangan menatap sang buah hati, ia tidak yakin semua akan baik-baik saja jika dirinya tidak ikut menemui Carlos Santana.
"Ibu akan ikut dengan mu." Sorot mata wanita itu penuh keyakinan.
Maulana menaikkan sebelah alisnya, tidak percaya jika Catherine akan mengatakan itu.
Maulana tidak pernah tahu ada hubungan antara Catherine dan Carlos Santana selain wanita itu tidak suka karena dirinya pernah menjadi seorang Mafia dan hampir kehilangan nyawa di tahan Carlos Santana.
Maulana meraih tangan Catherine, menaruh telapak tangannya di atas punggung tangan wanita itu lalu berkata,"Ibu, Carlos Santana bukan orang sembarangan. Aku tidak ingin Ibu dalam bahaya, biar aku sendiri yang akan menemuinya."
Catherine menarik tangannya dari genggaman sang buah hati dengan cepat, ia tidak setuju dengan keputusan Maulana, Carlos Santana tidak sendirian dan Maulana sendirian.
Catherine yakin kalau Carlos Santana pasti membawa senjata tajam dan memiliki niat jahat, meski Maulana bisa ilmu beladiri tapi sebagai seorang Ibu dirinya sangat khawatir.
"Ibu tidak setuju kamu pergi sendirian, Van!" Suara Catherine berubah meninggi, panik dan cemas hingga wanita itu tak mampu mengontrol emosi.
Dari lantai 2 depan ruang kesehatan Fransis mengerutkan kening melihat Catherine terlihat ketakutan, Fransis mengalihkan perhatian pada rumah Maulana yang terletak tidak jauh dari sekolah.
Fransis mengangguk mengerti alasan ketakutan dan kepanikan dari Catherine, ia mengambil ponsel dari saku jasnya lalu menghubungi seseorang setelah itu membalikan tubuh dan melangkahkan kaki meninggalkan tempat tersebut.
Langkah demi langkah diambil oleh Fransis dengan terburu-buru, setelah sampai di anak tangga terakhir ia berlari menuju Maulana di depan sekolah.
"Van ..."
Maulana mengalihkan perhatian pada Fransis, tatapan Fransis menunjukkan bahwa pria itu mengetahui apa yang terjadi.
Maulana menghela nafas, ia melirik sang Istri, gadis itu terlihat mulai khawatir dengan apa yang terjadi namun ia juga tidak bisa menjelaskan untuk sekarang.
"Mas, aku baik-baik saja." Fira tidak ingin pria itu semakin bingung dengan keputusan apa yang harus diambil.
Maulana tersenyum penuh arti, ia merasa sangat bersalah karena tidak mampu jujur dengan Istrinya tentang masa lalunya.
"Tante, Tante pergi saja bersama Fira. Aku akan menemani Ivan, tadi aku sudah menghubungi anak buahku." Fransis berkata dengan suara rendah, di sekitar sekolah masih ramai, ia tidak ingin menimbulkan kekhawatiran pada para murid atau Guru yang masih berada di area sekolah.
Catherine terdiam memikirkan ucapan Fransis, meski masih ada keraguan namun ia mengangguk dan berkata,"Baiklah."
Perlahan Catherine memutar tubuh dan berjalan selangkah demi selangkah mendekat pada Fira.
"Nak, ayo kita pergi mencari hotel." Catherine berkata dengan senyuman, ia tidak ingin menantunya itu tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Catherine meraih tangan Fira dan membawa gadis itu masuk ke dalam mobil miliknya diikuti dengan Nindi dan Sintia.
Setelah mobil sedan hitam milik Catherine tidak terlihat lagi, Maulana memutar tubuh menepuk bahu Fransis.
Fransis mengangguk, ia kembali masuk ke dalam sekolah, berlari cepat menuju tempat parkir roda empat dan masuk ke dalam mobil.
Fransis segera memutar kemudi keluar dari sekolah, melihat mobil putih milik Fransis keluar pagar sekolah, Maulana berjalan cepat menutup pintu gerbang lalu menguncinya setelah dilihat tidak ada lagi orang di dalam sekolahan.
Maulana segera memutar tubuh dan berjalan cepat menuju mobil Maybach hitam miliknya lalu masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobil itu menuju rumahnya.
Carlos Santana sedikit memutar tubuh begitu melihat dua mobil berhenti di depan pintu gerbang, mata pria tua itu menyipit kala melihat dua orang yang keluar dari dua mobil tersebut.
Maulana membuka pintu mobil lalu keluar dari mobil dan menutup pintu mobilnya kembali, berjalan selangkah demi selangkah dan berhenti beberapa langkah dari tempat Carlos Santana berdiri, diikuti dengan Fransis berdiri di samping Maulana.
Tatapan Maulana yang biasanya lembut dan hangat berubah tajam dan serius, di balik jas hitamnya telah tersimpan senjata api bilamana harus bertarung.
Carlos Santana tersenyum melihat sikap Maulana, sebelum memutuskan ke Indonesia, ia telah mencari informasi tentang Maulana dan dikabarkan pria itu adalah seorang Guru SMA yang sangat ramah tapi nyatanya seorang yang berdiri di depannya adalah John Willian seorang Mafia kejam dengan tatapan tajam dan dingin.
Maulana melangkahkan kaki melewati Carlos Santana menuju gerbang rumahnya, bukan tanpa alasan ia melakukan itu.
Tidak sampai 1 km dari rumahnya adalah Koramil, jika sampai terjadi keributan bahkan atau sampai terjadi adu tembak, sama saja seperti mengirim undangan secara tidak langsung kepada Babinsa yang ada di Koramil untuk ikut bergabung.
Anak buah Carlos Santana menggerakkan tangan hendak meraih senjata api yang tersembunyi di balik jas mereka, namun Carlos Santana mengangkat tangan memberi isyarat agar mereka menahan diri.
Fransis tersenyum sinis melihat sikap Carlos Santana, rupanya pria itu telah mengamati sekitar tempat tinggal Maulana.
Setelah membuka pintu Gerbang, Maulana memutar tubuh lalu menoleh pada Carlos Santana dan berkata,"Masuklah jika ingin, tapi jangan harap kalian bisa menggunakan senjata api di daerah sini."
Carlos Santana tidak bicara, ia melangkahkan kaki memasuki gerbang diikuti oleh anak buahnya.
Carlos Santana berhenti sejenak lalu memutar tubuh dan menatap Maulana dengan senyum miring kemudian berkata,"Tidak jauh dari sini adalah Koramil, aku tidak bodoh untuk menggunakan senjata api di sini."
"Rupanya seorang Boss Mafia takut juga pada aparat." Maulana mencibir. Pandangan Maulana memperhatikan sekeliling tempat tinggalnya, bibirnya membentuk seringai melihat orang-orangnya telah mengitari tempat tersebut dengan menyamarkan diri menjadi penduduk biasa bahkan ada yang pura-pura ikut kerja sebagai seorang kuli bangunan.
Fransis melangkahkan kaki di belakang anak buah Carlos Santana, sengaja tidak berjalan di samping Carlos Santana agar bisa mengawasi apa yang akan dilakukan anak buah Carlos Santana.
"Kenapa kau tinggal di kota seperti ini? Ini sangat merepotkan." Carlos Santana berdiri di depan pintu rumah Maulana, berdiri sambil berkacak pinggang dengan pandangan memperhatikan sekeliling tempat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomantizmDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
