Episode 103(113)

18 2 0
                                        

"Sayang, jika kamu gemetar dan ketakutan seperti itu, mereka akan curiga dan mengira Mas menculik mu." Maulana menggenggam tangan sang Istri.

Fira melangkahkan kaki beberapa langkah pendek lalu memeluk tubuh tinggi tegap sang Suami."Aku sungguh takut, tadi tegang sekali. Padahal aku hanya di mobil dan sebagai penonton, tapi Mas terlihat sangat tenang dan berpengalaman."

Maulana membalas pelukan sang Istri, entah itu pujian atau sindiran, namun ia mengerti ketakutan dalam diri gadis itu.

"Tenanglah, Mas tidak membunuh siapapun, mereka akan pingsan. Kalau dari kemampuan Grand dan Geits, harusnya mereka sudah kabur meski dengan luka di tubuh."

"Kenapa tidak dibunuh saja?" Fira mendongakkan kepala menatap sang Suami, pria itu memakai kaca mata hitam hingga tidak terlihat mata safir teduhnya.

"Membunuh adalah perbuatan dosa, jika mereka tidak melakukan sesuatu yang menyebabkan kehilangan nyawa, haruskah Mas melenyapkan nyawa mereka?" Maulana menundukkan pandangan menatap paras cantik namun masih sedikit ada raut ketakutan di mata itu.

"Jadi tadi Mas bisa memastikan tidak mengenai titik vital?" Fira bertanya dengan sungguh-sungguh.

Maulana mengangguk."Ya, Mas hanya memberi mereka pelajaran saja. Jika Mas sungguh kembali seperti dulu, Mas tidak akan masuk sendirian melainkan membawa banyak anak buah Mas lalu melenyapkan mereka dan memutilasi tubuh mereka." Ia berkata sambil tersenyum dingin.

Fira bergidik ngeri membayangkan melihat tubuh manusia dimutilasi."Jangan bicara lagi, aku takut." Ia semakin mengeratkan pelukannya pada sang Suami.

Maulana terkekeh, begitu polos dan lugu, sangat tidak cocok berada di dunia hitam, namun beruntung dirinya sudah sadar dan kembali ke jalan yang benar.

Fira melepaskan pelukannya setelah merasa tenang, ia juga melepaskan jaket hitam di tubuhnya lalu diberikan pada sang Suami."Aku tidak terlalu suka pakai jaket."

Maulana menerima jaket itu sambil tersenyum."Tidak apa."

"Kamu mau ikut ke Mension Mizuruky atau kembali ke rumah?" Maulana bertanya dengan lembut.

"Aku ikut Mas, bagaimana kalau mereka balas dendam saat Mas tidak di rumah." Fira langsung memeluk lengan sang Suami.

"Tidak akan terjadi, Mas kenal mereka. Mereka tidak akan melakukannya, apalagi sekarang mereka berjuang agar tetap hidup." Maulana tersenyum sendiri membayangkan mantan teman-teman Mafianya kebingungan mencari tempat untuk menyelamatkan diri, mereka tidak mungkin minta bantuan warga, karena pasti akan dicurigai, terlebih luka mereka selain luka bakar juga luka tembak.

Tak lama kemudian Mizuno datang dengan membawa mobil Maybach hitam, ia menghentikan mobil tidak jauh dari Maulana dan Fira berdiri, kemudian turun dari mobil dan berjalan mendekati Fira dan Maulana.

"Tuan Muda, mobil sudah siap."

Maulana mengangguk, ia menggandeng tangan sang Istri lalu berjalan mendekati mobil Maybach hitam.

Maulana meminta Istrinya masuk lebih dulu, setelah memastikan sang Istri duduk dengan nyaman di dalam mobil, ia ikut masuk ke dalam mobil.

Mizuno segera melajukan mobilnya ke Mension Mizuruky setelah melihat Maulana dan Fira telah duduk dengan nyaman di jok penumpang.

Mension Mizuruky

Nita dan Nadia berdandan dengan rapi dan cantik, mereka berdiri di depan pintu menunggu kehadiran Maulana, rasanya sangat tidak sabar melihat pujaan hatinya.

"Kalian kenapa berdiri di depan pintu?" Maya memandang heran pada kedua Istri Sinya.

"Karena Mas Ivan akan pulang malam ini?" jawab Nita sambil tersenyum bahagia.

Tak lama kemudian sebuah mobil sedan hitam milik Catherine Wilson datang, Maya berjalan menyambut kedua madunya tersebut, bibirnya tersenyum saat melihat Sintia, Nindi dan Catherine keluar dari mobil.

"Maya, apakah Ivan sudah datang?" Catherine berjalan mendekati Maya. Nindi dan Sintia berjalan di belakang Catherine.

"Belum," jawab Maya sambil menggelengkan kepala.

Dahi Catherine berkerut mendengar itu."Dia keluar bersama Fransis dan Sui dari sehabis Asar, aku pikir mereka kemari."

Nita berjalan mendekati Catherine."Ma, apakah aku perlu telpon Mas Ivan?"

Catherine menoleh pada Nita dengan tatapan sengit."Ma? Aku bukan Ibumu, aku juga bukan mertuamu! Ivan bukan Suamimu, jangan panggil aku Mama atau panggil Ivan itu Mas."

Nita menunduk, menyembunyikan kekesalan dalam hati."Dasar wanita tua, berani sekali dia bicara kasar padaku. Aku pasti akan membalas mu."

Tak lama kemudian terlihat mobil Maybach hitam muncul dari balik pintu gerbang, mobil itu berhenti di depan rumah, dua orang keluar dari mobil tersebut.

Nita mengangkat kepala, bibirnya tersenyum melihat Maulana sudah datang.

Nita memutar tubuh berjalan mendekati Maulana, ia menoleh pada Fira sejenak kemudian kembali tersenyum pada Maulana.

"Mas, aku senang Mas akhirnya datang," katanya dengan ceria.

Maulana sedikit pun tidak memperhatikan Nita, ia berjalan melewati gadis itu sambil menggandeng tangan sang Istri.

Fira menoleh ke belakang, terlihat Nita nampak kecewa dengan sikap Maulana.

Fira merasa kasihan dengan Nita, namun dalam hati merasa senang karena pria itu tidak memperdulikan wanita lain selain dirinya.

Catherine mengalihkan perhatian pada Maulana, ia dapat melihat ekspresi kekecewaan anaknya itu saat bertatapan mata dengannya."Van."

Maulana berhenti sejenak."Kita bicara dengan Ayah di dalam, Ibu." Ia sedikit pun tak menoleh pada Catherine, dirinya hanya manusia biasa, saat dibohongi dengan identitas antara Carlos Santana dan dirinya, rasa kecewa itu muncul tanpa bisa ditolak.

Maulana melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, Fira hanya diam tidak berani komentar, baginya itu masalah pribadi antara sang Suami dan kedua orang tuanya.

Di ruang kerja, Mizuruky Sinya sudah menunggu. Saat Maulana dan Catherine datang dan masuk ke dalam, pintu ruang kerja segera ditutup oleh penjaga, namun Maulana tidak mengizinkan Fira di luar hingga gadis itu diizinkan masuk dan bergabung dalam diskusi mereka.

"Van, sebenarnya apa yang terjadi pada mu?" Sinya mengawali pembicaraan saat Maulana, Fira dan Catherine telah duduk dengan nyaman di sofa mewah ruangan itu.

"Ayah, Ibu." Maulana memandang Catherine dan Sinya satu persatu."Apakah Carlos Santana itu adalah Ayah biologis ku?"

Catherine diam tidak bisa menjawab, ia tidak ingin menyakiti hati sang buah hati namun itu adalah kenyataan yang selama ini disembunyikan.

"Kalau iya, memangnya kenapa? Bagi Ayah, kamu tetap anak kandung Ayah. Apakah kamu tidak puas memiliki seseorang Ayah seperti ku?" Sinya dengan santai menjawab, tidak lupa dengan kedua kaki diletakkan di atas meja.

Maulana tersenyum."Aku tahu, tapi kenapa Ayah tidak pernah mengatakannya? Bukankah Ayah merasa sakit ketika Ayah membesarkan seorang anak dari laki-laki lain?"

Sinya menatap Maulana dalam."Karena itu Ayah tidak pernah mengatakan pada siapapun, Ayah tidak ingin kamu pergi mencari si bajingan itu. Dia menculik Ibumu dan menyekap Ibumu, memperkosa Ibumu."

Maulana tersenyum miris, Sinya begitu tulus terhadap dirinya dan Catherine, rasanya tidak pantas jika dirinya masih mempermasalahkan hal ini.

"Maafkan Ibu, Van. Ibu tidak mengatakan padamu, Ibu tidak ingin menyakiti mu." Catherine bicara dengan penuh penyesalan.

"Sudahlah, Van. Sekarang kamu tentukan saja, mau tetap aku menjadi Ayahmu atau ingin si bajingan itu yang menjadi Ayahmu." Mizuruky Sinya menurunkan kakinya, ia menyembunyikan rasa takut dalam hati namun tidak ingin memaksa sang buah hati.

Suami Terbaik 2 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang