Episode 93(103)

39 3 0
                                        

Fira menutup pintu kamar lalu memutar tubuh, ia menyandarkan punggung pada pintu kamar, tidak dapat dibayangkan betapa takut dirinya tadi melihat Carlos Santana.

Fira menghela nafas panjang lalu berjalan ke arah tempat tidur, ia menaruh tas sekolah di atas tempat tidur lalu membaringkan tubuh dengan posisi telentang di samping tas tersebut.

Netra kecoklatan itu menatap langit -langit kamar, Fira hampir tidak percaya kalau ternyata Suaminya adalah mantan Mafia, ia pikir pria itu seorang Ustadz.

Fira memutar tubun menghadap ke samping, merubah posisi tubuh menjadi miring, kali ini ia memperhatikan foto di atas dinding yaitu foto pernikahan antara dirinya dan sang Suami.

Maulana adalah seorang pria yang santun dan penuh tatakrama juga sabar, hingga ia tidak akan pernah berfikir kalau orang semacam itu ternyata mantan Mafia.

Entah ini hanya kebetulan atau anugrah saat dirinya pernah mengharap menikah dengan Mafia tampan seperti di novel Wattpad, sekarang itu jadi kenyataan meski sang Suami hanya mantan Mafia bukan masih seorang Mafia.

Ceklek...

Fira menurunkan pandangan melihat ke arah pintu, terlihat sang Suami menutup pintu lalu memutar tubuh dan berjalan mendekatinya.

Maulana berdiri di depan Fira, tersenyum manis melihat sang Istri memperhatikan dirinya.

Maulana membungkukkan tubuh lalu menaruh kedua tangan di atas tempat tidur, di sisi kanan dan kiri tubuh sang Istri.

Fira menghela nafas melihat tatapan mata Maulana, mata safir itu terlihat takut, sedih dan menyesal.

"Kenapa?"

Maulana semakin merendahkan tubuh lalu memeluk tubuh mungil sang Istri, Fira semakin tidak mengerti, ia hanya bertanya bukan minta dipeluk.

"Maaf, Mas tidak bermaksud menyembunyikan darimu."Suara Maulana berat, tubuhnya bergetar menahan tangis. Ia sangat menyesal pernah menjadi manusia kejam dan di jalan salah.

Fira mengangkat tangan membalas pelukan sang Suami, membelai lembut punggung pria itu dengan penuh kasih sayang.

"Tidak perlu minta maaf, Mas. Aku juga tidak bertanya, waktu itu Mas membelaku saat di meja makan. Mas bilang, seperti apapun masalalu seseorang, semua adalah masalalu. Tidak ada hubungannya dengan masa depan."

Rasa sesak dalam dada perlahan lenyap mendengar ucapan sang Istri, Maulana mengeratkan pelukannya, menarik tubuh mungil itu ke arahnya lalu membalikkan tubuh kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

Fira terkejut karena posisi tubuh tiba-tiba berubah, tadi pria itu di atasnya sekarang dirinya berada di atas tubuh sang Suami.

Maulana terkekeh melihat gadis itu kebingungan, ia mengangkat tangan memeluk pinggang sang Istri dengan satu tangan.

Fira melipat kedua tangan di atas dada sang Suami lalu menaruh dagu di atas lipatan tangannya, mata kecoklatan memperhatikan setiap detail paras tampan sang Suami, dilihat dari sudut manapun pria itu tidak seperti seorang Mafia kejam.

"Sayang, kenapa memperhatikan Mas seperti itu?" Kening Maulana berkerut melihat ekspresi gadis itu.

"Bagaimana seorang Mafia bisa memiliki pancaran mata begitu bersih dan wajah bersinar?" Fira menatap sang Suami masih tidak percaya, ia mengingat kembali Carlos Santana dan anak buah Carlos Santana, mereka semua terlihat mengerikan dan menakutkan, berbeda dengan pria yang berada di bawahnya.

Maulana tersenyum kecil, jika sang Istri melihatnya saat dirinya menjadi seorang Mafia, mungkin tidak akan berbicara seperti itu, karena tidak ada yang namanya pelaku kejahatan itu memiliki pancaran mata yang bersih atau wajah bersinar.

"Sesungguhnya umatku akan dihadirkan pada hari kiamat dengan wajah, tangan, dan kaki yang bercahaya karena bekas-bekas wudhu mereka. Karenanya barangsiapa di antara kalian yang bisa memperpanjang cahayanya, hendaklah dia lakukan Hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Dulu jangankan wudhu, Mas bahkan tidak tahu tata cara berwudhu." Suara Maulana terdengar sendu, ingatan tentang saat dirinya menjadi seorang Mafia kejam membuat dadanya kembali sesak.

Maulana menghela nafas berat."Semua orang saat itu memandang Mas penuh kebencian, ketakutan dan jijik. Berbeda dengan sekarang, karena itu..." Maulana mengangkat tangan mencubit hidung sang Istri.

"Mas tidak tertarik dengan cara pandang mereka terhadap Mas."

Fira kesal, ia mengerakkan tangan mengambil tangan sang Suami yang ada di hidungnya lalu membuang tangan itu sembarangan.

"Mas sangat sayang padamu, sekarang kamu mandi dulu lalu kita makan," kata Maulana lembut.

Fira mengangguk, ia pun berguling ke samping kemudian segera duduk di tepi tempat tidur.

Fira menoleh sejenak pada sang Suami, ia tersenyum sendiri melihat paras tampan Suaminya.

Maulana menoleh ke samping, dahinya berkerut."Kenapa?"

Fira menggelengkan kepalanya kemudian bangkit dan berjalan menuju kamar mandi sambil senyum-senyum sendiri.

Suara dering telepon mengalihkan perhatian Maulana, ia bangun dari posisi tidurnya lalu mengambil tas sang Istri dan membuka tas tersebut.

Maulana mengambil ponsel Istrinya, terlihat nama Iblis jantan tertera di layar telpon, Maulana menaikkan sudut bibirnya melihat kontak nama telpon.

Maulana menjawab panggilan tersebut karena penasaran dengan pemilik kontak tersebut.

"Hallo, Fir. Fira, kamu baik-baik saja kan? Aku melihat banyak pria aneh mengitari rumahmu."

Maulana menghela nafas, ia sangat kenal dengan pemilik suara di sebrang telpon, siapa lagi kalau bukan Antonio Hernandez.

Maulana berdiri lalu berjalan mendekati jendela, ia mengangkat tangan menyibak gorden.

Terlihat beberapa orang mengitari rumahnya, ada yang pura-pura ngobrol, berjalan -jalan ada juga yang pura-pura bekerja sebagai kuli bangunan proyek di dekat rumahnya.

Orang biasa tanpa maksud tertentu tidak akan sering -sering melihat atau memperhatikan rumahnya, namun mata-mata akan sering melakukan itu.

"Hallo, hallo, Fir. Hei, Fira!" Di sebrang telpon, Antonio berteriak memanggil Fira.

Maulana melirik telpon di genggamnya, kemudian mematikan sambungan telpon tersebut tanpa menjawab pertanyaan Antonio.

Maulana mengambil ponsel miliknya lalu menghubungi Fransis, di lantai satu Fransis duduk di sofa sambil menonton TV bersama Nindi.

Nindi sangat kesal dengan Fransis, pria itu tidak bisa tenang saat nonton, chenel kesukaan Fransis adalah tentang penangkapan Teroris atau Agresi Militer, sedangkan Nindi lebih suka sinetron.

"Kuning, aku tidak suka nonton beginian." Nindi bermuka masam dan cemberut.

Fransis melirik sejenak pada Nindi, ia tersenyum tipis tapi tidak mau mengganti chanelnya.

"Kenapa kamu setuju menikah dengan Devan?"

Nindi mengerutkan kening, sejak kapan teman Kakaknya itu peduli dengan hubungannya dengan Devan?

"Aku tidak bermaksud apapun, hanya saja Devan bukan orang yang pantas untukmu." Fransis kembali berkata, ia heran sendiri dengan dirinya, kenapa harus peduli dengan urusan pribadi orang lain.

"Kenapa kamu peduli? Atau..." Nindi menyipitkan matanya curiga.

Fransis kelabakan sendiri, ia memalingkan muka menyembunyikan wajahnya yang memerah, ini pertama kalinya dirinya begitu peduli dengan urusan pribadi seorang wanita.

Nindi mencondongkan wajahnya pada Fransis, matanya menyipit.

Jantung Fransis tiba-tiba berdetak lebih cepat, wajahnya terasa panas merasakan aroma tubuh Nindi.

Suami Terbaik 2 Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang