Episode 101(111)

17 2 0
                                        

"Dalam surat Al Anfal ayat 45 yang artinya, berdzikirlah kepada Allah sebanyak mungkin, supaya kamu untung dan bahagia." Maulana kembali berbicara.

"Apakah tidak ada yang lain selain menyuruh orang dzikir?" Fransis bertanya dengan kesal, dia bukan orang Islam tapi Kristen, hanya saja ia bukan Kristen yang baik karena tidak pernah pergi ke Gereja atau membuka Al Kitab.

Maulana tersenyum kecil melirik Fransis kesal."Kamu ingin aku membacakan Ayat tentang apa? Tentang Yesus atau tentang Nabi Isa?"

"Sebaiknya jangan." Sui menyela pembicaraan.

"Kenapa?" tanya Fira penasaran.

"Perbedaan pandangan antara umat Islam tentang Yesus dan Nabi Isa." Maulana menjawab dengan singkat.

"Nah, itu. Jhon sekarang adalah umat Islam, dia pasti akan menjelaskan menggunakan pandangan seorang Muslim," kata Sui membenarkan penjelasan Maulana.

"Tapi kalian bisa rukun." Fira tertegun sejenak, selama ini ia mengira Fransis adalah seorang muslim juga, namun ternyata seorang Kristen.

"Persahabatan kami dimulai sebelum kami mengenal agama, jadi selama kami tidak saling menghina dan mengejek agama, persahabatan kami tetap utuh," sahut Fransis.

"Benar, saling menghargai dan toleransi terhadap agama orang lain tidak ada salahnya bukan? Mas sendiri tidak terlalu suka membahas agama orang, Mas lebih ingin fokus pada agama Mas sendiri. Selain itu, sebagai Umat Islam, Allah melarang Hambanya untuk menghina Tuhan agama lain." Maulana kembali melirik  Fira dari kaca spion mobil.

"Dalam surat Al An-am ayat 108

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Janganlah kamu memaki (sesembahan) yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa (dasar) pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Karena itu Mas tidak pernah membahas agama dengan mereka, kecuali mereka ingin belajar tentang agama Islam." Maulana bicara sambil tersenyum.

Maulana, Fira, dan Fransis tiba di lokasi yang tidak jauh dari tempat Sean disekap, mereka melihat situasi sekitar dengan hati-hati. Sui, yang memantau situasi melalui laptop, memberikan informasi tentang penjagaan yang ketat di sekitar tempat penyekapan.

"Lokasi itu sangat dijaga, banyak orang bersenjata yang berpatroli di sekitar area," kata Sui, sambil menatap layar monitor laptopnya.

Maulana memperhatikan situasi sekitar, lalu melihat mobil khusus yang mereka gunakan sebelumnya. "Kita akan menggunakan mobil itu untuk mendekati lokasi. Fitur anti-peluru dan keamanannya akan membantu kita melewati penjagaan yang ketat," katanya.

Fransis mengangguk setuju, "Ya, mobil itu sangat berguna dalam situasi seperti ini. Kita harus berhati-hati dan siap menghadapi apa pun yang terjadi."

Fira memperhatikan layar monitor laptop Sui, "Berapa banyak orang yang berjaga di sekitar lokasi?" tanyanya.

Sui memperbesar gambar di layar, "Sekitar 10 orang, semuanya bersenjata. Kita harus sangat berhati-hati saat mendekati lokasi."

Maulana memberikan instruksi, "Baiklah, kita akan menggunakan mobil khusus itu untuk mendekati lokasi. Fransis, kamu siap mengemudi?"

Fransis mengangguk."Siap, aku akan mengemudi dengan hati-hati dan cepat."

Dengan rencana yang sudah disusun, mereka bersiap untuk melakukan aksi penyelamatan Sean.

Maulana menepikan mobilnya lalu bertukar posisi dengan Fransis, kini ia yang duduk di jok belakang dan Fransis bagian kemudi.

"Mas, apakah mobil ini akan menabrak orang-arang itu?" Fira ketakutan, tubuhnya tegang membayangkan yang akan mereka lakukan.

Maulana mengeluarkan Glock 19 dari dalam tasnya, pistol yang sama yang pernah dia gunakan sebelumnya. Dia memeriksa pistol itu dengan hati-hati, memastikan bahwa semuanya berfungsi dengan baik.

Di dalam mobil itu, Maulana bersiap untuk menyerang, dia memasang peluru ke dalam pistol dan memeriksa lagi apakah semuanya siap. Sui dan Fransis juga bersiap, mereka memakai sarung tangan dan masker untuk melindungi identitas mereka.

"Fransis, kamu siap mengemudi?" tanya Maulana.

"Siap," jawab Fransis, sambil memasang gigi mobil.

Maulana memberikan instruksi terakhir."Kita akan mendekati lokasi dengan cepat, lalu aku akan keluar dan menyerang penjagaan. Sui, kamu siap memberikan bantuan?"

Sui mengangguk."Siap, aku akan membantu dari dalam mobil."

Dengan rencana yang sudah disusun, mereka bersiap untuk melakukan aksi penyelamatan Sean. Mobil khusus itu mulai bergerak, mendekati lokasi penyekapan dengan kecepatan yang terkendali.

Maulana mengalihkan perhatian pada sang Istri."Sayang, apakah kamu takut?"

Fira mencengkram erat kain bajunya, kepalanya menggeleng namun pancaran mata kecoklatan itu tidak bisa dibohongi.

"Sayang, kamu jangan keluar dari mobil apapun yang terjadi. Percayalah, Sean akan baik-baik saja." Maulana bicara dengan lembut.

"Bagaimana dengan Mas?" Fira sangat khawatir dengan keselamatan sang Suami, ia melirik kembali para penjaga tempat Sean disekap, mereka semua terlihat mengerikan.

Maulana mengeluarkan ponsel lalu menyerahkan pada sang Istri." Kamu bisa menonton drama China kesukaan mu, tutup telinga mu dengan handset, jangan pikirkan yang terjadi di luar."

Maulana mengeluarkan handset dari tas kecil milik sang Istri lalu memasangkan pada telinga gadis itu."Sayang, berdoalah kepada Allah, karena doa Istri untuk Suaminya tidak tertolak."

Fransis memutar bola matanya malas."Kan tadi aku sudah bilang jangan ikut, kamu hanya jadi beban."

"Berhentilah komentar, kuning!" Maulana menimpuk kepala Fransis dengan bantal kecil.

Fira merasa bersalah, ia merasa apa yang dikatakan Fransis sangat benar, belum apa-apa dirinya sudah ketakutan.

"Semua bersiap!" Maulana bersiap dengan Glock 19 miliknya.

"Siap!" jawab Fransis dan Sui bersamaan.

Maulana turun dari mobil, pistol Glock 19 siap di tangannya. Dia melihat sekeliling, memastikan bahwa tidak ada bahaya yang mengintai. Lalu, dia mulai bergerak menuju tempat Sean disekap.

Saat mendekati lokasi, Maulana melihat penjaga yang berjaga di sekitar area. Penjaga itu langsung menembak ke arah Maulana saat melihatnya. Maulana dengan cepat mengambil cover di balik tembok, lalu membalas tembakan.

Suara tembakan bergema di udara, Maulana dan penjaga terlibat dalam adu tembak yang sengit. Maulana menembak dengan tepat, mengenai beberapa penjaga yang mencoba menghalangi jalannya.

Maulana terus bergerak maju, dia menembus garis pertahanan penjaga dan mendekati pintu masuk tempat Sean disekap. Dengan sekali tendang, pintu terbuka, dan Maulana siap untuk menghadapi apa pun yang ada di dalam.

Namun, sebelum masuk, Maulana memastikan bahwa area sekitar aman. Dia melihat beberapa penjaga yang terluka atau tewas di tanah, lalu dia memasuki tempat penyekapan dengan hati-hati.

Suami Terbaik 2 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang