Pelan, Maulana menekan kedua telapak tangannya ke sisi tempat duduknya, mengumpulkan kekuatan sebelum akhirnya mendorong tubuhnya ke atas. Gerakan itu masih terasa berat, semburat nyeri menyelinap di perutnya, mengingatkan bahwa rasa sakit belum sepenuhnya pergi. Ia menarik napas perlahan, membiarkan paru-parunya mengisi dengan udara yang dingin dan sedikit menusuk, lalu menghembuskannya pelan, seolah mencoba menenangkan denyutan yang masih tersisa.
Fira mengalihkan perhatian pada sang Suami, saat pria itu hendak berjalan, ia bertanya,"Mas mau kemana?"
"Mas mau mandi, ganti baju lalu sholat dhuhur. Setelah itu kita ke lapangan bersama," Maulana menjawab dengan lembut.
Fira mengangguk, ia kembali mengalihkan perhatian pada mangkuk mie di atas meja dan memakannya dengan tenang.
Saat Maulana mulai melangkah, ada jeda kecil dalam setiap ayunan kakinya, seolah tubuhnya tengah menakar batas kenyamanan. Langkah pertama terasa ragu, tapi begitu yang kedua menyusul, ritme yang nyaris alami mulai terbentuk. Ia menjaga punggungnya tetap tegak, meski di tiap gerakan, ada ketegangan yang masih menggantung di otot-ototnya.
Koridor menuju lift terbentang di depannya, cahaya lampu putih membayang di lantai mengilap. Setiap langkah yang ia ambil terdengar samar di ruang yang lengang, jejak suara kecil yang berpadu dengan desah napas yang teratur. Sesekali, ia merasakan sentuhan nyeri yang kembali menyengat, cukup tajam untuk membuatnya sedikit menarik napas lebih dalam, tapi tidak cukup untuk menghentikannya.
Saat pintu lift semakin dekat, Maulana meluruskan bahunya, seolah menantang rasa sakit untuk tidak lebih jauh menghambatnya. Telapak tangannya terangkat, menyentuh tombol panggil dengan sedikit tekanan yang disengaja. Kini ia berdiri di sana, merasakan denyutan samar yang masih tertinggal, tapi ia tahu, dirinya bisa bertahan.
20 menit kemudian, Maulana kembali, ia terdiam sejenak melihat tangan Fira menarik rambut Antonio dengan keras membuat Antonio meringis kesakitan.
"Aduh, Fir! Sakit tau?!" Antonio berusaha melepaskan tangan mungil gadis itu dari rambutnya.
Fira bangkit dari duduknya, berdiri sambil berkacak pinggang menatap Antonio dengan amarah membakar dada.
"Aku beritahu padamu! Kamu pikir aku peduli dengan siapa dirimu?!" Tatapan mata gadis itu sangat tajam dan penuh marah.
Antonio mengelus kepalanya, jambakan tangan Fira menyisakan rasa panas di kepala, ia mengangkat pandangan menatap gadis itu lucu."Ya ela, Fir. Aku kan hanya bilang, dari pada kamu sandaran sama Pak Ivan, bersandarlah padaku. Aku jauh lebih kuat dari Pak Ivan, aku memiliki tubuh sehat dan kuat!" Ia berkata dengan penuh percaya diri.
Fira mengangkat satu kaki lalu meletakkan di atas meja, tubuhnya sedikit membungkuk dan matanya semakin berkilat tajam."Kamu kuat dari mana?" Nadanya seperti sedang merendahkan.
"Mas Ivan itu jauh lebih kuat daripada kamu." Ia melanjutkan ucapannya dengan penuh keyakinan.
Maulana mengerjapkan matanya beberapa kali melihat kaki Istrinya berada di atas meja, cara dia marah tidak seperti gadis lembut dan penuh pengertian, lebih terlihat seperti preman dan Antonio terlihat seperti korban yang memohon belas kasihan.
Antonio tersenyum sinis."Kamu bahkan tidak tahu kalau Pak Ivan sekarang sangat lemah, tidak seperti dulu yang sangat kuat." Ia berkata dalam hati.
Maulana berjalan mendekati sang Istri, memeluk tubuh gadis itu dari belakang."Istriku, turunkan kakimu. Tidak pantas bagi seorang gadis cantik menaruh kaki si atas meja, apalagi sambil marah-marah dan berkacak pinggang." Ucapannya sangat lembut serta penuh kesabaran.
Panas perlahan merambat ke wajah gadis itu, membakar pipi dengan rona merah yang tidak dapat disembunyikan.
Perlahan ia menurunkan kaki dari atas meja.
Kepala tertunduk, saat jemari lentik sang Suami menyentuh tubuhnya dengan lembut dan memutarnya agar menghadap ke arahnya.
Mata jernih itu tak berani memandang sosok pria rupawan di depannya, saat ini ia berharap bumi cukup murah hati untuk terbelah dan menelan mereka, tangan kecilnya berusaha menutupi wajah.
Maulana menarik dengan lembut gadis itu ke dalam dekapannya, ia tidak tahu sampai kapan dirinya bisa seperti ini, sekarang tubuhnya semakin melemah, mudah lelah dan penyakitnya sering kambuh.
Maulana ingin, setiap detik yang dilalui adalah bisa membuat gadis kecil itu merasa bahagia.
"Maaf." Suara Fira bergetar dengan jantung berdebar, ia sangat malu karena ketahuan bersikap tidak sopan.
"Tidak perlu minta maaf, peluklah Suamimu ini." Maulana berkata dengan lembut.
Fira mengangguk, ia menggerakkan tangan membalas pelukan sang Suami, hangat dan tenang, itu yang selalu dirasakan saat tubuh mungilnya berada dalam dekapan tubuh tinggi tegap sang suami.
Tanpa terasa air mata Antonio menetes namun segera dihapus, apa yang dilakukan Maulana seakan memberi isyarat bahwa pria itu tidak yakin bisa menemani Istrinya dalam waktu yang lama.
Antonio takut kalau Maulana akan pergi dengan cepat dan tidak akan pernah kembali, ia bangkit dari tempat duduknya lalu merapikan baju serta menyisir rambut.
"Pak Ivan tidak perlu khawatir, saya pasti akan menjaga Fira dengan baik. Saya bisa menggantikan posisi Bapak sebagai Suami Fira." Setiap kata yang keluar dari bibirnya disusun dengan hati hati, suaranya yang tenang serta penuh keyakinan yang tak tergoyahkan.
Tersimpan kelembutan dalam nada bicara itu, tidak seperti biasanya seakan ingin menenangkan seseorang bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Namun di balik ketenangan itu, terdapat ketakutan yang tidak bisa disembunyikan, takut kalau Wali Kelasnya itu akan segera pergi untuk selamanya.
Maulana menatap Antonio dengan tatapan yang sulit dijelaskan, perasaan kesal bercampur dan ingin melakukan sesuatu yang drastis pada muridnya itu.
Mata safir Maulana menyipit sedikit, bukan karena marah tapi rasa gemas yang menumpuk saat mendengar ucapan Antonio.
Alisnya bergerak sedikit, naik turun dengan cepat seakan berkata,"Berani bicara lagi, ku lempar kamu ke laut."
Tatapan itu bertahan untuk beberapa detik, kemudian menghembuskan nafas berat saat menyadari bahwa Antonio hanya khawatir padanya.
Antonio menelan ludah, sepertinya Maulana masih kuat dan bisa membuatnya masuk rumah sakit kalau sedang marah.
Antonio nyengir."Ehehehe, saya becanda, Pak."
Perlahan Maulana melepaskan pelukannya pada tubuh mungil Istrinya, seperti biasa, ia akan menggendong gadis itu.
Maulana menarik napas dalam sebelum mengangkat tubuh Fira ke dalam pelukannya, menyangga tubuh istrinya dengan satu lengan yang mantap di bawahnya, sementara kaki Fira bergelantungan di kedua sisi pinggangnya. Dada Maulana menjadi sandaran bagi Fira, kehangatan yang sudah begitu akrab bagi mereka berdua.
Ia melakukannya dengan alami, seperti biasa, seolah tidak ada yang berubah, seolah tubuhnya masih sekuat dulu. Tatapan Maulana tetap tenang, bibirnya bahkan melengkung dalam senyum kecil, memastikan bahwa gerakannya tidak mengundang sedikit pun kecurigaan dari Fira. Ia tidak boleh menunjukkan kelemahan. Tidak boleh membiarkan istrinya melihat bahwa setiap tarikan napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya.
Tangan Fira refleks melingkar di leher Maulana, jemari lembutnya bertumpu di bahunya, seakan mencari kenyamanan yang tak pernah gagal ditemukan di sana. Ia tersenyum kecil, matanya berkilat lembut saat menatap wajah suaminya, tak menyadari bahwa di balik ketenangan itu, Maulana diam-diam menggenggam sisa kekuatannya agar tetap terlihat seperti dirinya yang selalu kokoh.
Namun, di dalam tubuhnya, ada ketegangan yang tak bisa diabaikan. Otot-ototnya mulai menjerit pelan, memberi peringatan yang ia abaikan begitu saja. Beban Fira terasa sedikit lebih berat dibanding sebelumnya, bukan karena istrinya berubah, tetapi karena tubuhnya sendiri yang perlahan kehilangan tenaga. Tapi tetap, ia bertahan. Ia tidak mengendurkan genggamannya, tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan, tidak membiarkan napasnya terdengar lebih berat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
