Berbagai macam jenis belanjaan telah ditenteng Catherine, Sintia juga Nindi. Mereka sangat bahagia karena bisa belanja banyak barang mulai dari baju, kosmetik, tas juga sepatu serta perhiasan mahal.
Ketiga wanita itu memutuskan untuk kembali ke rumah, saat turun dari mobil, Catherina terkejut menyadari seseorang pria memakai jaket kulit panjang berdiri di depan pintu gerbang.
Di sekitar pria itu terdapat beberapa pria bertubuh besar dan sangar, Catherine memutar kembali kemudian membelokkan arah mobil ke arah SMA Dirgantara.
Sintia dan Nindi memandang bingung pada Catherine, wanita itu sejak di mall ingin segera kembali ke rumah namun baru sampai jarak beberapa meter dari pintu gerbang langsung putar arah.
Catherine menghentikan mobil di depan SMA Dirgantara, terlihat satpam membantu para murid menyebrang jalan raya dan beberapa Guru serta murid berjalan di halaman namun tidak melihat sang buah hati.
Sintia dan Nindi semakin tidak mengerti, kenapa sekarang malah di sekolah SMA.
Tak lama kemudian terlihat Fira berjalan keluar melewati pintu gerbang, di sampingnya ada Antonio yang terus menggoda Fira, gadis itu terlihat tidak suka dengan perlakuan Antonio.
Catherine segera membuka pintu mobil diikuti oleh Nindi dan Sintia, mereka bertiga berjalan menghampiri Fira.
"Nak."
Fira menghentikan langkah kakinya ketika mendengar suara Catherine memanggil dirinya, Fira tersenyum manis melihat kehadiran Catherine namun merasa aneh dengan kehadiran Sintia dan Nindi.
"Ibu, kenapa Ibu di sini?" Fira bertanya dengan rasa penasaran yang dalam, terlebih wanita itu membawa dua wanita lain.
Antonio melambaikan tangan ke arah Catherine dengan senyum ramah terhias di bibirnya, namun Catherine tidak menanggapi sikap ramah Antonio tersebut.
"Nak, Suamimu dimana?" Catherine bertanya dengan panik serta ketakutan, tangannya gemetar saat meraih tangan Fira.
Tak lama kemudian mobil Maybach hitam muncul dari balik pintu gerbang, seseorang dalam mobil itu melihat Catherine terlihat ketakutan, ia pun memutar kemudi mobil mendekati Catherine lalu menghentikan mobil tidak jauh dari wanita itu.
Seseorang dalam mobil itu membuka pintu lalu berjalan mendekati wanita yang telah melahirkan dirinya tersebut dan menatapnya dengan heran.
"Ibu." Ia memanggil dengan lembut dan penasaran.
Catherine menoleh pada seseorang tersebut lalu melepaskan genggaman tangannya pada Fira lalu memeluk tubuh tinggi tegap sang buah hati.
Seseorang yang bernama Ivan Maulana Rizky itu membalas pelukan Ibunya, ekspresinya berubah serius saat merasakan tubuh wanita itu gemetar karena ketakutan, pandangannya beralih pada Fira dan menatap gadis itu meminta penjelasan.
Fira menggelengkan kepala tidak tahu, ia juga penasaran kenapa mertuanya itu datang-datang langsung menanyakan tentang Suaminya dengan ekspresi wajah panik.
Maulana mengalihkan perhatiannya pada sang Ibu kemudian bertanya dengan lembut,"Ibu, apa yang terjadi? Apakah Ayah datang ke rumah lalu membuat Ibu ketakutan?"
Catherine menggeleng dalam pelukan buah hatinya kemudian berkata,"Van, lebih baik kita kembali ke mansion saja. Tadi Ibu lihat Carlos Santana berdiri di depan pintu gerbang rumah mu, dia membawa beberapa anak buahnya, Ibu takut dia akan melakukan sesuatu yang jahat padamu."
Ekspresi Maulana berubah keruh, aura pembunuhan keluar dari dalam tubuhnya, hasrat untuk membunuh seakan dipaksa untuk keluar kembali setelah 10 tahun ia tidak melakukannya.
Fira merinding ketakutan melihat ekspresi sang Suami, ini pertama kalinya melihat pria itu terlihat sangat marah seperti mau membunuh orang.
Fira memberanikan diri melangkahkan kaki mendekati sang Suami, mengulurkan tangan menyentuh lengan baju Suaminya dengan lembut lalu berkata,"Jangan marah, Mas. Aku tidak melakukan apapun pada Ibu, Ibu sudah seperti itu saat baru datang tadi."
Fira sengaja menjelaskan karena takut Suaminya salah paham dan marah terhadap dirinya, ia sadar dan tahu bahwa secinta apapun seorang pria pada Istrinya tapi bila seorang Istri bertengkar dengan Ibunya maka seorang Suami akan membela sang Ibu tanpa menanyakan alasan mereka bertengkar.
Catherine menarik diri dari pelukan putranya saat mendengar suara Fira ketakutan saat bicara pada Maulana, rupanya gadis itu mengira kalau Maulana berubah marah dan dingin karena marah pada gadis tersebut.
Maulana mengalihkan perhatian pada sang Istri, ia menghela nafas pelan melihat Istrinya ketakutan karena mengira dirinya marah pada sang Istri dan mengira bahwa dirinya adalah pria tidak bijak bila ada pertengkaran antara Catherine dan Fira dirinya akan langsung menyalahkan Fira tanpa bertanya, lagi-lagi gadis itu lebih percaya pada konten tiktok.
Maulana mengangkat tangan menyentuh bahu sang Istri dan bicara dengan lembut,"Mas tidak marah padamu, Sayang. Ini tidak ada hubungannya denganmu, ini adalah masalah pribadi Mas dan Ibu, kamu jangan takut seperti itu."
Fira mengangkat pandangan menatap mata safir itu lalu berkata,"Tapi kenapa Ibu ketakutan setelah itu Mas marah?"
"Seperti yang sudah Mas katakan tadi bahwa ini berkaitan dengan masalalu Mas dulu. Sekarang kamu dan Ibu ke hotel saja dulu, atau jalan-jalan kemana saja." Maulana mengambil kartu hitam miliknya lalu menyerahkan pada Fira dan kembali berkata,"Pakai ini, nanti setelah masalahnya setelah, Mas telpon kamu."
Fira tidak langsung mengambil kartu milik sang Suami, ia tidak pernah menggunakan kartu seperti itu karena tidak bisa, setiap kali pria itu memberikan pasti akan dikembalikan.
Maulana menghela nafas pelan lalu membuka kembali dompetnya dan mengambil lembaran uang ratusan ribu dan diberikan pada sang Istri."Ini."
Fira meraih uang lebaran kertas tarusan ribu tersebut, memandang uang itu bingung."Memangnya aku harus bayar hotel? Aku tidak pernah menginap di hotel sendirian, jadi tidak tahu cara bayarnya."
Maklum saja Fira berasal dari keluarga miskin, sekali ke hotel itu bersama Suaminya dan tidak melakukan apapun selain mengikuti pria itu.
Nindi berjalan mendekati Fira dan berdiri di samping Fira, ia mengulurkan tangan meraih kartu kredit hitam American Express milik Maulana juga uang tunai sekitar 5 juta itu kemudian berkata,"Kak Ivan, biar aku saja yang pakai uang dan kartu ini."
Maulana tidak setuju dengan ucapan Nindi, ia mengambil kembali uang tunai dan kartu kredit miliknya dari tangan Nindi dan meraih tas milik sang Istri, membuka tas tersebut dan mengambil dompet lalu memasukkan uang dan kartu kredit itu di dompet sang Istri lalu memasukkan kembali dompet tersebut ke dalam tas dan memberikan pada Istrinya.
"Kakak memberikan pada Istri Kakak, bukan padamu. Bukankah Kakak sering memberikan mu uang juga, apa yang Kakak berikan pada Istri Kakak tidak bisa kamu ambil sesuka hati."
Nindi menghentakkan kaki jengkel melihat sikap Maulana, ia melirik Fira kesal, menurutnya Fira tidak pantas mendapatkan harta ataupun sepeserpun uang milik Maulana, karena Fira baginya adalah orang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
