Chapter 3

92.2K 5.3K 46
                                        

"Mbak?"

Baru aku ingin menyahut, tiba-tiba aku terbatuk heboh karena tersedak air liur sendiri.

"Eh mbak kenapa? Lagi sakit ya??"

Aku hanya mengangguk sambil menepuk dadaku kencang.

"Oh ya udah mbak istirahat aja." katanya. "Saya bakalan jarang dirumah, jadi mbak santai aja, anggap rumah sendiri, semua fasilitas boleh mbak pakai."

"Ma...kasih, Mas." sahutku dengan suara yang tercekat. Tenggorokanku betulan nyeri karena tiba-tiba terbatuk seperti itu.

"Iya, mbak istirahat gih."

Aku menganggukan kepala dan langsung balik badan. Buru-buru masuk ke dalam kamar, sampai tak sadar kalau masih membawa sapu ditangan.

Tubuhku merosot lemas di lantai.

Sungguh takdir yang aneh.

Aku tau pasti siapa laki-laki yang barusan kutemui.

Namanya Alexander Angkasa atau biasa dipanggil Aksa. Dulu, dia adalah kakak kelasku di SMA. Semua orang di sekolah mengenalnya, entah karena wajahnya yang dibilang menarik oleh banyak orang, atau karena tingkahnya yang suka buat onar.

Alisku berkerut saat mengingat perbuatannya padaku. Hanya karena kalah taruhan, dia berani untuk mengambil ciuman pertamaku secara licik.

Setelah insiden itu, hidupku di SMA swasta itu tak ubahnya neraka. Video ciuman itu tersebar kemana-mana, membuatku jadi bahan gosip semua orang. Untungnya, tak lama, aku pindah ke sekolah negeri yang lebih terjangkau biayanya.

Aku menghela napas, berusaha meredam rasa dendam dan amarah yang bergumul di dalam dada.

Seperti biasa, aku selalu memposisikan tubuhku terlentang di atas lantai untuk meredam emosi yang berlebihan. Cara ini terbukti efektif, karena posisi terlentang memang dapat membantu menenangkan diri dan menurunkan aktivitas fisiologis seperti peredaran darah yang meningkat karena amarah.

Setelah tak lagi terpengaruh emosi, aku mulai merangkai rencana di kepala.

Saat ini aku tak punya pilihan untuk meninggalkan pekerjaan ini. Jadi, aku harus bijak. Sayangnya, tak mudah menemukan pekerjaan dengan gaji diatas 2 juta untuk tamatan SMA sepertiku. Untuk dapat kosan yang 'layak' saja, setidaknya aku harus menyiapkan 600ribu perbulan. Belum lgi biaya makan, transport, dan hal tak terduga. Jangan lupa, aku punya kewajiban untuk membantu adikku juga.

Aku menghela napas panjang lagi, entah untuk yang keberapa kali hari ini.

Baiklah. Sampai bisa mengumpulkan cukup uang dan mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik, aku akan tetap bekerja disini.

Toh, Si Aksa sialan itu juga tak menetap disini, kan?

Selama aku tak sering menemuinya, semua akan aman.

***

Perkiraanku tepat. Sudah sebulan lebih aku bekerja di rumah ini, dan tak sekalipun aku kembali bertemu dengan Aksa. Setiap minggu dia memang pulang ke rumah, tapi seringnya hanya mampir untuk mengambil barang, lalu pergi lagi.

Javier Arsha
Kak, ini transfernya kok banyak?

Me
Iya, kakak kan bulan lalu nggak transfer

Javier Arsha
Padahal kakak simpen aja buat sendiri
Makasih ya kak
Bulik juga bilang makasih banyak

Me
Sama-sama adikku
Kamu coba cari beasiswa kuliah
Sayang banget kalau nggak lanjut kuliah dek
Kamu kan, pinter

He Was My First KissCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang