Chapter 30

51.5K 3K 27
                                        

AKSA membawa mobilnya ke sebuah hotel yang baru saja ia pesan di aplikasi travel. Kami tak jadi langsung pulang karena ada kecelakaan beruntun di jalan tol. Ketimbang menghabiskan waktu di jalan bermacet-macetan, istirahat di hotel terdengar lebih menyenangkan, lagipula besok hari Minggu.

Hotel ini terletak di tengah kota, tepatnya di daerah Braga. Aksa memilih kamar dengan jendela besar yang menyajikan pemandangan kota Bandung lengkap dengan pegunungan yang mengelilinginya.

Aku duduk diatas sofa panjang sambil menyelonjorkan kaki, melamun. Entah kenapa perasaanku jadi melow setelah kembali bertemu dengan Tante Anin, padahal tadi aku tegar-tegar saja.

"Lapar nih, makan yuk?" ajak Aksa.

"Aku nggak lapar, kamu aja pesen makanan."

Aksa menghampiriku. "Kamu kenapa? Kok jadi murung."

Kepalaku menggeleng pelan. "Nggak apa-apa."

Tanpa aba-aba Aksa mengangkat tubuhku.

"Eh, ngapain??" tanyaku sambil melingkarkan tangan dilehernya.

"Mau peluk istriku yang cantik, tapi lagi sedih."

Ia menurunkanku diatas kasur yang masih tertata rapi. Lalu ikut rebah dan memeluk tubuhku. Aku menatap wajah Aksa yang begitu dekat dalam diam.

"Mau cerita?" tanyanya.

"Apa?"

"Kenapa sedih?"

Aku menghela napas panjang. "Hngg, mungkin, karena keinget masa lalu aja, sih."

"Oh..." Aksa mengelus-elus rambutku lembut.

Kalau Aksa sering mencuri dengar obrolanku dengan Mamanya, dia harusnya sudah tahu permasalahan apa saja yang menimpaku selama ini.

"Kamu pernah sedih nggak?" tanyaku padanya.

"Pernah dong."

"Karena apa?"

"Karena dicuekin kamu, itu aku beneran sedih."

Aku mendengus. "Hal lain?"

Aksa tampak berpikir. "Waktu vespa kesayanganku di maling orang, itu aku sedih juga."

Sudut bibirku terangkat. "Dimaling di mana?"

"Coffee shop, lupa sih dimananya, udah lama kejadiannya pas aku kuliah."

"Oo..."

"Vespa itu lho, yang bikin aku cium kamu pas SMA."

Aku mengernyit. "Hah?"

"Dulu waktu kalah truth or dare, kalau nggak berani cium kamu, vespa itu bakal diambil Jordan."

Aku mendengus. "Ya bagus lah vespanya dimaling, kalau nggak, aku yang hancurin."

Aksa tergelak. "Galak beneeeer."

"IPK kamu berapa?" tanyaku lagi, merasa butuh terus mengobrol.

"Hmm, 3.3 apa ya?"

"Hoo, lumayan."

Aksa mengelus pipiku. "Kamu mau lanjutin kuliah?"

Aku bergeming sejenak sebelum menyahut. "Nggak bisa, aku udah resmi mengundurkan diri"

"Kuliah lagi aja, mulai dari awal nggak masalah. Cari kampus yang bagus."

Gagasan itu seketika membangkitkan semangatku. Sungguh. Bisa dibilang, putus kuliah hal terberat yang kujalani setelah wafatnya Mama dan Papa. Sebagai pribadi yang ambisius di bidang pendidikan, kejadian itu menorehkan kesedihan mendalam bagiku.

He Was My First KissCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang