Aksa tak tahu dia sering sholat shubuh berjamaah di Masjid depan cluster. Tadi Aria membangunkannya dengan paksa sambil menciprati wajahnya dengan air, sampai rasanya Aksa mau marah. Tapi karena dia sudah mengiyakan keinginan perempuan itu, Aksa terpaksa bangun.
Ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali sholat. Tapi nampaknya, dirinya yang sekarang sudah benar-benar mulai mendekatkan diri pada Tuhan. Bapak-bapak jamaah masjid dengan ramah menyapa Aksa dan menanyakan kabarnya, seolah mereka sudah akrab lama.
Aksa baru saja mau kabur saat sesosok laki-laki yang nampak sebaya dengannya menghampiri Aksa.
"Mas Aksa, sehat?"
Aksa menyambut uluran tangannya hingga mereka bersalaman. "Sehat, Mas."
"Mas Aksa nggak ikut kajian dulu?"
"Eh? Nggak dulu, Mas."
Laki-laki itu tampak heran, tapi kemudian melanjutkan. "Ok Mas, nanti kalau ada waktu, kita ngobrol ya."
Aksa mengangguk sebelum bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Masjid. Lelaki itu menghela napas. Sungguh, dia bahkan tak kenal dengan dirinya yang sekarang. Di kepalanya dia masih dirinya yang tiap minggu pasti pergi clubbing bersama Jordan dan kawan-kawan. Aksa tak ingat sudah jadi alim begini.
Di rumah, Aria tampak sibuk memasak di dapur.
"Lho kok udah pulang?"
Aksa tak menjawab dan merebahkan tubuhnya di sofa. Entah kenapa, ketimbang emosi, saat ini ia lebih merasa sedih dan frustasi akan keadaannya.
"Mas Aksa? Kenapa?" Aria menghampirinya. "Pusing ya?"
Aksa masih tak menjawab dan hanya menatap wajah istrinya yang nampak khawatir. Aria mendekat dan menaruh telapak tangan di keningnya. Aksa menangkap pergelangan tangannya dan menggenggamnya ringan.
Aria duduk di lantai samping sofa, membawa wajah mereka dalam posisi sejajar.
"Kenapa Mas? Mau cerita?"
Aksa menggeleng. Jujur dia tak pandai mengutarakan perasaan sedih begini.
"Wajahnya kelihatan sedih." Aria mengelus rambutnya pelan. "Aku jadi kasihan."
Ucapannya membuat Aksa tersenyum "Lebih kasihan kamu, sih." ujarnya. "Punya suami yang tiba-tiba lupa semuanya."
Aria terdiam sejenak sebelum angkat bicara. "Nggak apa-apa, kan memori bisa dibuat lagi."
"Kalau aku begini terus, kamu gimana?"
Perempuan itu mengangkat bahu. "Aku nggak apa-apa, kita jalanin aja bareng-bareng."
Aksa bergumam mendengarnya, jemarinya menyusuri wajah istrinya pelan. "Kamu cantik."
Pujian itu membuat Aria mendengus geli. "Udah balik lagi tuh, gombalnya."
"Ceritain dong, gimana kita ketemu?"
Kedua alis perempuan itu terangkat. "Dari awal?"
Aksa mengangguk.
"Tapi jangan kaget ya, sama ceritanya."
Aksa menatap Aria, menunggu.
"Jadi, waktu itu aku....."
***
Malam ini, Anette mengundang Aksa party di salah satu rooftop bar dalam rangka merayakan kelulusan pendidikan pasca sarjananya. Awalnya Aksa tak ingin ikut, tapi Anette masih sama seperti Anette 8 tahun lalu—tantrum kalau ditolak.
Jadilah, Aksa sekarang duduk di meja makan, bertekad untuk meminta izin ke Aria untuk pergi. Ia sudah tak bisa lagi mengabaikan kehadiran Aria yang ternyata begitu penting di hidupnya sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
He Was My First Kiss
RomantikCOVER BARU Jadi ART di rumah seorang laki-laki brengsek yang pernah menciumnya saat SMA hanya karena kalah taruhan?? Aria rasanya ingin kabur saja saat tau siapa majikannya, tapi situasinya tak semudah itu, ia benar-benar butuh uang untuk bertahan h...
