Chapter 7

83.9K 5K 89
                                        

Tok tok tok tok

"Aria, bentar, sini dulu."

Mataku memejam erat, menahan kesal yang meluap-luap dalam dada. Argggggh kali ini apalagi??

Tok tok tok tok tok—

Saat suara ketukan itu semakin ramai, aku terpaksa menendang selimut yang menyelubungiku dan bangkit duduk.

Tatapanku terarah pada jam di dinding. Sudah jam 9 malam... mau apalagi sih??

"Kenapa Mas??" teriakku ketus, masih enggan membuka pintu.

"Bentar, aku mau tanya."

Aku menghela napas frustasi sebelum bangkit dan memakai sweater yang tersampir di gantungan. Sungguh. Kalau tak ingat posisiku sebagai ART di rumahnya, aku pasti tak akan mau meladeni Aksa!

Saat pintu dibuka, sosok menjulang lelaki itu langsung menyambutku. Melihat senyuman di wajahnya, alih-alih terpesona, aku malah merasa gondok setengah mati.

"Apa, Mas??"

"Ganggu ya? Bentar aja aku mau tanya."

Menyerah, aku mengikuti langkah Aksa menuju ke ruang tengah. Diatas meja makan, ada beberapa dokumen bertebaran dan laptop yang dibiarkan menyala.

"Aku udah liat sepatu yang kamu pilih, selera kamu bagus juga." mulainya sambil duduk didepan laptop. "Sini duduk."

Ogah-ogahan, aku menggeser bangku disamping Aksa dan mendaratkan bokongku disana.

"Menurut kamu, kalau aku fokus jualin sneakers cewek kayak gini gimana?"

"Bagus, Mas." jawabku malas.

"Serius, Aria."

"Iya, Mas, serius, bagus."

"Kamu kenapa? Ngantuk ya? Mau aku orderin kopi?"

Maunya tidur kocak! arrrrg!!!!

"Nggak perlu, Mas."

"Kamu ada ide nggak, mau bikin konsep brand sepatu cewek yang kayak gimana?"

Tanganku terlipat diatas meja. "Ide saya mahal, mas." celetukku asal.

Aksa mengalihkan pandangannya dari laptop padaku. "Oke. Berapa?"

Mataku yang sudah menyipit karena mengantuk kembali melebar. "Mas mau bayar saya?"

"Iya, coba kamu buat konsep brand sepatu cewek, patokannya selera kamu aja, pokoknya bebas. Buat di ppt, terus presentasiin. Kalau oke, aku beli ide kamu 50 juta."

Sekarang rasa kantukku benar-benar hilang. "50 juta??"

"Deal?"

Aku menatap uluran tangan Aksa, masih tak percaya akan apa yang barusan kudengar. 50 juta?? Aku nggak salah dengar kan??

"Beneran ini?"

"Deal nggak nih?"

Tanpa pikir panjang, aku langsung menjabat tangannya. "Deal!!"

"Ok, kamu pake aja laptop nganggur di kamar, ada diatas meja. Aku kasih waktu seminggu cukup?"

Kepalaku mengangguk dengan bersemangat. "Saya coba, Mas!"

***

Sisa minggu ini aku habiskan dengan banyak waktu di depan laptop—merancang suatu brand sepatu yang pasarnya perempuan dewasa muda. Karena konsepnya bebas dan tanpa batasan, aku semakin bersemangat mengerjakan tugas ini. Belum lagi imbalannya yang benar-benar menggiurkan. Bayangkan, 50 juta!!

He Was My First KissCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang