Akhirnya hari Sabtu tiba.
Aku mematut diriku di depan cermin. Dari ketiga dress yang kemarin dibeli, aku memutuskan untuk memakai dress warna biru langit. Kurasa, ini yang paling cocok. Sopan, tapi tidak juga terkesan terlalu formal.
Aku mengikat satu rambut yang tadi malam baru saja kurapikan potongannya, sengaja aku membuat curtain bangs untuk membingkai wajahku. Sejak jatuh miskin, aku tak pernah lagi ke salon untuk potong rambut. Tapi jujur, aku selalu suka hasil potonganku sendiri.
Tok tok tok—
"Aria, udah siap belum?" terdengar suara Aksa dari balik pintu.
"Iyaa bentar."
Terakhir, aku memakai sepatu heels berwarna putih tulang yang juga kubeli lima hari yang lalu. Aku pendek, jadi kalau pakai dress begini, lebih bagus kalau pakai sepatu tinggi.
Di malam itu—malam ketika berbelanja dengan Aksa—aku seperti ikut acara uang kaget, yang mana pesertanya harus menghabiskan uang 10 juta dalam waktu singkat. Aku benar-benar menggunakan stopwatch sambil keluar masuk toko untuk membeli baju, sepatu dan juga sedikit makeup. Seru, tapi kalau diingat rasanya konyol sekali.
"Aku tunggu di mobil ya."
"Udah siap kok."
Aku membuka pintu kamar dan langsung bertatapan dengan Aksa.
Matanya yang sipit tampak melebar. "Eh, cantik banget."
Aku sontak memutar bola mata. "Jangan gombal ke aku. Nggak mempan."
"Gombal gimana? Emang cantik kok." ujarnya dengan senyum buaya. "Dipakai kamu bajunya jadi kelihatan mahal, padahal modelnya simple."
Dipuji begitu, entah kenapa aku jadi salah tingkah sendiri. "Iya, iya, iya, yaudah ayo berangkat. Jadi nggak?"
Aksa menjulurkan tangannya. "Shall we?"
"Absolutely not." kataku sambil menepis tangannya dan berlalu pergi.
Aku bisa merasakan Aksa mengekoriku dibelakang. "Kamu pake parfum ya?"
"Eh? Iya, terlalu menyengat ya?"
"Engga, aku suka, kayak wangi teh."
Aksa tiba-tiba mendahului langkahku dan membuka pintu mobilnya.
"Silakan, princess."
"Idih, apaan coba.."
"Kan hari ini, kamu pacar aku."
Ucapannya membuatku menghela napas frustasi. Rasanya hatiku tak tenang sejak tadi, ide ini sepertinya tak akan berakhir baik. Menepis gusar, aku putuskan untuk masuk ke dalam mobil.
Sepanjang jalan, kentara sekali kalau Aksa selalu melirik ke arahku. Dan hal itu benar-benar membuatku jengah.
"Apa sih? Mau ngomong apa?" kataku kesal.
"Kamu cantik kayak gini, tapi kalau dipikir, pakai baju rumahan juga cantik."
Tanganku terangkat untuk memeluk tubuhku yang tiba-tiba merinding. "Stop gombal, deh!"
"Dipuji tuh, makasih kek."
"Iya, iya, makasih. Sekarang stop lirik lirik dan fokus nyetir."
"10 menit lagi sampai."
Mendengarnya, jantungku langsung berdetak lebih kencang. "Mama kamu beneran nggak bakal apa-apain aku kan??"
Aksa tersenyum usil. "Hayo lhooo."
"Ih! Jangan gitu, aku beneran cemas nih!"
Tawa lelaki itu berderai. "Santai aja. Paling nanti kamu diinterogasi dari pagi sampai malem."
KAMU SEDANG MEMBACA
He Was My First Kiss
RomanceCOVER BARU Jadi ART di rumah seorang laki-laki brengsek yang pernah menciumnya saat SMA hanya karena kalah taruhan?? Aria rasanya ingin kabur saja saat tau siapa majikannya, tapi situasinya tak semudah itu, ia benar-benar butuh uang untuk bertahan h...
