Chapter 42

41.4K 2.6K 77
                                        

Aria POV

Aku sadar ada suatu hal yang salah.

Meskipun hubunganku dan Aksa mulai kembali terjalin seperti dulu, hatiku rasanya tak tenang. Ada sesuatu yang sedang terjadi, tapi aku tak tahu apa.

Sudah sebulan sejak aku memberanikan diri untuk mengajak Aksa tidur satu kamar. Kami banyak mengobrol sebelum tidur, sering juga berhubungan layaknya suami istri, tapi kadang aku merasa kalau Aksa tak benar-benar ada di sampingku.

Hal itu membuatku galau sendiri. Apa ada yang salah diantara kami? Tapi apa? Rutinitas harian kami selalu sama. Bangun pagi-kerja-pulang kerumah bersama-istirahat. Tak ada yang aneh, tak ada yang beda.

Aku terbatuk, lalu menyesap air lemon madu yang kubuat. Hari ini aku izin kerja karena badanku mendadak demam, kepalaku juga terasa pusing sekali. Sejak kemarin aku batuk-pilek, dan pagi ini aku terbangun dengan demam yang lumayan tinggi, sepertinya aku terkena flu.

Tadi Aksa menawarkan untuk mengantarku ke dokter, tapi aku menolak karena rasanya hal ini masih bisa di sembukan oleh obat flu yang dijual bebas. Yang kubutuhkan hanya istirahat yang cukup.

Jadilah sekarang aku berbaring di sofa sambil menonton film random di netflix agar tak bosan. Saat hampir tertidur, handphoneku bergetar diatas meja. Kak Leo menelfon.

"Halo?"

"Halo Ri, sorry ganggu, gua mau minta file AP yang mau di edit, kirimin gua ya link gdrive nya."

"Oh ok kak, bentar."

Aku bangkit dan membuka laptop Aksa yang ditinggal di atas meja makan, saat hendak mengirim link gdrive yang Kak Leo butuhkan via whatsapp web, mataku melebar saat melihat satu nama di kolom Chats.

Hazel Angeline?

Setelah mengirim link itu pada Kak Leo dari whatsapp Aksa, tanganku bergerak dan membuka chat dari Hazel. Jantungku seketika seperti berhenti berdetak. Napasku berpacu cepat seiring dengan jemariku yang bergerak menyusuri isi chat mereka.

Ternyata feelingku benar—ada sesuatu yang sedang terjadi.

***

"Yang ini tempatnya Kak?"

Pertanyaan dari Pak Samsudin, driver taksi online yang mengantarku membuyarkan lamunan. Aku membaca plang nama sebuah restoran yang terasa asing itu.

"Bener Pak." jawabku. Mataku memejam saat merasakan pening hebat di kepala. "Pak, kalau saya minta bapak temani saya menunggu seseorang, bisa? Nanti saya bayar lebih."

"Oh, kira-kira lama nggak kak?"

"Hmm, mungkin satu jam?"

"Tapi trip ini saya selesaikan dulu ya? Biar saya bisa off aplikasi."

Aku mengangguk. Tak lama setelah itu, hatiku mencelos saat melihat Aksa keluar dari pintu restoran bersama dengan seorang perempuan cantik. Aku tak salah, itu memang Hazel. Wajahnya sama dengan foto profil whatsappnya. Perempuan itu memeluk lengan Aksa begitu akrab. Mereka tampak sedang membicarakan sesuatu yang seru sebelum masuk kedalam mobil.

"Pak, ikutin mobil yang itu ya."

"Yang warna hitam neng?"

"Iya, yang plat belalangnya KN."

"Siap neng."

Dalam rongga dada, jantungku berpacu cepat. Kuharap, dugaanku salah. Kuharap, mereka hanya teman biasa yang sedang makan siang bersama, tak lebih.

Harapanku pupus saat beberapa menit kemudian, kami sampai ke sebuah kompleks apartemen. Aku meminta Pak Samsudin untuk masuk ke gate dan terus membuntuti mobil Aksa.

He Was My First KissCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang