Chapter 37

38.8K 2.7K 46
                                        

Aksa POV

Aksa terbangun karena rasa sakit di ulu hatinya yang begitu menusuk. Ia langsung terduduk sambil mencengkram perutnya. Kepalanya berdenyut hebat, begitu pusing hingga membuatnya hampir muntah.

Keringat dingin sebesar biji jagung menetes di pelipisnya, sensasi terbakar di dada membuatnya panik. Apa ia akan mati?? Aksa menoleh ke kanan dan ke kiri, ia terduduk di sofa ruang tengah sendirian. Kapan ia sampai rumah?? Ia tak ingat.

Lelaki itu memejam menahan rasa sakit yang menjadi-jadi. Ia paksa berdiri dan melangkah gontai menuju ke kamar belakang, tempat Aria tidur.

Tok tok tok—

Aksa mengetok pintu pelan, sebelah tangannya masih memegang bagian ulu hatinya yang seperti dicengkram.

"Aria... tolong..." bisiknya lirih.

Tak lama, pintu dihadapannya terbuka, sosok Aria membuat Aksa sedikit lega. Setidaknya kalau ia mati, ia tak sedang sendirian.

Perempuan itu menatapnya sejenak, sebelum berkata, "Kita ke rumah sakit sekarang."

Aksa tak menolak saat Aria memapahnya ke mobil. Diluar, langit masih gelap, suara adzan shubuh sayup-sayup terdengar. Rasa sakit yang teramat sangat membuat Aksa tak dapat berpikir, tubuhnya terus bergerak-gerak gelisah. Perjalanan ke rumah sakit terasa seperti selamanya.

Sesampainya di rumah sakit, Aksa dibantu seorang satpam untuk masuk ke IGD, sementara Aria mengurus administrasi. Ia terbaring di bed sambil meringkuk memegang perutnya yang perih luar biasa.

Rasa sakit Aksa baru mereda setelah obat-obatan diberikan lewat jalur infus. Dokter bilang dia harus dirawat inap dan diendoskopi untuk mengecek keadaan lambungnya.

Sepanjang hari, Aria hanya diam. Ia tak bersikap sok akrab seperti bisa. Aksa baru menyadari itu ketika mereka sudah pindah ke ruang rawat VIP.

Aksa memerhatikan gerak-gerik Aria, perempuan itu tampak selalu sibuk dengan handphonenya—sama sekali tak peduli dengan Aksa yang sesekali meringis kesakitan.

Diabaikan begitu membuat Aksa merasa kesal, tapi ia pun tak tahu harus menegur perempuan itu bagaimana, jadi, ia balas mendiamkan.

Siang hari, saat orang tua Aksa datang menjenguk dan mengomelinya panjang lebar, Aria malah beranjak pergi dari ruangan dan meninggalkannya tanpa pamit.

Aneh. Aksa membatin. Kenapa dia? Apa dia marah karena Aksa pergi ke Club? Tapi kan, Aksa sudah bilang kalau ia tak mau dikekang. Masa sesekali party tak boleh?

Perasaan Aksa semakin tak karuan saat seharian, Aria tak kunjung datang menjenguknya. Bahkan ketika Mama dan Papanya pamit pulang, ia ditinggal sendirian di ruang perawatan. Hal itu sontak membuat hatinya bertanya-tanya, kemana sih cewek itu?? Katanya dia istrinya, kok malah tak ada disaat-saat seperti ini??

Meskipun dongkol, Aksa gengsi untuk menghubungi Aria duluan. Dia menyibukkan diri dengan bermain game online di handphonenya, saat baterai handphone itu habis, Aksa menyalakan TV untuk menonton film. Kebosanan yang melandanya membuat hatinya diliputi gusar.

Kemana sih, si Aria??

Pukul 8 malam, pintu kamarnya dibuka dan sosok yang ia cari itu akhirnya muncul. Tapi kali ini, tak ada senyum diwajah polosnya.

"Darimana aja?" tanya Aksa, berusaha untuk terdengar biasa saja.

"Kerja." jawab perempuan itu sambil menaruh satu tas jinjing besar. "Mau ganti baju nggak?"

Aksa mengangguk mendengar tawaran itu. Dia benar-benar merasa badannya bau dan lengket.

"Bisa sendiri? Apa perlu bantuan?" tanya Aria dengan nada datar yang mengganggu Aksa.

He Was My First KissCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang