Aksa POV
Aksa terbangun karena perih yang menusuk perutnya secara tiba-tiba. Alis lelaki itu berkerut saat sejurus kemudian kepalanya dilanda pening hebat. Ia mengerjapkan mata berulang kali, mencoba mencerna situasi.
Kamarnya sudah terang karena tersorot cahaya matahari. Aksa melirik kearah jam di nakas, sudah pukul 12.30.
Ia kembali mengerjap, lalu merasakan hangat dibawah telapak tangan. Tubuhnya membeku saat menyadari kalau Aria tertidur lelap disampingnya—atau lebih tepatnya, dibawah kungkungan kaki dan tangannya.
Aksa mengernyit, berusaha mengingat apa yang terjadi kemarin. Dia merasa sangat frustasi setelah kunjungan dari dokter sialan itu. Kebetulan, Leo mengundangnya untuk reuni dengan beberapa teman kuliah mereka. Tau pasti Leo akan open table, tanpa pikir dua kali Aksa ikut serta.
Ia butuh alkohol. Atau setidaknya, itu yang ia pikir kemarin. Rasa tak nyaman diperut ditambah dengan nyeri dikepala membuatnya menyesal nekat menyentuh minuman haram itu lagi.
Aksa memerhatikan wajah Aria yang begitu lelap tertidur. Bibir kecilnya terbuka sedikit. Perutnya bergerak naik turun secara teratur diatas telapak tangan Aksa yang menyusup dibalik kaosnya. Dia terlihat seperti bayi, dengan wajah yang kecil, rambut hitam lebat, bulu mata yang panjang dan kulit seputih susu.
Aksa ingat jelas saat pertama kali memergoki Aria tertidur pulas di lantai ruang tengah. Saat itu juga sama seperti sekarang. Ia diam sambil memerhatikan wajah perempuan ini, yang tampak begitu damai disinari cahaya matahari senja yang menerobos dari jendela.
Rasa hangat tiba-tiba menyelubungi hati Aksa. Dia tak menyangka kehadiran Aria bisa begitu membuat harinya jadi menyenangkan. Sekarang, rumahnya sudah benar-benar terasa seperti 'rumah'. Ia begitu menunggu waktu pulang untuk bertemu perempuan ini—atau mengetuk pintu kamarnya untuk sekedar iseng.
Aksa termangu, apa ia jatuh cinta?
Tiba-tiba tubuh Aria bergerak-gerak. Kelopak matanya bergetar, lalu perlahan terbuka. Ia mengerjap-ngerjap dengan lucu. Lalu tatapan mata mereka bertemu.
Aria terdiam, Aksa bisa merasakan badan perempuan itu berubah kaku.
Aria mengangkat tangannya yang bebas dan meletakannya di kening Aksa.
"Kamu demam lho." katanya sambil mengernyit. "Pantes wajahnya merah."
Aksa diam saja sambil terus menatapnya. Dia pikir perempuan itu akan malu, atau berteriak, atau mendorongnya—tapi tidak. Dengan tenang, Aria menyingkirkan tangan Aksa dari perutnya, lalu duduk sambil mengedarkan pandangannya.
"Astaga udah jam 1 siang??" teriaknya sambil bangkit berdiri dengan panik.
"Aduh, pusing." Ia kembali terduduk disisi ranjang sambil memegang kepala.
"Jangan gerak tiba-tiba." komentar Aksa sambil mengulum senyum.
Setelah mengatur napas, Aria kembali berdiri dan beranjak keluar.
"Mau kemana?" tanya Aksa, tak ingin perempuan itu menjauh.
"Mandi. Kamu juga mandi gih. Jujur, bau banget."
"Bantuin."
Kening perempuan itu berkerut. "Bantuin apa?"
"Mandi."
"Jangan gila-gila deh."
Aksa terkekeh sambil memerhatikan punggung mungil perempuan itu pergi.
Ah... iya. Dia sudah jatuh cinta!
***
Aksa memaksa dirinya untuk mandi, karena yang Aria katakan benar, dia bau sekali. Setelah berganti pakaian, lelaki itu segera turun ke lantai bawah. Pemandangan punggung Aria yang sedang sibuk memasak di dapur mengirim gelenyar yang menghangatkan relung hati Aksa.
KAMU SEDANG MEMBACA
He Was My First Kiss
RomansaCOVER BARU Jadi ART di rumah seorang laki-laki brengsek yang pernah menciumnya saat SMA hanya karena kalah taruhan?? Aria rasanya ingin kabur saja saat tau siapa majikannya, tapi situasinya tak semudah itu, ia benar-benar butuh uang untuk bertahan h...
