Chapter 16

62K 3.7K 147
                                        

Aku duduk menunggu di coffee shop, memerhatikan langit senja yang berangsur gelap dari balik jendela. Awalnya aku ingin pulang sendiri, tapi si Aksa sialan itu sampai menelfonku untuk menunggunya agar bisa pulang bareng.

Ya sudahlah, hitung-hitung hemat ongkos.

Pukul 6.30, mobil hitam Aksa akhirnya muncul.

"Kak Ben mana?" tanyaku saat menyadari tak ada siapapun di dalam mobil selain Aksa.

"Udah aku drop di apartnya, ayo masuk."

Saat memasuki mobil, bulu kudukku langsung meremang merasakan perubahan suhu dari panas ke dingin. Sontak aku memeluk tubuhku yang sekarang mengenakan atasan berbahan katun tipis.

"Ih, dingin banget kayak di kulkas."

"Oh ya?" Aksa menekan tombol pengatur suhu di mobilnya."Kalau masih kedinginan, aku peluk aja."

"Ih, amit-amit."

Tawa lelaki itu mengudara.

"Rumah aman?"

"Aman aja kok, tentram damai sentosa."

Aksa mencondongkan tubuhnya kearahku, di wajahnya terpampang seringaian iseng. "Nggak kangen aku apa?"

"Nggak." jawabku sambil bergerak menjauh.

"Kalau aku kangen lho."

Aku menatapnya malas. "Ewh, jauh-jauh deh—aw!" Aku meringis saat ia tiba-tiba menyentil dahiku. "Sakit tau!!"

Tawanya malah makin menjadi.

Uh, kenapa sih cowok ini suka banget iseng??

Setelah mengeset GPS ke arah rumah, Aksa mulai melajukan mobilnya. Hatiku mencelos saat menyadari perjalanan kami masih sangat jauh.

Sungguh. Aku tak mau berlama-lama berdekatan dengan lelaki ini.

"Eh Mama nanyain, kapan kamu kerumah lagi?"

Ucapannya membuatku kembali merasa gusar. "Aduh... kita dikira pacaran beneran ya?"

"Iya lah."

"Gimana kalau kamu bawa cewek lain? Kayak cewek tadi... siapa tuh, Evelyn ya? Iya! Evelyn kan cantik banget! Mama kamu pasti suka deh." cerocosku.

Wajah Aksa seketika berubah keruh. "Nggak mau."

"Yah... terus gimana dong? Kan kita nggak mungkin terus-terusan pura-pura pacaran!"

"I don't know."

Aku mendengus, lantas bersidekap. "Kamu cari kek, cewek lain! Kan, kamu populer. Pasti cari cewek gampang lah."

"Kenapa nggak kamu aja?"

Keningku berkerut. "Aku nggak mau."

"Ya udah, nggak usah."

"Heh, aku serius. Kamu harus cepet-cepet cari cewek beneran deh. Terus nanti, kamu bilang ke Tante Ivana kita putus karena kita lebih cocok berteman. Gitu. Gimana? Ide bagus kan?"

Aksa tak menggubris omonganku. Tatapannya terus tertuju kedepan.

"Mas Aksa, dengerin nggak sih?"

Saat ia tak kunjung menjawab, aku mendecak kesal. "Kenapa sih? Emang kamu sesusah itu ya cari cewek? Nggak mungkin kan?"

Aksa mengendikkan bahu. "Semuanya ngebosenin."

Emosiku mendidih mendengar ucapannya. Wajah sedih Evelyn di coffee shop tadi terbayang dibenakku. Kasian banget dia, jatuh cinta sama bajingan macam cowok ini!

He Was My First KissCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang