Chapter 31

46.5K 2.5K 42
                                        


Aksa POV

Aksa tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Terbangun dan tertidur sambil memeluk Aria, ternyata sepenting itu untuk menyempurnakan harinya. Ia benar-benar sayang sekali dengan istrinya. Tak melihatnya sebentar saja, hatinya langsung merasa tak tenang.

Aksa tahu dia membuat perempuan itu kesusahan, bahkan Aria sudah terang-terangan bilang kalau ia risi ditempeli, tapi Aksa benar-benar sedang di fase jatuh cinta yang semenggebu-gebu itu. Kalau ia bisa menyimpan Aria di sakunya, pasti sudah ia lakukan.

"Mas Aksa... udah sih... mau sampai kapan gini... katanya mesti ke rumah Mama hari ini." protes Aria sambil berusaha melepaskan pelukannya, kulit mereka menyatu dibawah selimut.

"Nggak usah jadi aja."

"Nggak bisa, Mama udah telfonin kita terus dari tadi." kata Aria, disusul dengan suara getar handphone di nakas yang kembali terdengar.

"Sekali lagi?" tawar Aksa.

Aria menggeleng. "Nanti malem aja, aku udah mau pingsan rasanya."

Aksa terkekeh. "Oke deh. Tapi mandinya barengan ya."

"Nggak mau!"

"Kenapa sih selalu nolak mandi bareng??"

"Soalnya kamu nakal!" Aria mencubit lengan Aksa keras-keras. "Aku marah nih, kalau kamu begini terus."

"Ngancemnya gitu mulu."

"Kali ini beneran."

Suara ketus Aria membuat Aksa melepas pelukannya, meskipun dengan enggan. Aria duduk dan memakai kaos Aksa yang tersampir sembarangan di pinggir ranjang.

"Pinjem kaosnya." katanya sambil berdiri, langkahnya sempoyongan ke kamar mandi.

Aksa menopang kepalanya dengan tangan kanan, memerhatikan dengan gemas istrinya yang seperti tenggelam mengenakan kaos oblong miliknya.

Ah...

Aksa tak pernah merasa seperti ini pada siapapun—ia tahu ia jenis lelaki yang sekalinya jatuh cinta tak akan setengah-setengah, tapi dengan Aria perasaan ini terasa sungguh berbeda.

Setiap hal yang Aria lakukan, terlihat manis di matanya—bahkan ketika perempuan itu kesal. Dari semua keberuntungan yang ia dapatkan di hidupnya, Aksa merasa, Aria-lah keberuntungan terbaiknya.

Meskipun Aria belum membalas perasaannya secara terang-terangan, Aksa tahu kalau perempuan itu juga sudah mulai punya perasaan padanya.

Diam-diam Aksa suka sekali saat Aria memberikan perhatian-perhatian kecil untuknya—seperti saat perempuan itu menyisiri rambut panjang Aksa kebelakang dengan jari agar tak menusuk mata saat mereka mengobrol sebelum tidur.

Aria juga selalu—selalu—merespon sentuhannya. Meskipun suka tersipu malu, perempuan itu tetap membiarkan Aksa mengajarinya banyak hal tentang kegiatan menyenangkan yang bisa dilakukan pria dan wanita dewasa. Dan sungguh, istrinya itu seorang yang cepat belajar.

Aksa menyeringai lebar. Kecil-kecil begitu, Aria lawan yang sederajat untuknya diatas ranjang. Ia merasa kebutuhan biologisnya terpenuhi. Tak ada lagi kehampaan atau rasa bersalah. Yang ada hanya kepuasan dan perasaan cinta yang tumbuh bersemi.

Ah sialan... memikirkannya saja, Aksa jadi mau lagi.

Tak lama Aria keluar dari kamar mandi dengan tergesa. Ia masih memakai kaos Aksa yang tadi. Tetesan air dari rambutnya membuat kaos itu terlihat lembab disekitaran bahu dan punggung. Aksa memerhatikan Aria yang sibuk mencari pakaian di lemari.

"Mas Aksa, mandi!" perintahnya begitu galak.

Aksa tersenyum, sepertinya, kalau ia nekat mengisengi Aria lagi, istrinya itu akan benar-benar marah. Jadi, Aksa bangkit dari tempat tidur dan berjalan santai ke kamar mandi tanpa sehelai benangpun.

He Was My First KissCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang