Chapter 6

84.1K 4.9K 47
                                        

Aria POV

AKU bersenandung kecil sambil mengedit CV di handphone. Waktu sudah menunjukan pukul 1 dini hari, tapi rasa kantuk tak kunjung datang menghampiri. Kenyataan bahwa Aksa telah pergi membuatku merasakan euphoria. Akhirnya! Aku kembali bisa bernapas lega!

Setelah CV itu selesai diedit, aku kembali berselancar internet untuk mencari lowongan kerja.

Ya. Tekadku sudah bulat. Begitu kontrak kerjanya selesai, aku harus segera angkat kaki dari rumah ini. Dan kuharap, aku sudah punya tabungan yang cukup plus sudah mendapat pekerjaan yang baru saat momen itu tiba.

Tinggal 4 bulan 15 hari lagi...

Perhatianku tersita pada suara mobil yang mendekat dan berhenti di depan rumah. Karena kamarku punya kaca jendela yang menghadap ke jalan, pergerakan kendaraan yang lalu lalang terdengar jelas. Aku mengintip keluar dan menemukan mobil Aksa terparkir di bahu jalan, tak lama, lelaki itu keluar dari pintu pengemudi.

Hatiku mencelos kecewa, kok udah pulang lagi sih...??

Suara grasak-grusuk tiba-tiba terdengar di dalam rumah yang awalnya tenang dan hening. Aku baru hendak bangkit dari ranjang untuk mengunci pintu kamar saat tiba-tiba pintu itu dibuka lebar dengan satu gerakan kasar yang menimbulkan suara keras—

BRAK!

Mataku terbelalak menatap Aksa yang bersandar pada ambang pintu, wajahnya yang biasa pucat kini bersemu merah, sementara tatapannya nampak tak fokus. Aroma alkohol dan tembakau yang kuat langsung tercium diudara ketika dia melangkah memasuki kamar.

Lelaki itu jelas mabuk.

"Lo siapa sebenarnya?" tanyanya dengan suara parau.

Napasku tertahan ditenggorokan. Tubuhku membeku--terlalu panik untuk menghadapi situasi tak biasa ini. Hanya tanganku yang dapat bereaksi dengan meremas kencang tepian kasur yang kududuki.

Sebelum aku sempat berpikir, Aksa maju dan menyergapku sampai aku terbaring kembali di kasur. Kedua tangannya seperti jeruji yang memenjaraku. Bau alkohol seketika memenuhi indera penciumanku, kali ini lebih menusuk.

Aku hanya mampu untuk menatapnya lurus. Lelaki itu mengangkat tangan dan mengamit daguku, lantas mengamati setiap sudut dari wajahku lekat-lekat.

"Iya, nggak salah lagi, emang lo orangnya,"

Lalu, tanpa aba-aba, tubuh Aksa yang berat ambruk diatas kasur, setengahnya menimpa tubuhku yang jauh lebih kecil dibandingnya.

***

Tatapanku terus terarah pada langit-langit kamar yang berwarna putih. Entah sudah berapa lama waktu berlalu... suara dengkuran halus yang teratur terdengar dekat sekali di telinga kananku.

Bau alkohol yang menyengat itu masih mengganggu dan tentunya memuakkan, tapi lama-lama hidungku seolah terbiasa.

Debar jantungku yang awalnya ramai kini sudah kembali tenang, kepanikan yang tadi sempat melandaku juga sudah sepenuhnya hilang.

Aku menarik napas pelan.

Satu hal yang kusyukuri dari mendapat begitu banyak cobaan hidup adalah, aku jadi terbiasa menghadapi hal buruk yang bahkan tak pernah kubayangkan bisa terjadi.

Dan satu hal yang kucamkan, selama aku masih berakhir hidup, maka semuanya masih bisa dibuat menjadi baik-baik saja, seburuk apapun keadaannya.

Mengumpulkan tenaga, aku berusaha mendorong tubuh Aksa yang menimpaku. Butuh beberapa kali percobaan sebelum tubuhku benar-benar terbebas dari kungkungannya.

Aku bangkit berdiri dan menatap punggung lebar lelaki itu--sama sekali tak merasa terkesan.

Sebenarnya, aku bisa saja kabur sekarang. Tapi tidak, semakin dipikirkan, semakin aku yakin kalau kabur bukan pilihan bijak untukku saat ini. Setidaknya, aku harus bisa mendapatkan pekerjaan terlebih dulu, karena sungguh, luntang-lantung di kota besar seperti Jakarta juga terdengar seperti ide yang sama mengerikannya dengan bekerja dibawah bos seorang Aksa.

He Was My First KissCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang