Chapter 14

61.7K 3.6K 33
                                        

Aku menatap pantulan diriku lagi. Kali ini di cermin meja rias suatu kamar yang terasa begitu asing.

Aku sudah mandi dan berganti pakaian. Tadi Tante Ivana membawakan satu stel piyama satin berwarna pink pucat, lengkap dengan celana dalam dan bra baru untukku.

Sekarang sudah pukul 10 malam—baru saja aku dan keluarga Aksa selesai barbekyuan di halaman belakang. Tanpa menutup-nutupi rasa penasarannya, Tante Ivana menanyakan semua hal yang ingin ia ketahui. Aku tak bisa banyak mengelak karena beliau bertanya begitu detail. Jadilah, Aksa juga tahu semuanya.

Terpaksa bersikap terbuka membuatku benar-benar merasa tak nyaman. Tapi untungnya, aku masih bisa menjaga beberapa rahasia penting dihidupku, yang tak boleh seorangpun tau.

Kelopak mataku memejam erat.

Hal apa lagi ini, Tuhan?

Dari semua orang didunia, kenapa harus orang tuanya Aksa yang mengenal orang tuaku?

Sejak tadi, hatiku terus diliputi gelisah. Tak pernah terbayang dibenakku bahwa suatu hari aku akan bertemu dengan orang-orang yang mengenal almarhum Mama Papa.

Selama ini, tak ada yang tau tentang masalah keluargaku. Semua kenangan pahit itu terkunci rapat— tak pernah aku bagi pada siapapun. Kenyataan bahwa ada orang lain yang tau semua hal menyedihkan yang menimpa keluargaku tak ayal membuatku merasa rapuh...

Dan aku paling benci merasa begini.

Tok tok tok—

Saking seringnya pintu kamarku diketuk, aku sampai hafal kalau itu pasti Aksa.

Haaahhh... kenapa aku membiarkan diriku terjebak dalam permainan truth or dare sialan itu? Dasar bodoh!

Saat suara ketukan kembali terdengar, aku beranjak untuk membuka pintu.

"Kenapa?"

"Mau ngecek keadaan kamu aja."

Aku menghela napas lelah. "Kalau tau akhirnya begini, aku nggak akan..."

Cengiran lebar terulas di bibir Aksa. "Aku juga nggak tau orang tua kita saling kenal."

"Kamu kenapa tadi nggak bantuin aku sih?"

"Bantuin apaan?"

"Ya bantu jawab pertanyaan dari Mama kamu tentang hubungan kita! Bantuin ngarang kek, aku tuh nggak jago bohong."

"Nggak bisa. Mama kan, maunya ngobrol sama kamu."

Aku mendengus sebal. Itu jelas tak bisa jadi alasan!

"Mama lagi nangis di kamar."

Ucapannya sontak membuat mataku melebar. "Kenapa??"

"Katanya ngerasa bersalah sama kamu."

"Hah... bersalah kenapa?? Padahal aku nggak apa-apa..."

"Mama memang gitu, bawel, sensitif, tukang ikut campur." Aksa tersenyum. "Dia pikir, harusnya dulu dia cari cara biar bisa urus kamu dan Javier,"

Aku termenung. "Ya Allah... Tante..."

"Kalau Mama tau kamu kerja jadi pembantu gimana ya?"

Aku melotot, ngeri sendiri membayangkan reaksi Tante Ivana. "Jangan sampai tau deh!"

Aksa bersandar pada tembok dan melipat tangannya di dada. Dari gelagatnya, ia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu-ragu.

"Apa? Ngomong lah, aku nungguin nih." desakku tak sabar.

Lelaki itu tersenyum. "Aku cuma lagi mikir kalau kamu hebat, Aria."

"Hebat? Hebat apanya?"

"Hebat bisa laluin semuanya. Denger cerita kamu, aku jadi kasihan."

He Was My First KissCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang