Deg-degan sendiri nulis chapter ini... btw, follow dulu yuk! Biar kalau ada update, kalian bisa langsung tau 💕 thank youu
***
AKU menatap Aksa dalam-dalam, keningku berkerut heran. Cowok ini kenapa sih? Masih mabok kali ya?
"Nggak, bukan itu tanggung jawab yang aku maksud." kataku sambil membebaskan lenganku yang dicekal olehnya. "Tanggung jawab buat jelasin ke Mama kamu, kalau kita itu nggak ada hubungan spesial apa-apa."
Aksa memasukan kedua tangannya ke saku celana. "Kalau itu sih... nggak mau ah."
"Kok gitu sih??" protesku tak terima.
"Kamu nggak liat apa, Mama sayang banget sama kamu," jawab Aksa. "Nanti Mama sedih, kalau tau kita putus."
Hatiku bertambah gusar mendengarnya. "Ya gimana dong... aduh, bingung banget ah!!"
Si Aksa sialan malah cengengesan. "Ya udah, beneran pacaran aja, beres kan?"
Aku mendelik. "Nggak maulah!"
"Kenapa memangnya?" tanya Aksa.
"Ya ngapain coba kita pacaran? Punya perasaan satu sama lain aja nggak." jawabku.
"Hmm, kalau aku ada perasaan ke kamu, gimana?"
Mendengar perkataannya, bulu kuduku langsung meremang. "Hiii, jangan aneh-aneh deh."
"Lho? Kenapa? Kamu kan cewek, aku cowok, ya bisa aja dong, saling suka."
Keningku berkerut, dalam hati sama sekali tak setuju akan gagasan itu. "Emangnya Mas Aksa suka sama aku?"
"Kalau iya, gimana? Jangan ngancem resign segala, lho, pengecut itu namanya."
Ucapan Aksa sukses membuat aku syok. "Hah? Ih! Jangan ya!"
Alis lelaki itu terangkat sebelah. "Jangan apa?"
"Jangan suka sama aku!"
"Kalau udah suka, gimana?"
Aku mengerjap. Tubuhku membeku selama beberapa detik. Tiba-tiba, tatapan Aksa berubah serius. Hah? Beneran? Gila gila! Refleks, kakiku mundur beberapa langkah.
"Bercanda kan?" tanyaku.
Aksa menggeleng. "Serius."
"Mas Aksa suka sama aku?"
Kali ini ia mengangguk. "Iya."
Tengkukku mulai terasa panas-dingin, kakiku terus melangkah mundur. Benar-benar jengah, aku berlari ke kamar dan mengunci pintu.
Ih!!! Yang bener aja sih!!!!
***
Aku mengepak baju dan barangku kedalam tas ransel hitam dan dua tas belanja besar. Setelah semua beres, aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Ah... akhirnya hari terakhirku di kamar ini tiba juga.
Tekadku untuk pergi sudah bulat. Tak mungkin aku tetap di rumah ini ketika Aksa sudah jujur kalau ia menaruh perasaan spesial padaku.
Lagi-lagi aku merinding.
Terlalu berbahaya... Aku tahu, aku tak akan bisa menahannya semisal dia berniat macam-macam. Yah... bukannya aku menuduh dia bisa setega itu—aku bisa nilai kalau Aksa yang sekarang sudah jauh lebih baik dibanding Aksa jaman SMA. Tapi siapa tahu, kan? Lebih baik mengambil langkah prefentif dari pada menyesal di kemudian hari.
Lagi pula, kalau dipikir, sejak awal, untuk kami tinggal bersama di satu atap saja sudah salah.
Aku membaca kembali kertas yang barusan kutulis;
KAMU SEDANG MEMBACA
He Was My First Kiss
Storie d'AmoreCOVER BARU Jadi ART di rumah seorang laki-laki brengsek yang pernah menciumnya saat SMA hanya karena kalah taruhan?? Aria rasanya ingin kabur saja saat tau siapa majikannya, tapi situasinya tak semudah itu, ia benar-benar butuh uang untuk bertahan h...
