Aria POV
"MAKASIH Ri, bantuannya. Saya senang deh, ada perempuan lain di kantor ini." ujar Mba Andina sambil tersenyum ramah. Aku baru saja selesai menyeleksi beberapa CV untuk lowongan host live shopping. Karena belum punya jobdesc yang jelas, aku berinisiatif untuk membantu pekerjaan Mba Andina hari ini.
"Sama-sama Mba, senang bisa bantu."
"Saya pulang dulu ya, kamu ngekos dimana?"
"Eem—"
"Di daerah Cilandak, searah sama saya Mba."
Suara Aksa yang datang tiba-tiba membuatku refleks menoleh. Entahlah seharian ini laki-laki itu pergi kemana.
"Ooo gitu, yaudah saya duluan ya."
Aku mengangguk. "Hati-hati Mba."
"Ada masalah apa ?" tanya Kak Rimba yang duduk di sudut ruangan.
Aksa terdengar menghela napas panjang sebelum menjawab. "Barang bakal datang lebih lama dari perkiraan."
"Waduh? Terus gimana?" timpal Kak Adimas.
"Besok deh, kita meeting sama si Ben juga. Gua balik duluan ya. Ayo."
Aku yang tengah serius mendengarkan jalannya percakapan terlonjak saat Aksa tiba-tiba menatapku.
"Eh? Kemana?"
"Ya balik lah."
"Kalian tinggal bareng?"
Pertanyaan Kak Leo sontak membuatku melotot horor. "Nggak! C-cuma searah kok!"
"Lah, tenang aja kali Ri, gue nggak bakal panggil Pak RT buat gerebek kalian." seloroh Kak Leo.
"Nggak kok, beneran Kak, kita cuma searah." jelasku sambil menatap Aksa panik. "Ya kan?"
Lelaki itu tampak menyebalkan dengan seringaian lebarnya. "Iya, iya." sahutnya, tak membantu sama sekali. "Yaudah, ayo balik."
Tak punya pilihan lain, aku mengekori Aksa sampai ke parkiran.
"Mulai besok, kita berangkat sama pulangnya jangan bareng." kataku di dalam mobil.
"Lah? Kenapa?"
"Aku nggak mau disangka kumpul kebo sama kamu!" jawabku kesal.
Aksa terkekeh. "Nggak kok, tadi itu si Leo cuma bercanda. Dia memang suka iseng anaknya."
Keningku berkerut. "Beneran? Aku nggak mau ada gosip aneh-aneh tentang kita."
"Nggak, lah. Lagian wajar kalau pulang searah saling nebengin."
Alih-alih lega, jawaban Aksa malah membuatku semakin tak tenang. Ugh. Jangan sampai orang-orang mengira aku dan dia punya hubungan spesial!
Tak lama, mobil berbaur dengan kendaraan lain. Kondisi jalanan padat sekali. Tak heran, karena jam-jam segini memang waktunya orang pulang kerja.
"Ini serius nyampe jam 8 kerumah?" tanyaku sambil menunjuk ke GPS.
"Yah beginilah, macetnya Jakarta." jawab Aksa. "Makanya aku suka balik jam 9 malem, soalnya jalanan udah nggak semacet ini."
"Yaudah, besok, aku balik duluan aja naik umum, kamu di kantor aja tungguin jalan sepi."
Aksa melirikku. "Serius mau empet-empetan kayak gitu?" tanyanya sambil menunjuk kearah bus transjakarta yang penuh.
"Naik ojol kan bisa." kataku kekeuh.
"Ongkosnya bisa sampai 50ribu lho, aku udah pernah."
Aku melotot mendengarnya. 50 ribu?? Kalau sesekali sih nggak apa, tapi kalau tiap hari...
KAMU SEDANG MEMBACA
He Was My First Kiss
RomanceCOVER BARU Jadi ART di rumah seorang laki-laki brengsek yang pernah menciumnya saat SMA hanya karena kalah taruhan?? Aria rasanya ingin kabur saja saat tau siapa majikannya, tapi situasinya tak semudah itu, ia benar-benar butuh uang untuk bertahan h...
