Aksa POV
KANTOR Aksa terletak di suatu kompleks ruko bergaya modern di daerah Bintaro. Ia join dengan teman-temannya untuk menyewa ruko 3 lantai ini. Lantai 1 dibuat jadi coffee shop, lantai 2 dibuat jadi office, lantai 3 dibuat jadi studio live streaming dan juga studio foto.
Bisnis sepatu yang Aksa bangun sudah berjalan selama hampir 5 tahun. Brandnya bernama 'Anecdote', dengan fokus penjualan pada marketplace online.
Awalnya, Aksa membangun bisnis sepatu bersama dengan Ben—teman kuliahnya, untuk memenuhi mata kuliah Entrepreneurship. Tapi siapa sangka, bisnisnya lancar dan terus berkembang sampai sekarang.
Kalau dibanding, tampilan Aksa dan Ben seperti langit dan bumi. Aksa terlihat berandalan dan sangar dengan gayanya, dan Ben sebaliknya, bergaya culun, sama sekali tak mencolok. Siapa sangka keduanya ternyata cocok menjalankan bisnis bersama. Aksa dengan ide dan langkah beraninya, serta Ben dengan kejeniusan dan pengetahuannya—seperti puzzle, mereka melengkapi satu sama lain dalam melancarkan bisnis sepatu impor ini.
Kantor mereka juga telah diisi oleh beberapa karyawan. Ada Adimas, seorang graphic designer, Leo, seorang Social Media Manager, Rimba, seorang Sales Manager dan Mba Andina, seorang HRD. Semuanya, kecuali Mba Andina adalah teman sekampus Aksa dan Ben.
"Aku Alexandria—biasa dipanggil Aria."
Aksa memerhatikan Aria yang menyalami satu persatu rekan kerjanya.
"Oh, jadi ini inspirasi brand Aria's Project?" tanya Leo.
Aria tersenyum canggung. "Ngg, sebenernya, nggak gitu ceritanya... eh, gimana ya jelasinnya?"
"Bahaya nih, kalau kalian putus, ntar gimana?" celetuk Rimba, yang langsung disambut gelengan kepala Aria.
"Aku bukan pacarnya Mas Aksa, kok!" kilah cewek itu.
"Mas Aksa?? Cieee sejak kapan jadi Mas-mas lu?" goda Leo.
Aria menatap panik kearah Aksa, tapi yang ditatap hanya nyengir lebar, menikmati situasi yang menurutnya terasa lucu ini.
"Bahaya nih, sekantor jangan-jangan pacaran mulu ntar kerjanya." Mba Andina menimpali sambil tersenyum jahil.
"Aku bukan—"
"Aman kok Mba, tenang aja." Aksa memotong perkataan Aria, yang langsung dibalas ekspresi tak terima dari perempuan itu.
Aksa rasanya ingin sekali tertawa. Benar-benar deh. Cewek ini lucu.
"Nih, Aria, tempat duduk kamu." Aksa menunjuk kearah meja kosong disamping meja Mba Andina. "Laptop sama handphone yang diatas meja dipakai aja, itu memang buat kamu kerja dan bikin konten."
Aria duduk dikursinya, kentara sekali masih merasa kikuk.
"Tolong kamu create akun sosial media sama marketplace Aria's Projects, ya. Email segala macemnya juga tolong diurusin." ujar Aksa.
Aria mengangguk. "Oke Mas."
"Aksa." Ben yang sedari tadi serius didepan laptopnya tiba-tiba bangkit berdiri. "Ada yang mau gue diskusiin, dibawah ya."
Aksa mengikuti Ben menuruni tangga kearah coffee shop tempat mereka berdua biasa brainstorming.
"Kenapa Ben? Ada masalah?"
Ben mengangguk. "Cukup serius." ujarnya sambil memutar laptop kearah Aksa.
Aksa membaca berita berbahasa inggris yang terpampang dilayar laptop.
Kapal kargo tenggelam di laut cina selatan karena dihantam badai.
"Ini kapal yang angkut barang kita?" tebak Aksa.
KAMU SEDANG MEMBACA
He Was My First Kiss
RomanceJadi ART di rumah seorang laki-laki brengsek yang pernah menciumnya saat SMA hanya karena kalah taruhan?? Aria rasanya ingin kabur saja saat tau siapa majikannya, tapi situasinya tak semudah itu, ia benar-benar butuh uang untuk bertahan hidup. _____...
