AKU menatap Aksa dengan sorot mata horor.
Sungguh, dia tampak sudah baikan dengan senyumannya yang tengil itu.
"Nggak." jawabku mutlak. "Nggak mau."
"Yah, kenapa?"
"Nggak, ih, amit-amit deh."
Dari ekspresi wajahnya yang berubah kecut, kurasa jawabanku sedikit menyentil egonya. "Emang aku seburuk itu ya dimata kamu?"
Aku mengangguk mantap. "Red flag banget. Black flag malah. Kamu juga bukan tipe aku banget."
"Oh ya? Memang tipe kamu yang gimana?"
"Yang nggak banyak tingkah, ahli ibadah, bikin adem kalau diliat." jawabku sekenanya.
"Hmm."
Aku menarik tanganku dari atas dada Aksa, kali ini dengan sekuat tenaga.
"Kalau aku bisa jadi cowok kayak gitu, kamu mau jadi pacar aku?"
Keningku berkerut. "Kalau ahli ibadah, nggak bakalan mau pacaran kali."
"Langsung nikah gitu ya, maunya? Tapi mending pacaran dulu nggak sih? Biar kita saling kenal dulu."
Aku menatap Aksa lurus. "Mas Aksa jangan aneh-aneh." tegurku dengan nada rendah. "Aku berhenti kerja aja, kalau Mas Aksa begini."
"Eh, jangan dong. Iya iya, tadi cuma bercanda kok. Nggak asik ah."
Sebelah alisku terangkat. "Nggak serius kan?"
Aksa menyeringai, menampakkan ekspresi isengnya yang mulai.terasa familiar "Maunya serius apa nggak?"
Aku mendengus. "Udah, sih, istirahat, orang lagi sakit juga, masih iseng."
Aksa mengambil handphonenya yang bergetar disaku, ia tampak membaca sebuah pesan, lalu jemarinya mulai lincah mengetik balasan. Melihatnya sibuk sendiri, aku juga turut mengambil handphone di tas slempang dan mulai mencari-cari lowongan kerja lagi.
"Liat apa?"
"Lowongan kerja—heh!"
Aku terkejut saat tiba-tiba handphoneku dirampas paksa.
"Eh! Balikin nggak?" Tanganku berusaha mengapai-gapai benda itu. "Mas Aksa!"
"Lowongan kerja tamatan SMA di Malang?" Aksa menaikan sebelah alisnya, jemarinya sibuk scroll-scroll layar handphoneku. "Kamu mau kabur ke Malang?"
"Bukan kabur. Keluargaku sebagian emang di Malang."
"Kerjaan gini, gajinya kecil tau."
"Iya, tau, kok." Aku merampas kembali handphoneku dengan kasar. "Aku kan cuma tamatan SMA."
"Kamu lagi butuh uang?"
Aku menatap Aksa, kali ini dengan raut wajah tak suka yang terpampang jelas. "Siapa yang nggak butuh sih? Oh—kalangan orang kaya macem kamu sih nggak bakal paham."
Lelaki itu tiba-tiba bangkit duduk. "Aku ada offering nih, buat kamu."
Aku berdiri untuk membetulkan posisi bantalnya agar lebih tinggi. "Emang udah nggak nyeri?? Baring aja dulu."
"Udah enakan kok."
"Ini kenapa bisa kambuh GERDnya? Bukan gara-gara nasi goreng tadi pagi kan?" tanyaku, teringat nasi goreng cabe ijo yang aku buat untuk sarapan.
"Bukan, tadi kayaknya gara-gara kopi di kantor terlalu strong."
Kepalaku menggeleng. "Masih aja nekat minum kopi. Lain kali kalau tau punya GERD, dijaga apa yang masuk ke mulut."
KAMU SEDANG MEMBACA
He Was My First Kiss
RomantikCOVER BARU Jadi ART di rumah seorang laki-laki brengsek yang pernah menciumnya saat SMA hanya karena kalah taruhan?? Aria rasanya ingin kabur saja saat tau siapa majikannya, tapi situasinya tak semudah itu, ia benar-benar butuh uang untuk bertahan h...
