Chapter 9

76.2K 4.8K 129
                                        

Tok tok tok tok--

Aku membuka mataku yang terasa rapat dan lengket. Tak lama kemudian, telingaku menangkap suara adzan shubuh yang sayup-sayup berkumandang di kejauhan.

"Aria, ayo, katanya mau sholat shubuh ke masjid."

Aku mengerjap beberapa kali saat mendengar suara khas Aksa dibalik pintu.

"Iya, bentar."

"Nanti telat lho."

Bibirku refleks mengulas senyum. Astaga. Excited banget ya, mau sholat shubuh ke masjid?

Aku segera bangkit dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar. Cepat-cepat aku cuci muka dan sikat gigi, lantas berwudhu dan memakai mukena.

Aku mengamit tas slempang kecilku sebelum keluar. Tampak Aksa sedang duduk di bangku taman yang menghadap ke arah kolam renang.

"Kok pake itu?" tanyanya saat melihatku.

"Apa? Mukena?"

Aksa mengangguk.

"Aku juga sekalian sholat di masjid aja."

"Oh."

"Kamu bawa sarung?"

"Sarung?"

Aku mengernyit. "Jangan-jangan nggak punya sarung ya?"

Aksa bergeming sejenak sebelum mengangkat bahu. "Kayaknya ada, nggak tau dimana sih."

"Parah. Yaudah nggak apa-apa, pake celana panjang juga bisa."

"Ok."

"Ayo berangkat!"

Dengan langkah terburu-buru aku beranjak keluar rumah. Letak masjid sebenarnya dekat, tak jauh dari gerbang masuk cluster. Tapi jarak antara adzan dan iqomah biasanya pendek.

"Pagi Neng Aria, lho, ada Mas Aksa juga toh?" sapa Pak Burhan.

"Pagi, Pak." Aksa tersenyum sambil mengangguk sopan.

"Mau ke masjid ya?"

"Iya nih Pak, duluan ya." jawabku sambil melangkah cepat.

Iqomah terdengar saat kami sampai ke gerbang masjid kecil berwarna hijau muda itu. Meskipun kecil, masjid ini dirawat dengan baik oleh warga sekitar. Bersih dan wangi, nyaman dipakai untuk beribadah.

"Nanti kalau udah selesai, kamu balik duluan aja, aku mau lanjut belanja." kataku sebelum memasuki pintu khusus wanita.

Selepas sholat, aku langsung pergi ke arah pasar pagi untuk membeli bahan makanan. Sengaja aku tak membeli banyak, toh, aku akan keluar dari rumah itu dalam waktu dekat.

Dengan langkah yang diayun riang, aku kembali menuju ke rumah. Memikirkan akan segera terbebas dari situasi ini benar-benar membuatku senang! Hari ini, yang aku perlu hanya mendatangi kantor Pak Boss untuk pamit!

"Seneng banget sih Neng."

Suara Aksa yang tiba-tiba muncul dibelakangku membuatku loncat kedepan. "Heh!! Bikin kaget aja! Kirain udah di rumah?"

"Tadi denger khutbah shubuh dulu. Menarik materinya."

Mataku membulat, sama sekali tak menyangka akan jawaban itu. "Oh ya? Bagus dong! Emang bahas apa?"

"Kematian."

"Waduh? Dark banget."

"Pembawaan ustadznya bagus, buat kita jadi mikir."

Mendengarnya, kedua sudut bibirku refleks terangkat. "Jadi sekarang mau insyaf nih?"

Aksa balas tersenyum tipis. "Mungkin."

He Was My First KissCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang