[Brothership, Friendship, and humor but this Angst story]
Kalian tau keterkaitan antara bunga matahari dan matahari?
Ya, benar. Bunga matahari itu, selalu mengikuti kemana arah mataharinya.
Sayangnya, untuk mereka yang diumpamakan sebagai bunga mat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Keadaan kembali tenang namun juga penuh gundah gelisah dari masing-masing manusia yang ada di sana. Sebelumnya, dua bocah sudah dibawa Sela dan Melisa yang suka rela mengajak bayi-bayi itu berjalan-jalan, ya keduanya tidak mau tidur, mau tak mau harus diajak main.
Kini Tersisa Anna, Jay, Seno, Saka dan Hesa di ruang rawat itu. Mereka saling terdiam seolah hidup mereka tengah berhenti di sana. Tak ada suara apapun yang menyapa telinga, ada Jay duduk di sofa dengan Anna di sisinya, Seno, Saka dan Hesa juga berbaring di ranjang masing-masing. Larut dalam lamunan dan air mata.
Dalam keheningan itu, pintu terbuka menampilkan wajah Danar yang terlihat sembab. Anna pertama kali menyadari langsung bertanya, "Om gimana keadaan Tante Jena?" Anna langsung bertanya sebab iyalah yang sempat menahan tubuh Jena yang tiba-tiba kehilangan keseimbangannya di lorong rumah sakit.
"Belum sadar, dia syok banget," ucapan Danar dengan nada lesu, namun jadi sebuah pisau yang lebih menyakiti mereka.
"Om? Ibu dah sadar?" tanya Saka, ia tadi sempat menanyakan pada Sella, katanya Ibunya pun tumbang, tetapi tubuhnya belum mampu untuk bergerak menemui Sekar.
"Tadi belum sadar, Ka. Tapi kondisinya stabil kok," balas Danar sebagaimana adanya, ia berjalan ke sisi Hesa, melihat ke arah sang putra yang menatapnya penuh arti.
"Papa? kenapa gak Hesa aja yang mati."
Danar yang sebelumnya sudah mengeringkan air mata lagi-lagi harus menangis karena ucapan Hesa. Pria itu lebih mendekat pada putra pertamanya.
"Nak, jangan ngomong gitu," Danar duduk di kursi sisi Hesa yang terbaring lemah, putranya terluka cukup parah dibandingkan yang lain di ruangan ini.
Hesa menggelengkan kepalanya ribut. "Tapi Hesa itu Abang yang buruk, Hesa gak bisa lindungi Adek, Hesa gagal, Pa. Adek harusnya masih di sini sama Hesa, atau biar aja Hesa yang gak ada, biarin Juna di sini sama Mama Papa, itu jauh lebih baik Paaa, kenapa Juna kenapa, kan ada Hesa yang lebih ga berguna," ucapannya cepat, bergetar, matanya menatap kosong ke langit-langit ruangan seakan Hesa tidak lagi normal di sana.
"Ngga, ngga," Danar meraih tangan putranya, kepalanya menggeleng beberapa kali. "Ngga ada yang lebih baik jika sudah menyangkut kehilangan Hesa. Mau kamu atau Juna, nyatanya kehilangan kalian bikin Mama Papa gak rela. Meski nyatanya kita nggak bisa apa-apa, Juna memang udah pergi. Ini bukan salah kamu..." Danar mencoba menjelaskan tetapi Hesa terlihat diam saja dengan tatapannya yang kosong, tangannya juga dingin meski berkeringat.
"Papa juga gak ikhlas, Sa." Kepala Danar menunduk, masih menggenggam erat tangan putranya. "Sama sekali nggak... Tapi gimana? Kita gak bisa bawa dia balik, Nak..."
Benar, Hesa tau itu. Tapi karena dirasa ia belum lama berbaikan dengan Juna, rasa sesal membuat Hesa lebih tersakiti. Kepala dan dadanya ingin meledak saat ini juga. "AARGHHH!" teriaknya tiba-tiba, mengagetkan seisi ruangan. Kecuali Seno, lelaki itu benar-benar larut dalam lamunannya.