"Maaf.. Maafin gua, gua.. gua minta maaf.."
-----------------------------------------------------------------------------------
Jaki terdiam sejenak, cukup terkejut dengan apa yang Krow lakukan, karena sebelumnya ia tidak pernah melihat Krow seperti itu, kepada siapapun.
Jujur, hati Jaki sangat tidak tega melihat Krow yang seperti itu, namun logika nya berkata lain. Apakah sakit dibalas maaf itu adil?
"Jaki, gua tau gua salah, seharusnya gua nolongin lu, seharusnya gua-"
"Telat, Krow. Sekarang bukan waktunya buat nyesel, gada guna. Semuanya udah terjadi, nyesel ga bikin tubuh gua balik sembuh." Damn, kalimat yang Jaki keluarkan mampu membuat seisi ruangan terdiam, bahkan mami dan Garin juga ikut terdiam dan terkejut.
Krow mengangkat kepalanya dan menatap kearah Jaki, Krow cukup terkejut melihat wajah Jaki yang sudah berlinang air mata sembari memalingkan wajahnya, tidak menatap Krow sama sekali.
Garin dan Caine dengan segera menghampiri Jaki dan menenangkannya. Jaki menangis karena perasaannya saat ini sedang campur aduk, antara tidak tega dan kecewa.
"Jak.. Maafi-" masih dengan wajah terkejutnya, Krow meraih tangan Jaki, namun sayangnya Jaki langsung menghempaskan tangan Krow begitu saja.
"Gua pikir-pikir dulu. Rasa kecewa gua cukup besar sama lu, Krow. Sekarang tolong keluar dari kamar ini."
"Gua.. diusir?" Garin kesal dengan Krow yang sepertinya masih terkejut sedari tadi, ia menarik kerah Krow untuk berdiri dan menyeretnya keluar kamar.
"Gausah pura-pura budeg, dibilang keluar ya keluar." Garin menutup pintu cukup kencang didepan muka Krow.
Krow yang masih tidak percaya pergi ke Pantai belakang, mencoba menenangkan pikirannya. Saat ini yang ada dipikirannya hanyalah Jaki, Jaki, dan Jaki.
'Sial.. Gua bener-bener ngelakuin kesalahan yang fatal. Padahal dulu lu kalau sakit manggil gua, sekarang gabakal kayak gitu lagi, ya?' batin Krow, ia memikirkan perbedaan sikap Jaki, ia juga bingung kenapa dirinya merasa sakit hati? Kenapa dirinya merasa sedih? Ntahlah, semua masih belum terjawab.
'Bener, cinta bikin bodoh, seharusnya gua nolongin Jaki yang notabene-nys sahabat gua dari kecil.. Ck, Krow tolol..' batin Krow, ia menyesali perbuatannya.
"Seandainya gua ga ngambil keputusan kayak gitu.." Monolog Krow ternyata didengar oleh seseorang, ia menepuk pundak Krow dan duduk disampingnya.
"Kenapa? Lagi ada masalah?" Krow terdiam, ia bingung harus menceritakannya atau tidak, namun karena ia juga sedang butuh saran, jadi dirinya menceritakan semuanya kepada wanita berambut biru ini.
"Jadi gitu Key, iya ini emang sepenuhnya kesalahan gua, gua cuman mau cerita aja."
"Jujur denger cerita dari lu gua cukup kesel sama lu, tapi setelah gua amati, lu juga posisinya gatau, kan? Salah lu karena ga respon call Jaki, dan langsung berasumsi gitu aja." Krow terharu dengan tanggapan Key, bisa-bisanya dia mengerti apa yang Krow rasakan tanpa merespon dengan kasar.
"Gua ga membenarkan lu, cuman memang manusia ga luput dari kesalahan, tapi Jaki juga wajar kalau ga maafin lu, dia punya hak buat itu. Kesalahan tetap kesalahan. Anggap aja kalau ini sebagai hukuman buat diri lu, agar kedepannya lu bisa lebih baik lagi dan ga ngulangin kesalahan kayak gini lagi. Ngerti?"
Key merentangkan tangannya, melihat mata Krow yang sudah berkaca-kaca, ia dengan segera membawa Krow ke dekapannya. Mengelus punggungnya untuk menenangkannya.
"It's okay, nangis aja. Jangan nanggung beban sendiri, berat. Lain kali cerita ke gua ya? Tapi gua gabisa bantu lu biar bisa dimaafin sama Jaki, biar lu usaha sendiri buat nebus kesalahan yang lu perbuat, oke?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Jaki Chen ft TNF
Randommenceritakan perjalanan dan penderitaan yang dialami seorang pemuda bernama jaki chen saat berada di keluarga mafia yaitu Tokyo Noir Familia. ⚠️ warn bxb! please be wiser. ⚠️ krojaki slight krowchi & ginchi ⚠️ angst area! author cinta kesedihan. ⚠...
