FLASHBACK

3.1K 280 21
                                        

FLASHBACK.

Kini ia tiba di sebuah tempat yang biasa orang-orang sebut 'rumah.' Namun, apakah ini pantas disebut 'rumah'? Bagi nya, ini adalah tempat terburuk yang pernah ia temui.

Rumah seharusnya bukan hanya sekedar tumpukan batu bata dan atap, kan? Rumah adalah kanvas kehidupan, tempat di mana kenangan dilukis dengan warna-warni tawa, tangis, dan cinta. Di dalamnya, kita menemukan pelukan hangat keluarga, bisikan lembut rahasia, dan mimpi-mimpi yang bersemi.

Tapi tidak dengan pria bernama Jaki ini, ia tidak merasakan semuanya di dalam 'rumah' nya. Yang ia dapatkan hanya cacian dan makian yang dilontarkan dari mulut orang-orang yang ada di dalamnya.

Jaki tidak memiliki rumah. Rumah yang orang-orang katakan itu, hanyalah sebuah mimpi bagi dirinya. Ia tidak mempunyai tempat pulang, bahkan hanya untuk singgah dan beristirahat sejenak dari kerasnya dunia.

15.00

Hari ini, Jaki kembali ke rumahnya karena ayahnya yang memintanya. Ia sudah menolak, namun ayahnya mengancamnya menggunakan kelemahannya—kakaknya.

"Pulang juga kamu, sialan." Sambut pria dihadapannya, yakni ayahnya.

"Mau apa manggil kesini?" Jaki membalas, menatap benci terhadap ayahnya.

"Masuk!" Bentak ayahnya, namun Jaki hanya diam di tempat dan tau betul apa yang akan terjadi kedepannya.

"Ohh, berani sama saya? Nyawa kakakmu ada di tangan saya."

"Jangan sentuh kakak saya, sialan!" Jaki dengan terpaksa masuk ke dalam, tentu saja, dirinya di siksa oleh ayahnya. Ntah secara fisik, maupun mental.

-----

"Pembunuh!"

"Pembunuh kayak kamu ga pantes hidup, bajingan!"

"Kenapa kamu yang hidup, kenapa bukan istri saya?!"

17.00

Pria bersurai putih itu pulang ke rumah. Begitu melihat Jaki, ia dengan segera pergi ke kamarnya dan mengunci diri. Tanpa memperhatikan Jaki sama sekali. Jaki yang melihat itu sontak mengetuk pintu kamar kakaknya—Jack dan memohon untuk dibukakan.

"Kak, please .. Buka pintunya." Jaki mengabaikan luka di tubuhnya, dan memilih untuk mendapatkan maaf dari Jack, lagi dan lagi. Ntah sudah berapa kali dirinya mencoba berbicara dengan kakaknya, namun hasilnya nihil.

Tapi kali ini, suara kunci pintu terdengar seperti baru saja terbuka. Perlahan pintu di depannya terbuka, memperlihatkan Jack yang berdiri di sana. Mata Jaki berbinar penuh harap, namun sayangnya .. itu tidak berjalan seperti yang ia inginkan.

"Pergi, pembunuh. Berapa kali gua harus bilang? Pergi! Stop ganggu gua! Lu udah ngerenggut kebahagiaan gua dengan ngambil nyawa bunda, sekarang lu mau ngerenggut kebahagiaan gua lagi?! Pergi, pembunuh!" Jack membanting pintunya.

Kata-kata Jack membuat Jaki terdiam, hatinya begitu sakit mendengar perkataan yang dilontarkan oleh kakaknya. Selama ini, ia menahan sakitnya dipukuli, ditendang, dan disiksa oleh ayahnya hanya demi kakaknya.

Namun inilah yang ia dapatkan. Sebuah makian dari kakaknya yang begitu membekas di hatinya. Tidak. Dirinya bukan pembunuh. Hanya saja .. orang yang ia sebut 'bunda' meninggal saat sedang ada Jaki. Itu yang membuat semua orang menganggap bahwa Jaki adalah pembunuh.

Jaki keluar dari neraka tersebut, dan duduk di tepian Pantai. Menikmati riuhnya ombak. Berisik, tapi tenang.

"Bahkan aku yang adik kandungnya pun kalah dengan kamu yang merupakan ibu tiri, bun." Jaki bergumam sendiri, menatap kosong ke arah laut lepas.

"Aku bukan pembunuh.. Kalau bisa minta, aku minta aku aja yang pergi."

FLASHBACK END.

-----------------------------------------------------------------------------------

yang bingung, bunda yang di maksud adalah ibu tiri jaki dan jack. ini kejadian ceritanya sebelum si ayahnya ini meninggal, udah lama. chap awal. tapi kalo yang sebelumnya, itu di keadaan sekarang. si jack ini balik lagi buat dapet maaf dari jaki karena nyesel. ngerti kah?

btw jangan lupa di vote yaa! thank you! kalau ada saran or something bilang ya, nanti aku perbaiki. maaf kalau ada typo dan sebagainya.

see u on the next chapter!

Jaki Chen ft TNFCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang