27 What If

560 89 60
                                        


"Dia nggak kangen sama gue," ucap Ronald tiba-tiba.

Aliya terkejut dengan ucapan Ronald, siapa yang menyuruh laki-laki itu menjadi juru bicaranya?

"Gengsi dipelihara. Emang iya, Al?" Tanya Fernando memastikan. Dia ingin jawaban langsung dari orangnya.

"Dia cuma kangennya sama nasi goreng Bang Jo," ucap Ronald lagi.

"Buahahaaa... lo kalah saing sama Bang Jo, Ron? Hahahahaha..." Fernando tertawa puas sekali.

Sialan, batin Aliya. Kenapa Ronald jadi aneh sekali. Laki-laki itu mengucapkan hal-hal yang biasanya hanya dia timpali dengan mencebik. Sesuatu yang dianggap tidak penting oleh Ronald. Benar-benar aneh. Aliya mengamati mimik wajah Ronald dengan heran. Raut wajahnya datar. Tapi, laki-laki itu 'kangen' katanya? Perasaannya dibuat tidak karuan mendengarnya. Laki-laki itu semakin menyerupai teka teki.

"Lo pada ngapain ke sini?" Aliya ingin cepat-cepat menggeser topik. Tidak mau berlama-lama di topik yang sama. Membuatnya gugup saja.

"Dibilang ada yang kangen." Fernando yang menjawab.

Ronald mencebik kali ini.

Aliya terlihat kesal, karena Fernando lagi-lagi kembali ke kata itu. Dia pun kembali mengganti topik, "Kalian dari mana?"

"Makam Opanya dia, terus dia ngajak mampir sini, tuh. Mau ketemu lo," jawab Nyoman, kali ini dia jadi juru bicara Ronald. "Dari kemarin takut tuh sama pawang lo!"

"Pawang? Emang gue hujan punya pawang?" Seloroh Aliya, dia masih belum paham maksud omongan Fernando.

"Bukan hujan, tapi ular! Abang lo maksudnya..." ucap Fernando menjelaskan dengan tawa bercanda.

Sedang yang punya ide untuk datang bertemu Aliya malah sibuk memainkan korek api tanpa menyalakannya. Aliya memandang laki-laki itu. Apakah ini sebab Ronald jarang menghubunginya, serta hanya membalas pesan sekenanya? Kenapa?

"Katanya lo dimarahin Abang lo lagi?" Tanya Fernando, memastikan.

"Bilqiiiisss..." ucap Aliya. Dia menduga temannya itu yang menceritakan soal Mas Nino yang memarahinya sepulang mereka dari Lembang. Aliya memang cerita pada Bilqis. Alasan yang membuat Aliya tidak mau datang ke rumah Ronald untuk menemui Opanya sebelum meninggal. Ronald takut dengan Mas Nino?

Ronald melihat Aliya dari sudut ekor matanya. Dari tadi dia tidak bersuara perihal kakak Aliya. Dia membiarkan Fernando yang berbicara. Dia menunggu cerita dari Aliya sendiri.

"Ya gitu..." ucap Aliya lirih.

"Kenapa sih?" Fernando ingin tahu lebih banyak.

"Gue males bahas ini," ucap Aliya.

Ronald memandang Aliya sekarang. Perempuan itu sepertinya memang beneran dimarahi oleh kakaknya karena berhubungan dengannya. Mulai dari gara-gara ke pub, kemudian pulang malam dari Lembang. Dia sempat kesal pada Aliya karena tidak memenuhi undangan Opanya. Tapi akhirnya mengerti kondisi Aliya. Waktu itu Bilqis yang menjelaskan keadaan Aliya.

Saat kematian Opanya, Aliya bilang mau menemaninya. Ronald menaruh banyak harapan pada perempuan yang bisa mengerti dirinya. Untungnya perempuan itu juga masih menghubunginya. Tapi bayangan kemarahan kakak Aliya membuatnya galau bersikap. Apa keinginannya tidak malah menyusahkan Aliya?

"Halah, malah pada diem-dieman, dasar. Sok kalian bahas berdua aja. Lo ngomong Ron, daripada galau berkepanjangan. Gue cabut dulu, ada kerjaan. Jangan lupa lo ketemu Bang Wira, bahas manggung besok," ucap Fernando sambil beranjak pergi.

"Eh, Ndo... kok pergi siih," keluh Aliya. Dia gugup hanya berdua dengan Ronald. Fernando hanya melambaikan tangannya.

Tersisa Aliya dan Ronald, berdua dalam kecanggungan. Sepeninggalan Fernando, suasana jadi sepi. Tidak ada celoteh. Ronald mengamati Aliya, menebak-nebak apa perempuan itu tidak nyaman dengannya?

Toko MerahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang