"Gajah di pelupuk mata tak nampak."
Ronald bergumam pelan, namun bisa didengar oleh keempat orang lainnya. Piano berjenis upright itu selalu ada di sana. Tidak pernah berpindah rumah. Hampir setiap hari Ronald melihatnya. Tapi tidak pernah menyadarinya.
Mereka yang di sana tahu, nada-nada tingginya masih baik. Sedangkan nada-nada rendahnya rusak, tidak pernah diperbaiki. Selama ini tidak pernah kepikiran apa yang menyebabkan kerusakannya. Kali ini sepertinya pemikiran Ronald dan Aliya sama, mungkin ada sesuatu yang mengganjal dawai-dawai nada-nada rendahnya.
Ronald memandang Aliya, hatinya kacau tak karuan. Perempuan itu melipat tangannya di dadanya. Matanya melihat ubin lantai. Bibirnya terkatup erat. Ronald benar-benar kacau. Padahal saat itu dia butuh validasi dari perempuan itu. Apakah yang dipikirkannya benar tentang teka-teki itu. Dia akhirnya memanggil lirih, "Aliya..."
Aliya mengangguk kecil tanpa memandang Ronald.
"Bang Jo, kita tutup aja hari ini. Kunci pintu depan," perintah Ronald. Dan Bang Jo langsung melakukan perintah pemilik tempat itu.
Ronald memandang Fernando dan Bilqis yang sedari tadi kebingungan. Menyaksikan drama laki-laki perempuan yang tidak ada juntrungannya. Terus tiba-tiba dipusingkan dengan Aliya yang membahas untuk membongkar piano itu.
"Lo tahu cara bongkar piano ini?" Tanya Ronald.
Bilqis menggeleng. Dia hanya tahu membongkar resep minuman. Fernando juga menggeleng. Dia bisa memainkan piano, tapi tidak membongkarnya.
"Tolong cari tahu, kita bongkar piano ini," ucap Ronald. Sementara dia masih harus mengurus hatinya karena perempuan yang dari tadi bersikap dingin padanya.
Fernando dan Bilqis langsung sibuk dengan hp masing-masing.
Aliya berjalan pelan ke arah meja tempat biasa berkumpul. Menyandarkan tubuhnya ke meja. Tangannya masih terlipat di dada. Pandangannya masih melihat ke lantai. Kepalanya pusing, hatinya juga tak karuan. Kenapa kejadian ini bisa bersamaan. Harusnya dia senang ada pencerahan mengenai teka-teki itu. Tapi suasana hatinya benar-benar rusak.
Aliya sadar terlalu reaksioner dengan apa yang dilihatnya di kamar Ronald tadi. Dia belum tahu siapa perempuan itu. Ronald bilang mau memberikan penjelasan, meskipun laki-laki itu juga tidak berkewajiban menjelaskan. Aliya juga tidak punya hak untuk menuntut penjelasan.
Bukankah dia yang menginginkan area abu-abu itu. Kenapa dia malah mau pergi begitu saja? Sikapnya berlebihan, memalukan. Rupanya memilih area abu-abu itu selain memberi rasa menyenangkan, tapi juga punya konsekuensi: menyakitkan.
Sekarang Aliya hanya berpegang pada omongan yang sudah dia sampaikan pada laki-laki itu, memaksa hatinya tidak berharap lebih. Dia mau membantu laki-laki itu memaknai teka-teki itu. Piano itu, sekarang.
Ronald mendekat ke Aliya, kekacauan perasaannya belum reda. Dia masih ketakutan, meskipun Aliya tampak sudah lebih tenang.
"Aliya... dia saudara gue," ucap Ronald pelan.
"Bukan urusan gue, sorry tadi gue cuma nggak enak, udah lancang," timpal Aliya, pelan juga.
Ronald mencebik. Dia tidak suka banyak bicara, tapi dia ingin menyangkal omongan Aliya kali ini. Dia yakin bukan itu masalahnya. Meskipun Aliya bilang itu bukan urusannya, Aliya juga tidak menyalahkannya, tapi Ronald ingin menjelaskan pada perempuan itu. "Aliya..."
Aliya terlihat tidak acuh pada omongan Ronald. Perempuan hanya menunggu pada urusan bagaimana membongkar piano itu saja. Tidak mau membahas yang lainnya, "Bil, Nemu caranya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Toko Merah
Historical FictionRonald tiba-tiba tertarik dengan nenek moyang keluarganya, karena ada cerita tentang harta keluarga yang masih tersembunyi. Konon kakek dari kakeknya adalah orang yang sangat kaya. Sampai Ronald menemukan sebuah tulisan tanpa makna dari kakeknya. Di...
