Hari ini suram. Kelam. Langit akhir tahun begitu mendung, mendukung. Aku ke Toko Merah seperti biasanya. Menerima sapaan para pekerja yang kulihat saling berbisik-bisik setelah aku melewatinya. Mereka terlihat sedikit bergurau, menghibur diri dengan kondisi laut yang sedang tidak bersahabat. Merugi adalah hal yang mungkin datang, seraya keuntungan yang sudah didapat juga sudah tidak terbilang.
Aku masuk ke ruanganku meninggalkan Bang Jo dan Bang Ali di ruangan sebelah. Dari jendela, aku melihat ke arah sungai besar dengan banyak kapal kecil yang bersauh. Matahari pagi yang redup tingginya baru saja melewati atap bangunan di seberang sungai. Tetap membuatku silau, apalagi untuk mataku yang kurang tidur.
Seseorang tiba-tiba mengetuk pintu ruanganku yang terbuka. Paman Andries membawa kertas di tangannya. Kemudian duduk di depan mejaku. Wajahnya tidak sumringah. Aku menunggu apa yang akan dia sampaikan.
"Leon, kita merugi," ucapnya lirih.
Aku tahu, kapal-kapal terlambat datang dan pergi. Banyak barang yang membusuk, baik di gudang maupun di kapal. Untuk saat ini aku tidak peduli akan urusan perusahaan ini. Semua tinggal dijalani. Kerugian ini pasti akan digantikan oleh keuntungan di bulan-bulan mendatang. Bukan masalah besar. Mestinya Paman Andries tahu akan hal itu.
"Aku mengerti ini karena angin muson yang sedang tidak bersahabat dengan kita. Tapi aku rasa, kerjamu juga menurun. Mengapa, Leon?" Tanya Paman Andries. Sebuah peringatan yang keras.
Aku menanyakan maksudnya. Bagaimanapun carut kacaunya perasaan dan pikiranku, aku selalu berusaha menjalankan pekerjaan dengan baik. Kenapa dia menuduhku begitu?
"Kau sedang dibicarakan orang-orang. Aku tahu, kau sedang mendekati gadis yang bekerja di kantor pos itu bukan?"
Aku kira Paman Andries sudah tahu. Bukankah dia yang memintaku membuat pertimbangan yang panjang. "Apa yang salah kalau saya mendekati gadis itu?"
"Kau berniat menjadikannya gundik?"
Kenapa hampir setiap orang dengan mudah berpikiran seperti itu? Batinku.
"Kalau sampai Nona Marie tahu..." Paman Andries sempat menghentikan kalimatnya. Dia menatapku tajam, seolah mengharapkan aku sudah tahu resiko yang kuambil.
"Gadis itu menolak saya," ucapku lesu. Membuat Paman Andries tidak perlu menyelesaikan kalimatnya. Tapi kulihat dia juga terperangah dengan ceritaku. Seolah hal yang aneh, seorang perempuan menolakku.
Paman Andries mengangguk-angguk. Seperti bersyukur dengan penolakan yang aku alami, bukannya bersimpati. Dia tidak peduli bagaimana perasanku yang terasa begitu sakit.
"Jadi kerjamu menurun karena sedang sakit hati?"
Aku menjawab dengan menceritakan kalau itu baru terjadi kemarin. Aku mempertanyakan bagian mana dari pekerjaanku yang tidak baik. Semua sudah aku kerjakan dengan semestinya. Sebaik yang aku bisa. Dan penolakan Imah tidak ada sangkut pautnya. Penilaian Paman Andries begitu semena-mena.
Aku memang melihat ada hal yang janggal. Tapi aku belum sempat menelusurinya. Akhir-akhir ini prioritasku ke Imah. Sial, aku baru menyadari bagaimana perempuan itu mengganggu kinerjaku. Menyita perhatianku. Aku terburu-buru dalam menyelesaikan urusanku, karena selalu ingin cepat bertemu Imah.
Paman Andries mengetuk jari ke kertas yang diletakkan di meja kerjaku. Aku mendekat dan melihatnya. Kertas itu berisi catatan pendapatan dari pembayaran orang-orang yang menggunakan jasa pengiriman barang. Ada selisih angka. Memang cuaca sedang tidak mendukung. Merugi itu hal yang jelas. Biaya untuk berlayar membengkak karena kapal bisa jadi harus bersandar di beberapa dermaga lebih lama. Tapi selisih angka itu terlalu signifikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Toko Merah
Historical FictionRonald tiba-tiba tertarik dengan nenek moyang keluarganya, karena ada cerita tentang harta keluarga yang masih tersembunyi. Konon kakek dari kakeknya adalah orang yang sangat kaya. Sampai Ronald menemukan sebuah tulisan tanpa makna dari kakeknya. Di...
