"Dari sudut pandang manusia, gajah yang besar dihukum, sedangkan semut yang kecil disayangi?" Ronald yang bersuara. Suasana hening sesaat di ruangan itu, masing-masing menimbang kebenaran ucapan Ronald. Tapi laki-laki itu kembali bertanya, "Apakah kemudian yang besar selalu menjadi antagonis sedangkan yang kecil menjadi protagonisnya?"
Aliya menangkap pertanyaan itu sangat sinis. Apa Ronald merasa besar sebagai pemilik Toko Merah? Tapi sepertinya Aliya perlu meluruskan konteksnya. "Kita nggak pernah tahu kenapa Tuan Leon menuliskan ini. Nggak ada konteks. Pun di surat itu, pasukan bergajah memang antagonisnya."
Ronald terdiam. Aliya melihat jelas kalau Ronald tidak puas dengan hal itu.
"Ada lukisan yang lain nggak?" Tanya Aliya.
Ronald menggeleng, tidak ada atau tidak tahu. Dia menghela napas panjang. Dia beranjak ke jendela, duduk di sana. Mengeluarkan rokok dan korek dari sakunya. Iya, dia merokok. Kepalanya sudah terlalu penuh. Dari tadi perasaannya dibuat naik turun. Berulang kali disangkal membuat mood-nya merosot. Apalagi dengan perkara gajah dan semut.
Aliya bingung dengan mood Ronald yang tiba-tiba berubah. Aliya meletakkan perkara teka-teki itu, dia malah membuka kotak yang diberikan Ronald tadi. Mengeluarkan isinya. Puzzle tetris yang mesti disusun kembali menjadi sebuah kubus. Dia mengajak Bilqis dan Fernando bermain serta. Mereka malah heboh sendiri. Tidak memikirkan mengenai Toko Merah, maupun perkara teka-teki.
Ronald diam, tidak bisa menuntut. Bukan salah Aliya maupun yang lainnya. Dia yang memiliki urusan itu. Mereka hanya membantu. Dia yang punya Toko Merah, dia yang mestinya bertanggung jawab atas semuanya.
"Ronnie mana?" Tanya seseorang yang tiba-tiba menghampiri meja tempat Aliya dan dua orang lainnya yang sedang bermain puzzle.
"Eh, Mas Andi. Itu Mas," Fernando menunjukkan Ronald yang sedang di jendela.
Laki-laki itu lalu menghampiri Ronald. Ronald langsung mematikan rokoknya, turun dari jendela menyapa Mas Andi yang baru datang. Mereka terlihat langsung mengobrol. Santai namun serius. Mas Andi berbicara dihiasi senyum manisnya, sementara Ronald memperhatikan dengan seksama. Entah ada urusan apa.
Bilqis menyudahi bermain puzzle, Bang Jo memanggilnya. Tempat itu mulai ramai. Beberapa pengunjung mulai mengisi meja-meja di ruangan itu juga.
Di meja tadi, Fernando dan Aliya berdua saja untuk menyelesaikan puzzle itu.
"Dia emang gitu, Al. Tapi sebenarnya dia pemikir dan perasa," ucap Fernando pada Aliya secara tiba-tiba. Tanpa menyebutkan siapa subjek yang disebut 'dia'. Fernando tahu Aliya sudah mengerti.
"Bodo amat," tukas Aliya. Tampak tidak peduli.
Fernando hanya tersenyum tengil mendengar jawaban Aliya. Sepertinya dia sudah salah duga. Dia sudah salah mengartikan raut wajah dua orang itu yang tampak pusing. Sepertinya dua orang itu hanya kerjasama perkara Toko Merah dan teka-teki. Dia terlalu berlebihan mengartikan kedekatan mereka.
"Kalian lagi ngapain?" Tanya Mas Andi menghampiri Fernando dan Aliya. Sepertinya obrolannya dengan Ronald sudah selesai. Dia mengambil duduk di kursi Ronald tadi.
"Ini, mainan baru. Nggak tahu tuh Ronnie dapet dari mana," Fernando yang menjawab.
Mas Andi tersenyum. Senyumnya semakin lebar saat Bang Jo datang membawa pesanan Mas Andi, nasi goreng kencur. Juga minuman berbahan dasar teh.
"Makasih. Aku kangen nasi goreng ini," ujar Mas Andi sebelum Bang Jo kembali ke ruang depan.
Sebelum memulai menyantap makanannya, Mas Andi kembali bertanya. "Ini lukisan dari Opa Tom?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Toko Merah
Ficção HistóricaRonald tiba-tiba tertarik dengan nenek moyang keluarganya, karena ada cerita tentang harta keluarga yang masih tersembunyi. Konon kakek dari kakeknya adalah orang yang sangat kaya. Sampai Ronald menemukan sebuah tulisan tanpa makna dari kakeknya. Di...
