15 Sebuah Langkah

462 80 47
                                        


"Ron, kayaknya gue tahu cara bacanya."

Ronald terkejut dengan yang baru saja dia dengar. Dan Aliya  menyebut namanya dengan benar. Nadanya serius. Mendadak dadanya berdetak lebih cepat. Dia mengangguk kecil, mempersilahkan Aliya menjelaskan dan membuktikan.

Terdengar derit kursi yang digeser. Bilqis dan Nyoman merapatkan duduknya. Mereka berdua juga terlihat gugup dengan apa yang baru saja Aliya katakan.

Aliya mengeluarkan buku catatan kecil bersampul coklat bergambar ayam. Dan sebuah pena yang juga berwarna coklat bukan hitam. Aliya membuka beberapa halaman yang sudah terisi catatan dan berhenti di bagian yang masih kosong. Beberapa kata yang dia simpan dalam pikirannya tiba-tiba berkumpul dan saling berkelindan. Jawa... Rahasia... Sandi... Matamu...

Aliya menjadi pusat perhatian dari tiga orang yang duduk bersamanya. Wajah mereka menunggu dengan tidak sabar. Bingung dan penasaran bercampur aduk.

"Bil, cari tahu asal kata 'dagadu'!" Perintah Aliya.

"Merek kaos tadi?" Tanya Bilqis sambil membuka kunci hp-nya.

"Iya. Setahu gue itu ada artinya, semacam bahasa rahasia di Jogja gitu artinya 'matamu'. Sama kayak kata terakhir di kalimat itu," Aliya menceritakan temuan pemikirannya. Mungkin saja itu bahasa Jawa, dari orang tua Tuan Leon. Menggunakan cara yang sama untuk menyimpan sebuah rahasia. Seperti kata 'dab' yang berarti 'mas', yang tadi dipakai Aliya saat telepon. Aliya tahu kata itu, biasa dipakai sehari-hari di Jogja dalam pertemanan. Tapi dia lupa bagaimana kata itu terbentuk. Dan internet sepertinya bisa membantunya.

"Ndo, bantuin cari tahu cara menggunakan bahasa rahasia itu," ucap Aliya dengan tergesa. "Cepet!"


Dua orang itu langsung sibuk dengan hp masing-masing, mencari info yang bisa dicari sesuai petunjuk dari Aliya. Mengenai asal kata merek Dagadu yang berlogo gambar mata. Ronald mengamati dengan perasaan tidak menentu. Akankah cara Aliya benar? Apakah teka-teki akan terpecahkan? Apakah tulisan itu akan ada maknanya?

Aliya kemudian menatap Ronald. Siap memberikan instruksi, "Mana tulisan di kertas itu?"

Ronald mengambil dompetnya, lalu mengeluarkan secarik kertas dengan kalimat tanpa makna. Kemudian menyerahkan kertas itu pada Aliya.

Aliya menyalin tulisan tanpa makna di selembar kertas itu ke buku catatannya. Dia memastikan penggalannya benar sesuai dengan yang ada di tulisan itu.

"Bahasa walikan Jogja?" Sela Fernando, memastikan pada Aliya. Dia menemukan lebih cepat dari pada Bilqis.

"Iya, coba yang itu," ucap Aliya cepat. Hal semacam ini memacu adrenalinenya, saat dia mulai tahu bagaimana memecahkan sebuah teka-teki. Membuat dirinya bersemangat dan mendebarkan jantungnya. Aliya menyukai sensasi ini.

Fernando menyodorkan hp-nya. Menunjukkan urutan aksara Jawa. Tulisan tradisional yang dipakai oleh masyarakat Jawa pada zaman dahulu kala. Ada empat baris yang terdiri dari lima aksara. Dari Ha, Na, Ca, Ra, Ka.... dst.

Bahasa Walikan ini bahasa rahasia berlapis. Dulu digunakan sebagai bahasa rahasia supaya tidak diketahui oleh penjajah. Menjadi berlapis karena selain yang digunakan adalah bahasa Jawa yang tidak diketahui bangsa asing, yang dipakai juga urutan Aksara Jawa ini.

Kemudian cara menggunakan Bahasa Walikan ini dengan mengganti hurufnya dengan huruf dari deret yang lain. Sedangkan hurufnya vokalnya tetap. Sesuatu yang sulit dipecahkan kalau tidak paham metodenya.

Aliya membaca pelan-pelan cara menggunakan Bahasa Walikan di sebuah website di hp Fernando. Dia mempelajari Aksara Jawa di sekolahnya waktu di Jogja. Tapi tidak benar-benar mengingatnya.

Toko MerahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang