Benar kata Pieter, gadis itu manis. Sangat manis. Tidak seperti teh manis, aku bahkan bisa tahu manisnya gadis itu tanpa harus mencicipinya. Benar kata Pieter. Sangat benar.
Aku harus menemui keluarganya. Dan itu harus segera.
Tapi, baru saja Nyonya Liesbeth menceritakan mengenai Nona Marie. Ah, perempuan cantik berdarah murni itu. Mereka menginginkanku bertemu dengannya. Tujuannya jelas, apalagi kalau bukan kekuasaan dan kekayaan. Serta perlindungan keamanan dari keluarga Meijer. Apalah arti perasaan.
Istri Tuan Baron itu sepertinya tahu mengenai harta warisan keluarga Baron. Tapi dia dan anak-anaknya tidak tahu di mana harta itu disimpan. Mereka cukup percaya denganku, bahwa aku tidak akan menelantarkan mereka. Atau mungkin mereka hanya terpaksa karena tidak punya pilihan lain. Tentu saja, aku tidak akan menelantarkan mereka. Aku tidak sejahat itu. Tapi aku tidak suka kalau mereka mulai mencampuri kehidupan pribadiku.
Besok aku harus bertemu dengan Nona Marie. Sebagai pemilik perusahaan bagaimanapun aku harus menjaga hubungan baik dengan keluarga militer itu. Kasihan sekali perempuan itu. Hanya dijadikan alat untuk kepentingan pribadi mereka. Ah, mestinya aku tidak mengasihani orang lain. Seharusnya aku mengasihani diriku sendiri.
Aku baru sadar, kenapa papi memohon agar aku yang meneruskan mengurus perusahaannya. Untuk situasi yang sangat tidak menentu seperti sekarang, saat keberadaan Bangsa Eropa di tanah ini mulai dipertanyakan, pemilik darah campuran bisa menjadi bemper untuk tetap mendapat kepercayaan dari pribumi. Para pemilik tanah tetap mau menyerahkan hasil panennya. Sekaligus kepercayaab dari Bangsa Eropa. Akses.
Aku juga dimanfaatkan.
Papi, Tuan Baron yang terhormat, pasti memiliki jaringan yang bagus. Tapi tidak dengan istrinya. Setelah kepergian papi, Nyonya Liesbeth posisinya lemah, meski harta berlimpah. Dan dia tidak memiliki keluarga di sini, dia perantau. Sangat tergantung dengan suaminya. Dan sekarang bergantung padaku. Dia pasti ingin Nona Marie bisa dijadikan alat untuk mengikatku.
Dan Imah... ah, gadis itu. Aku harus mengakui kalau aku sudah terpikat. Perasaan yang ganjil. Gadis itu sudah menyita seluruh lamunanku. Dari yang terlihat mata bisa menggetarkan hati, dari apa yang didengar telinga menumbuhkan rasa. Apakah ini jatuh cinta?
Sialnya, lagi-lagi sebagai pemilik perusahaan, aku juga tidak bisa mengesampingkan Nona Marie. Setiap langkahku harus taktis dan strategis. Paman Andries pasti akan setuju dengan hubunganku dan Nona Marie, sangat mendukung perkembangan perusahaan. Tapi apakah perasaan ganjil itu harus dimusnahkan sebelum berkembang?
Imah, gadis itu juga terus menghindariku. Seperti tidak mengharapkanku. Apakah aku harus berusaha keras untuk menaklukannya? Tapi perasaan tidak bisa dijajah, itu bukan penaklukan. Hanya perlu mengenal satu sama lain. Dan biarkan rasa yang menentukan. Aku akan menunggu surat balasannya.
Manusia diberi logika dan rasa. Saat orang berpendapat biasanya akan menyatakan pendapatnya itu berdasar logika atau rasa itu. Antara 'aku pikir' atau 'aku rasa'.
Saat ini aku harus memutuskan segera. Should I think? Should I feel?
Sungguhpun, sebenarnya dengan kuasaku, aku bisa mendapat keduanya.
Dengan mudah.
⌘⌘⌘⌘
"Godverdomme! De kleren die door die vrouw worden gewassen!"
Pagi menjelang siang, teriakkan dari Nyonya Liesbeth mulai memekakkan telinga. Sepertinya dia sedang sibuk dengan pakaian yang dicuci oleh salah satu babu. Dia sibuk mengatur pakaian yang mesti dikenakan untuk menyambut kedatangan tamu yang ditunggu hari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Toko Merah
Historical FictionRonald tiba-tiba tertarik dengan nenek moyang keluarganya, karena ada cerita tentang harta keluarga yang masih tersembunyi. Konon kakek dari kakeknya adalah orang yang sangat kaya. Sampai Ronald menemukan sebuah tulisan tanpa makna dari kakeknya. Di...
