44 Pesan Semut

567 77 34
                                        


Sepotong informasi dari Paman Andries membawaku untuk menemui Pieter sore tadi. Aku tidak menyangka sebelumnya kalau laki-laki itu bergerak begitu jauh. Bukan hanya anak seorang pengusaha hotel yang berdarah campuran. Aku belum tahu persis kenapa. Tapi aku ingin tahu.

Sepertinya Pieter juga tidak menyangka kalau aku akan bertanya mengenai pergerakan itu. Dia menyelidiki kenapa aku tiba-tiba saja tertarik membahasnya. Aku membuat retorika sederhana. Tulisan di surat kabar membuatku tergerak. Menyadari kalau ibuku adalah seorang pribumi dan disia-siakan oleh papiku yang orang Eropa. Juga mengenai akses terhadap sumber daya dari para pribumi yang diperdagangkan. Alasan yang sama yang aku ceritakan juga pada Paman Andries.

Pieter mendengarkan dengan seksama omonganku. Dia mengangguk-angguk, mengerti. Tapi aku ingat betul tawa terbahaknya yang begitu keras dan tidak berkesudahan, sesaat setelah aku mengatakan, "Imah terlibat dalam gerakan itu."

Apa yang salah?

"Kau benar-benar jatuh cinta, Leon. Langkah yang kau pilih sungguh beresiko," ucap Pieter. Sepertinya dia senang karena aku mengikuti omongannya waktu itu.

Aku tidak memperdulikan ucapannya. Aku butuh informasi mengenai gerakan itu. Mengenai Imah. Ah, sudah seminggu lebih aku tidak bertemu dengan gadis itu.

Aku bertanya pada Pieter, jika alasanku dia tertawakan, lantas apa alasannya mengikuti gerakan itu? Pieter menceritakan mengenai ketimpangan yang dia lihat di sekitar hotelnya. Juga jasa para babu yang merawatnya dari kecil. "Aku memang berdarah setengah Eropa. Tapi aku lahir di sini. Makan nasi dari tanah ini. Dan kelak aku juga akan bahagia mati di negeri ini."

Seketika aku menaruh hormat pada laki-laki itu. Tadinya aku mengira karena dia merasa menjadi orang yang lebih baik, sehingga dengan jumawa mau berbuat baik. Banyak orang seperti itu.

Saat itu giliranku menyimak dengan seksama cerita-cerita Pieter. Awalnya dia bergerak sendiri untuk membantu orang-orang pribumi di sekitarnya. Mengajari membaca, menulis, membantu membangun rumah mereka yang kumuh. Hal-hal kecil yang ia mampu.

Sampai suatu ketika dia bertemu dengan seorang jurnalis koran milik orang Tionghoa. Seorang tamu hotel yang mempertemukannya dengan jaringan gerakan itu. Dia tidak terlibat untuk memberikan pemikiran besar. Pieter memiliki andil sebagai penyumbang dana.

Aku menyatakan untuk turut serta membantunya.

Pieter kembali terkekeh karena pernyataanku. Menyangka kalau ini hanya perkara Imah. Tapi kemudian aku membungkamnya dengan fakta yang kubaca di surat kabar. Kalau kehadiran Nipon juga menjadi bayang-bayang yang mengkhawatirkan. Kita tidak pernah tahu ke mana arah angin berhembus. Pieter memahami pilihan langkahku, tapi dia juga menekankan padaku kalau ini juga perkara keberpihakan. Bukan sekedar kepentingan personal semata.

Iya, aku menyadari itu. Hal itu yang membuatku lebih berat hati pada Imah, ketimbang pada Nona Marie. Menjalin relasi dengan Nona Marie maka akan menguntungkan perusahaan yang menghidupi banyak perut. Tapi dengan Imah dan gerakannya, lebih banyak perut yang dipikirkan. Tentu saja, ini juga bukan sekedar urusan perut. Ketimpangan itu nyata dan keadilan itu harus diperjuangkan.

Pieter baru yakin padaku setelahnya. Aku akui ini memang tentang Imah, tapi lebih dari itu, aku mendukung apa yang perempuan itu lakukan. Imah hanya menjadi pemantik.

Pieter bertanya mengenai Nona Marie setelah sebelumnya aku menyebut namanya. Aku menceritakan kejadian beberapa hari lalu saat perempuan itu tiba-tiba datang ke Toko Merah. Pieter mengernyitkan dahinya, bagaimana Nona Marie tahu kalau aku menemui Imah?

Sebelumnya aku berpikir, mungkin seluruh kota memang sudah mengetahuinya.

"Aku tidak selalu tahu kalau kau tidak cerita."

Toko MerahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang