31 Mau

552 92 61
                                        

Ronald sudah di balik kemudi, Aliya duduk di kursi di sebelahnya. Setelah kejadian tidak terduga tadi Ronald bergerak cepat. Bilang ke Bi Ani, minta nasi gorengnya dibungkus saja. Dia lalu memasukkan lukisan dari kamar Opanya ke dalam mobil, mau dibawa sekalian ke Toko Merah. Dia melihat Aliya tidak nyaman, seperti ingin lekas pergi dari rumah itu.

Aliya belum bersuara dari tadi. Perempuan itu jadi banyak diamnya. Suasananya buruk, benar-benar canggung dan kikuk.

Perasaan Ronald sama buruknya. Dia merasa bersalah. Dan dia tidak suka merasakan itu. Dia sudah kelewatan karena menuruti dorongan yang entah kenapa muncul tiba-tiba. Dia jadi sungkan dengan Aliya. Bagaimana kalau perempuan itu marah? Perempuan itu sedari tadi diam. Mungkin marah. Tapi bukankah tadi perempuan itu sempat... mau?

Goblok!

Ronald merutuki dirinya sendiri. Aliya yang seakan mau tidak bisa menjadi validasinya untuk melakukan perbuatan itu. Bahkan belum ada hubungan yang jelas di antara mereka kecuali berteman. Dia sudah lancang.

Ronald mencuri pandang pada Aliya dari ekor matanya. Berulang kali. Perempuan itu sedang melihat ke arah jendela, Ronald tidak bisa melihat ekspresi wajah perempuan itu.

"Ehm, kayaknya gue langsung pulang aja," ucap Aliya kemudian. Mengganti omongannya yang bilang mau melanjutkan obrolan di Toko Merah. Sepertinya dia tidak hanya ingin pergi dari rumah Ronald. Tapi juga dari hadapan Ronald.

"Kalau antar lukisan dulu ke Toko Merah gimana? Setelah itu gue anterin lo pulang," Ronald menawar permintaan Aliya. Dia belum mau berpisah dengan perempuan itu. Dia beralasan, "Biar nggak perlu bolak-balik."

"Okey," jawab Aliya singkat.

Perjalanan itu terasa sepi. Tidak ada obrolan sama sekali. Sampai Aliya mengangkat sebuah panggilan telepon. "Ini udah jalan, mau ke Toko Merah dulu antar lukisan. Habis itu bisa pulang."

Kalimat itu yang terdengar paling jelas oleh Ronald. Dia tahu itu Nino, kakak Aliya. Dia semakin merasa bersalah. Aliya bahkan tadi sudah menegaskan, supaya mereka bisa menjaga kepercayaan yang sudah diberikan kakaknya itu. Tapi dia sudah gagal menjegal dorongan aneh itu. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan Aliya sekarang. Perempuan itu masih sibuk dengan hp-nya.

Aliya sedang mengirimkan live location pada kakaknya. Perasaan Aliya semakin kacau balau setelah menerima telepon. Bagaimana tidak, di rumah Ronald tadi terjadi hal yang di luar nalarnya. Bukan hanya karena kelakuan Ronald yang lancang, tapi tubuhnya yang seakan tertarik juga. Ini benar-benar aneh. Aliya tidak tahu bagaimana hal tadi bisa terjadi. Bahkan, dia dan Ronald tidak dalam keadaan mabuk!

Aliya merasa bersalah pada kakaknya. Tidak ada hubungan, hanya berteman, dan tidak mabuk rupanya tidak bisa menjamin tidak terjadinya hal-hal yang kelewatan. Logika tidak berlaku di sana. Aliya menyadari kekhawatiran Nino. Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Ronald saja, karena tanpa sadar dia juga.... mau.

Dia seperti kemakan omongannya sendiri, dia rupanya tidak bisa menjaga dirinya sendiri.

"Aliya... maaf," Ronald akhirnya mengucapkan itu setelah melihat Aliya memasukkan hp-nya ke dalam tasnya. Dia tidak tahan dengan rasa bersalahnya. Dia sangat takut disalahkan. "Sorry, gue udah lancang."

Dengan perasaan yang tak karuan, Ronald memberanikan diri mengucapkan hal itu. Dia tidak mau Aliya meninggalkannya. Dia tidak suka kehilangan. Apalagi itu Aliya.

"Ehm..." Aliya kesulitan menanggapi omongan Ronald. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia kesal dengan perbuatan Ronald. Dia kepikiran mengenai orang-orang yang merasakan membeku saat dilecehkan. Apakah Aliya sedang mengalami hal itu? Tapi ini berbeda. Pelecehan itu kalau ada pemaksaan. Apakah tadi Ronald memaksa? Sedangkan disisi lain dia juga, mau.

Toko MerahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang