Aliya mengganti sepatu pantofel dengan sneakers yang selalu diletakkan di bawah mejanya setelah jam kerjanya usai. Dia cepat-cepat keluar dari kantornya. Di luar kantor, sudah ada laki-laki yang duduk di atas motor mengenakan kacamata hitam, sedang menunggunya. Senyum tipis laki-laki itu menyambut kehadiran Aliya. Membuat hatinya sumringah setelah hari yang lelah.
"Donald Bebek... Udah lama?" Pertanyaan sapaan dari Aliya.
Laki-laki itu hanya menjawab singkat sebelum menyiapkan motornya, "Lima menit."
Selang beberapa hari setelah menemukan buku-buku di dalam piano, Aliya baru sempat untuk datang ke Toko Merah lagi. Pekerjaan akhir bulan membuatnya sibuk setengah mati. Banyak laporan dan rekapitulasi yang harus dia kerjakan. Padahal dia sudah ingin sekali membaca buku catatan milik Tuan Leon. Buku yang 'disembunyikan' di dalam piano begitu misterius untuk Aliya. Aliya begitu penasaran dengan isinya.
Selama beberapa hari itu juga Aliya tidak bertemu dengan Ronald. Aliya bilang tidak ingin diganggu, ingin segera menyelesaikan urusan pekerjaannya. Ronald menghormati keputusan itu. Dia memilih menyibukkan diri dengan mengurus Toko Merah dan band-nya.
"Mau makan dulu?" Tanya Ronald.
"Gue mau makan nasi goreng Bang Jo aja," jawab Aliya. Dia ingin membaca buku Tuan Leon dengan cita rasa warisan keluarga Ronald itu.
"Kerjaan lo udah kelar?" Tanya Ronald lagi.
"Udaaaah..." ucap Aliya senang. Tapi kemudian dia penasaran dengan sesuatu, "Kalian udah dapet banyak ya bacanya?"
Aliya merasa ketinggalan, mungkin teman-temannya sudah membaca buku Tuan Leon lebih dulu. Sementara dia harus bergumul dengan beban pekerjaan dari kantornya sendiri. Dia merasa sedikit menyesal karena harus memenuhi kewajibannya dulu. Apa sebaiknya dia resign? Tawaran mengurus Toko Merah dirasa jadi lebih menarik.
Ronald hanya mengangguk, merespon pertanyaan itu tanpa penjelasan lebih panjang. Aliya baru mendapat jawaban saat dia sampai di Toko Merah.
"Lo mau baca buku itu lagi, Kak?" Tanya Bilqis sambil membuat es kopi kotak untuk Aliya.
"Lo udah baca banyak ya?" Tanya Aliya balik setelah mengangguk.
Bilqis menggeleng, "Lo aja yang baca kak, terus ceritain ke gue, hehehe..."
Tawa renyah Bilqis membuat Aliya mencebik, tapi dia tetap mengangguk. Dia paham tingkat ketertarikan orang-orang beragam. Tidak sepertinya yang selalu dibuat penasaran dengan teka-teki.
"Dia yang baca tuh," ucap Bilqis menunjuk Ronald.
Aliya langsung memperhatikan Ronald yang duduk di sebelahnya. Laki-laki itu sedang menguap. Kelopak matanya terlihat tebal. Ronald baru saja membuka kacamata hitamnya. Sepertinya sengaja untuk menutupi matanya yang juga terlihat kemerahan.
"Lo ngantuk? Semalam mabok ya?" Tuduh Aliya.
"Enggak. Cuma kurang tidur," jawab Ronald. Ronald melihat Aliya masih menatapnya dengan intens. Seolah tidak percaya. "Beneran, Aliya. Gue baca buku itu."
Aliya manyun, mengerucutkan bibirnya. Rupanya Ronald sudah membaca lebih dulu. Sepertinya makna membaca bersama-sama yang laki-laki itu ucapkan berbeda dengan persepsinya.
"Mau gue ceritain?" Tanya Ronald.
"Nggak, gue mau baca sendiri," jawab Aliya ketus. Kemudian dia mencibir lirih, "Katanya mau baca bareng."
"Penasaran..." ucap Ronald beralasan.
Aliya tidak memperpanjang obrolan itu karena ada seseorang yang membuka pintu masuk tempat itu. Seorang perempuan yang langsung datang menghampiri mereka penuh senyum. Ada paper bag di tangannya. Seseorang yang langsung merangkul Ronald sebagai salam sapaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Toko Merah
Fiksi SejarahRonald tiba-tiba tertarik dengan nenek moyang keluarganya, karena ada cerita tentang harta keluarga yang masih tersembunyi. Konon kakek dari kakeknya adalah orang yang sangat kaya. Sampai Ronald menemukan sebuah tulisan tanpa makna dari kakeknya. Di...
