30 Validasi

680 97 89
                                        


Ronald butuh Validasi. Begitu simpul Aliya. Laki-laki itu terus meminta pendapat Aliya mengenai cara mengurus Toko Merah. Melalui aplikasi pesan, laki-laki itu bertanya mengenai pembagian ruangan. Mana yang akan digunakan untuk publik. Mana yang sebaiknya dijadikan tempat yang lebih privat. Ronald butuh masukan dari Aliya.

Toko Merah adalah bangunan dari era kolonial. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri. Gayanya sangat unik dan memiliki karakter yang kuat. Jadi dia menyarankan segala sesuatunya diselaraskan dengan kekuatan yang sudah dimiliki itu. Mulai dari menu, rancangan sampai postingan di sosial media. Tapi dia mewanti-wanti untuk tidak mengglorifikasinya. Hal yang membuat Ronald dan Bilqis yang mengurus sosial media sedikit bingung.

Mungkin kebingungan itu yang membuat Ronald juga bertanya mengenai jenis furniture yang sebaiknya digunakan. Laki-laki itu mengirimkan berbagai contoh jenis set kursi. Aliya heran, bukankah laki-laki itu yang memiliki latar belakang desain, mestinya dia lebih tahu.

Aliya hanya memberikan pertanyaan pancingan: dari zaman apa gaya kursi itu? Atau cocok tidak untuk tipe konsumen yang datang. Apakah untuk keluarga atau untuk nongkrong berlama-lama? Aliya menolak untuk memberi jawaban. Ronald akan menjawab dan menentukan sendiri pilihannya.

Aliya senang saja dilibatkan oleh Ronald. Menganalisa adalah hal yang menyenangkan untuknya. Tapi, kelakuan Ronald membuat Aliya bertanya-tanya, apakah Ronald sesulit itu menentukan pilihan? Apakah Ronald memang berhati-hati untuk dapat hasil yang terbaik atau karena takut pilihannya salah? Laki-laki itu selalu butuh validasinya. Entah apa yang sudah terjadi pada laki-laki itu di masa lalu, hingga membuatnya seperti itu.

Pikiran lain malah merasuk ke dalam pikiran Aliya. Atau laki-laki itu hanya mencari alasan supaya bisa berhubungan terus dengan Aliya?

Aliya menjadi besar kepala karenanya. Apalagi setelah Ronald bilang tidak akan minum alkohol lagi. Dan laki-laki itu berulang kali bilang kalau dia membutuhkan Aliya. Perasaan itu membuat tubuhnya merasakan hal yang ajaib. Pipinya bisa mendadak kelu kalau mengingatnya. Aliya jadi membenarkan kata Bilqis, ini sensasi ajaib yang dirasakannya.

Pesan terakhir Ronald berisi tentang pertanyaan mengenai hiasan untuk Toko Merah. Dia terinspirasi dari banyaknya tempelan artwork di cafe yang ada di lantai dua Kantor Pos. Membandingkan dengan cafe itu membuat Toko Merah terasa sepi. Aliya merasa ada kemajuan dalam cara berpikir Ronald, dia punya gagasan sendiri.

Kenapa nggak pakai lukisan yang ada di landhuis?

Aliya mengirim pesan itu saat teringat dengan lukisan yang tergeletak di rumah keluarga Ronald dulu. Rumah yang sudah terbengkalai. Lukisan semacam itu akan cocok dengan konsep Toko Merah yang Aliya sarankan. Seperti lukisan di rumah Opa Tom di Lembang juga. Ronald menyetujuinya. Dia bercerita kalau ada lukisan semacam itu juga di rumahnya yang sekarang.

Ronald bilang akan langsung mengambilnya dari landhuis hari ini. Dia masih di Toko Merah, siang nanti dia baru bisa ke landhuis. Itu kabar terakhir yang Aliya dapatkan. Sampai sebuah pesan dari Ronald membuat Aliya terkejut.

Aliya, you have to see this.

Aliya, you have to see this

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Toko MerahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang