48 Bersama

419 82 29
                                        

"Ronnie?"

"Aliya, kenalin ini Jessie..."

Aliya sedikit gugup. Bukan, dia sangat gugup. Tapi dia mengulurkan tangannya pada perempuan yang sudah berdiri sambil tersenyum manis.

"Hallo Alya, Jessie," ucap perempuan itu, meraih uluran tangan Aliya.

"Aliya." Aliya memperjelas namanya yang benar.

"Oh, sorry. Aliya," Jessie membenarkan penyebutan nama Aliya. Kemudian pandangannya beralih ke Ronald. "Ronnie, are we going now? Mas Andi just text me."

"Ahm... oke... gue siap-siap bentar," jawab Ronald. Kalimatnya sedikit terbata. Sebenarnya dia juga canggung dengan situasi ini.

"Oke, aku tunggu di bawah ya?" Setelah bertanya dan mendapat anggukan dari Ronald, Jessie kembali memandang Aliya. "Aliya, see you.."

Aliya hanya tersenyum. Hanya itu reaksi yang bisa dia berikan. Aliya memandang punggung Jessie yang berlalu. Bingung. Dia tahu, Jessie adalah orang yang diajak konser juga oleh Mas Andi. Aliya juga tahu kalau ada kisah di masa lalu Ronald yang terkait dengan perempuan itu. Di pertemuan sebelumnya, Ronald sudah membicarakan mengenai hal itu. Dan Aliya membebaskan Ronald memilih sendiri.

Tapi pertemuan kali ini, membuat perasaan Aliya kacau. Ada sedikit sesal yang terlintas. Tapi sesal itu tidak dibenarkan oleh logikanya.

"Aliya," panggil Ronald. Laki-laki itu masih di sana, belum beranjak dari tempatnya sedikitpun.

"Ehm? Ah... lo mau latihan ya? Gue... gue boleh di sini buat baca?" Tanya Aliya. Tidak membahas mengenai sesalnya maupun tentang perempuan yang tadi ada di sana.

"Aliya, kenapa lo ga ngabarin dulu?" Ronald mengajukan pertanyaan lain.

"Nggak boleh ya? Kalau gitu gue balik aja." Aliya meletakkan gelas minumannya di meja.

Ronald menghela napas kasar. Situasi ini membuatnya bingung juga, serba salah. Dan dia tidak suka merasa bersalah. Sudah dua minggu mereka tidak bertemu. Bukan tidak mau, hanya saja dia terlalu sibuk. Dan...

"Boleh, Aliya," ucap Ronald sambil meletakkan biskuit marie yang dibawakan Aliya di atas meja, di dekat gelas minuman Aliya. Dia sedikit kesal. "Tapi gue jadi nggak bisa nemenin lo. Gue mesti latihan bareng Mas Andi."

"Gue tau lo sibuk. Nggak papa, gue bisa kok sendiri," ucap Aliya menyelipkan senyum di ujung kalimatnya. Dia tidak mau menjadi penghalang rencana Ronald.

"Tapi..." Ronald jadi tidak enak hati sendiri.

"Beneran nggak papa, gue kangen sama kelanjutan cerita Tuan Leon," ungkap Aliya meyakinkan Ronald.

Ronald tersenyum tipis, kangen? Dia memikirkan hal lain dengan kata itu. Sayangnya dia harus pergi. Untungnya perempuan itu memang begitu mengerti dirinya. "Ehm... Aliya... mau gue pesenin sesuatu, buat nemenin lo baca?"

Aliya sedang beralih ke meja berlaci di mana buku-buku milik Leon disimpan saat Ronald bertanya. Dia menggeleng, "Nanti gue pesen sendiri aja."

Entah kenapa kalimat sederhana itu terdengar ketus di telinga Ronald. Mungkin karena rasa bersalahnya. Tapi dia bingung mengungkapkan rasa itu pada Aliya. Dia juga tidak pandai menjelaskan. Ronald melihat Aliya mulai membuka buku catatan milik Leon. Rasa bersalahnya bertambah.

"Aliya..."

"Hm?" Aliya mengalihkan perhatian dari buku Leon lalu memandang Ronald. "Lo nggak buru-buru? Bukannya udah di tunggu?"

Lagi-lagi pertanyaan itu terdengar ketus. "Aliya... Jessie cuma nyamperin gue buat latihan bareng."

Sebuah penjelasan singkat dari Ronald. Aliya menganalisa kalimat itu, untuk apa penjelasan itu? Apakah Ronald ingin dimengerti? Apakah Ronald tahu kalau ada yang tak karuan di hati? Aliya hanya menimpali dengan anggukan dan senyum.

Toko MerahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang