49 Bersama-sama

514 77 62
                                        

Gue di atas.

Seperti sebelum-sebelumnya, pesan itu dikirim oleh Ronald untuk Aliya. Sebuah pemberitahuan kalau Ronald sudah berada di cafe di lantai dua gedung kantor pos di mana Aliya bekerja. Sudah lima hari sejak dia meninggalkan Aliya karena harus latihan persiapan konser, akhirnya Ronald bisa menyempatkan diri untuk mengunjungi Aliya.

Sudah seperempat jam dari jadwal istirahat siang Aliya, selama itu Ronald menunggu di cafe yang sedang sepi itu. Di kursi biasanya, di dekat jendela. Tapi Aliya belum juga datang. Perempuan itu juga belum membalas pesan yang dia kirim.

Aliya?

Ronald mengirim sebuah pesan lagi. Dia gelisah karena sama sekali tidak ada kabar dari Aliya sejak malam itu. Dia sudah berpikir macam-macam. Aliya tidak membalas pesannya sejak malam itu. Pesan terakhirnya malam itu memang tidak perlu dibalas, hanya berupa pemberitahuan. Salahnya sendiri tidak bertanya lagi. Tadi malam Ronald menghubungi Aliya lagi, tapi perempuan itu tidak membalasnya juga.

Sudah separuh lebih dari waktu istirahat Aliya, perempuan itu belum hadir di cafe itu. Aliya belum juga membalas pesannya. Berkali-kali dia melihat keluar jendela, kalau-kalau melihat Aliya keluar dari kantornya. Dia juga terus menerus melihat layar hp-nya, berharap pemberitahuan masuknya pesan muncul di sana. Sedang tangan kirinya sedari tadi memainkan tutup korek apinya.

Cetak-cetik, cetak-cetik...

Gelisah.

Ronald akhirnya beranjak dari kursinya, mau menemui Aliya langsung di kantornya. Namun saat dia menegakkan pandangannya perempuan yang ditunggunya sudah berdiri menghadapnya. Tangan kanannya memegang gelas kopi. Di tangan kirinya ada kotak rubik.

"Aliya..." ucap Ronald lirih. Dia kembali duduk.

Aliya duduk di hadapan Ronald. Meletakkan kopi dan rubiknya di meja.

"Lo sibuk?" Tanya Ronald.

Aliya mengangguk, "Rame."

"Sorry, ganggu."

"Ada apa?" Tanya Aliya langsung, sambil menatap Ronald yang juga sedang menatapnya.

"Lo nggak bales pesan gue?"

"Rame," ulang Aliya.

"Semalam?"

"Capek."

"Lo marah sama gue?"

"Kenapa mesti marah?"

"Lo menghindar dari gue," ungkap Ronald. Entah tuduhan, entah pertanyaan. Entah rajukan karena ketakutan. Takut ditinggalkan. Mestinya kalau semalam capek, Aliya bisa membalas paginya, bukan?

"Kalau gue menghindar, gue nggak di sini." Lanjut Aliya, "Bukannya lo yang lagi sibuk?"

Ronald tidak langsung menjawab pertanyaan Aliya. Dilihatnya perempuan itu memusatkan pandangannya pada gelas kopi yang digenggamnya sambil menunggu jawaban Ronald. Ronald memperhatikan raut wajah Aliya yang tidak seceria saat terakhir berkunjung ke Toko Merah. Entah apa yang dipikirkan perempuan itu.

Ronald berdecak.

"Iya, sibuk," jawab Ronald, pelan. Dia masih memperhatikan wajah Aliya yang menunduk. Lanjutnya. "Tapi gue kangen."

Aliya menegakkan pandangannya, menatap mata teduh Ronald. Tidak percaya laki-laki itu mengungkapkan hal itu langsung. Tidak biasanya.

"Emang lo nggak?" Tanya Ronald kemudian.

"Gue kira lo nggak..." Aliya ragu-ragu melanjutkan kalimatnya. Dia menunduk lagi sebelum meneruskan kalimatnya. Dia mengucap dengan lirih, "Kangen."

"Kalau gue nggak kangen, gue nggak ke sini," ungkap Ronald. Jawaban yang berhasil menarik pandangan mata Aliya untuk kembali menatapnya.

Toko MerahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang