Nino mengantar Aliya berangkat bekerja. Setelah sedikit perdebatan di antara mereka karena Aliya tadinya mau pergi menggunakan ojek online. Aliya ingin sekali membuktikan kalau dia bisa hidup sendiri. Tapi Nino tidak memperbolehkannya. Dia ingin menjaga Aliya, itu alasannya. Dasar laki-laki.
Begitu sampai, Aliya langsung mengganti sepatu sneakers dengan sepatu pantofel yang disimpan di bawah mejanya.
Bahkan di saat sakit hati, dia masih mesti bekerja. Menjadi budak dari surat kontrak yang sudah disepakati. Untungnya malam itu tidak banyak pengunjung yang datang ke Kantor Pos. Satu pelanggan sudah ditangani oleh teman Aliya. Perempuan itu jadi banyak melamun. Sempat terlintas harapan kalau Ronald akan mencari ke kantornya malam itu. Tapi cepat-cepat Aliya menyingkirkan harapannya.
Aliya akhirnya menyentuh hp-nya. Melihat banyaknya notifikasi yang muncul di layar pemberitahuan. Tidak ada pesan dari Ronald. Tentu saja dia sudah memblokir nomornya. Ada harapan kecil laki-laki itu datang membawa martabak seperti sebelumnya. Tapi rupanya dia tidak sepenting itu. Ah, mungkin laki-laki itu sedang sibuk dengan persiapan acara besok, bukankah hari ini dia mau memasang lukisan? Apakah sudah terpasang?
Aliya menghela napas panjang. Dia membuka pesan dari Bilqis pada jendela notifikasi. Bilqis menanyakan kondisi Aliya. Bilqis juga menanyakan apakah dia memblokir nomor Ronald. Katanya laki-laki itu bertanya padanya. Dan informasi terakhir, Bilqis cerita kalau Jessie dibawa ke rumah sakit. Informasi yang tidak penting untuk Aliya. Dia tidak mau tahu.
Ada pesan juga dari Fernando. Serupa. Hanya ada satu kalimat sederhana yang membedakan dengan pesan dari Bilqis. 'Take your time, Al. Apapun keputusannya kamu merdeka'.
Aliya mengabaikan pesan-pesan itu, tidak meresponnya.
Malam semakin larut, mendekati pergantian hari. Aliya sudah melayani beberapa pengunjung yang mengirimkan paket. Sepertinya penjual toko online. Setelahnya kantor itu sepi lagi.
Aliya lalu membuka laci meja kerjanya, mengambil kubus puzzle tetris pemberian Ronald. Dia mengambil kubus itu, lalu mengeluarkan isi dari kotaknya. Kepingan tetris terburai kemana-mana. Sekeping tetris jatuh ke lantai di kolong meja. Aliya mesti turun ke bawah meja besar yang sudah tua itu untuk mengambilnya.
Dia merutuki puzzle yang menyusahkan itu. Rumit, seperti Ronald. Pelan-pelan ia menyusun kembali puzzle itu, untuk membunuh waktu. Juga untuk mengesampingkan pikiran-pikiran yang membuat hatinya pilu.
Tetap saja terlintas pikiran-pikiran buruk. Tidak hanya tentang Ronald. Tapi juga tentang kakaknya. Apa sebaiknya dia ikut kakaknya? Tapi seingat Aliya tidak ada tawaran untuknya. Aliya paham, tidak mudah hidup di negara asing. Kakaknya bukan golongan pejabat tinggi di sana yang bisa dengan mudah memboyong keluarganya. Kakaknya malah memilih mencarikan Aliya suami. Apa dia sudah membebani kakaknya? Menghambat karirnya?
Aliya mengusap air mata yang tiba-tiba menetes.
Aliya memandang ke arah luar dari pintu masuk kantor. Sepertinya dia terlalu sakit hati, sampai menimbulkan halusinasi. Dia merasa ada bayangan yang memperhatikannya. Aliya mengalihkan perhatian dari bayangan itu.
Aliya kembali fokus pada puzzle tetrisnya. Cerita hidupnya seperti kepingan puzzle yang mesti diselesaikan. Setiap orang menjadi puzzle masing-masing. Bahkan puzzle yang sama cara menyelesaikannya berbeda-beda. Aliya jadi teringat pada cerita Tuan Leon lagi. Hidup orang itu seperti puzzle yang rumit.
Aliya menyelesaikan puzzle tetrisnya sebelum ada pengunjung lagi, dan terangnya pagi masih beberapa jam lagi. Aliya memilih membuka buku catatan Tuan Leon. Dia menarik napas panjang. Buku itu mengingatkan Aliya pada Ronald lagi. Tapi Aliya ingin menyelesaikan secepatnya tidak mau berlama-lama berkutat dengannya. Sekedar menyelesaikan penasarannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Toko Merah
Ficción HistóricaRonald tiba-tiba tertarik dengan nenek moyang keluarganya, karena ada cerita tentang harta keluarga yang masih tersembunyi. Konon kakek dari kakeknya adalah orang yang sangat kaya. Sampai Ronald menemukan sebuah tulisan tanpa makna dari kakeknya. Di...
