Aku dibuat tidak karuan semalaman sebab Imah masuk ke bilik dengan seorang pemuda. Apakah Imah sudah punya tambatan hati? Pertanyaan itu membuatku berpikir tujuh kali. Aku harus memikirkan berulang-ulang langkah apa yang harus aku ambil. Omongan Paman Andries tentang Nona Marie juga terus menjadi bayang-bayang di setiap pertimbangan. Aku terus memikirkan apakah langkahku sudah benar atau layaknya orang kurang kerjaan.
Omongan Pieter rupanya lebih menggema di kepalaku. 'Rebut perempuan itu. Dengan paksa kalau perlu.'
Apakah rasa bisa dipaksa? Bagaimana menerima rasa yang terpaksa?
Aku mulai mempertanyakan tujuanku mendekati Imah. Menuruti hasrat sebagai manusia dewasa adalah satu hal. Membangun masa depan membutuhkan pendamping. Dan Imah adalah perempuan yang sudah menyita lamunan dan anganku. Apakah aku hanya penasaran?
Hasrat lelakiku ingin merebut hatinya, menundukkan perempuan itu. Menjadikannya milikku. Memaksanya menuruti semua mauku.
Tapi aku tahu itu tidak mudah. Perempuan ayu itu tidak seperti perawan pribumi kebanyakan. Entah dia berpendidikan atau tidak, tapi perempuan itu bisa membaca. Cara bertuturnya menunjukkan kemandirian dan ketegasan. Bahkan dia menanggalkan sebutan 'tuan' yang melekat padaku. Langka.
Aku melihat Imah seperti Ibu. Seseorang yang begitu mulia dan mengayomi keluarga. Aku membayangkan Imah akan menjadi perempuan pendamping masa depanku yang sempurna.
Ibuku disia-siakan oleh seorang Belanda. Aku paham kekhawatiran Imah, karena aku berdarah campuran. Tapi aku bukan Tuan Baron, berbeda. Aku bisa pastikan itu. Bagaimana dengan Imah? Senyumannya saat menatapku menunjukkan sesuatu, tapi aku belum yakin akan hal itu.
Langkah selanjutnya. Aku harus pastikan itu. Juga perasaanku. Apakah hanya sekedar penasaran dan hasrat ingin menaklukan?
Tujuan itu membawaku datang kembali ke lokasi warung yang sudah dua kali aku datangi. Aku mencari waktu senggang di sela pekerjaan yang semakin memusingkan. Saat aku datang, aku tidak masuk ke warung itu. Aku langsung menuju pohon sukun di pekarangan di belakang warung milik ibu Imah. Aku meminta tolong pada Bang Ali memanggilkan Imah. Aku ingin tahu, bagaimana sikap perempuan itu.
Kalau dia benar-benar tidak peduli dengan kehadiranku, dia pasti akan mengabaikan undanganku. Tapi kalau dia datang, itu menunjukkan satu hal.
Matahari sedang berjalan menuju puncak. Bayangan pohon sukun bergerak memendek dengan perlahan. Terik hari itu membuatku berkeringat. Atau aku hanya menyalahkan terik matahari, padahal keringatku disebabkan perasaan gelisah. Rasanya waktu begitu lambat berlalu saat aku harus menunggu. Berulang kali aku merubah posisiku. Dari duduk di bangku kayu, atau hanya berdiri terpaku.
Pandanganku tidak beralih dari arah kemungkinan Imah akan datang. Aku berusaha bersabar. Bagaimana mau menundukkan perempuan itu, kalau aku tidak bisa menundukkan rasa gelisahku sendiri.
Sialnya, Imah tidak juga datang.
Aku berjalan perlahan tanpa melewati batas bayangan pohon sukun. Berusaha keras menundukkan rasa gelisah karena dibuat menunggu. Aku sempat merasa putus asa, mengira Imah benar-benar tidak peduli denganku.
Aku membalikkan tubuh dari arah kedatangan imah, berjalan pelan menuju bangku kayu. Saat itu aku mendengar suara Imah yang langsung menggetarkan hatiku.
"Leon..." Sebut Imah dengan lugas.
Itu kali pertama perempuan itu menyebut namaku. Dan seperti yang kubilang tadi. Hatiku benar-benar bergetar mendengarnya. Aku cepat-cepat membalikkan badan, dan memandang paras ayu meski tanpa gincu. Dia menatapku. Tatapan yang langsung menghujam jantungku. Membuat senyumku melebar, sangat senang saat bisa menyebut namanya langsung, "Imah..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Toko Merah
Ficción HistóricaRonald tiba-tiba tertarik dengan nenek moyang keluarganya, karena ada cerita tentang harta keluarga yang masih tersembunyi. Konon kakek dari kakeknya adalah orang yang sangat kaya. Sampai Ronald menemukan sebuah tulisan tanpa makna dari kakeknya. Di...
