35 Tentang Hati

577 101 71
                                        


"Makasih, Mas. Nasihatnya," ucap Fernando setelah Mas Andi mengutarakan akan pamit.

Aliya menarik tangannya dari genggaman Ronald.

Ronald melirik Aliya sekilas, saat tangannya terlepas. Dia kikuk. Hatinya ketar-ketir, khawatir dengan reaksi Aliya karena mendengar omongan Fernando. Tadi tangannya reflek menggenggam tangan Aliya, karena dia tidak ingin Aliya berpikir macam-macam. Sekarang dia bingung apakah perlu membicarakannya dengan Aliya?

Ronald ikut berjalan ke bagian depan, mengantar kepergian Mas Andi.

Aliya juga berdiri, mengemas beberapa benda yang tergeletak di meja. Puzzle yang sudah jadi dan hp milik Ronald. Dia berjalan ke meja bar, membayar pesanannya.

Ronald mengangguk penuh hormat pada Mas Andi, saat laki-laki itu masuk ke dalam taksi. Dia baru mendapat warisan berharga dari laki-laki itu. Dia kemudian kembali masuk ke Toko Merah. Dia mendekat ke meja bar saat melihat keberadaan Aliya di sana. Dia kembali ketar-ketir karena Aliya seperti sudah siap untuk pergi.

Apakah perempuan itu marah atau tidak enak hati? Ronald justru yang berpikir macam-macam. Dia belum sempat berbicara lagi dengan Aliya tadi. "Aliya, lo mau ke mana? Masih jam setengah sembilan."

"Pulang, udah ditanyain Mas Nino," jawab Aliya, menyerahkan dua benda yang tadi ditinggal di meja pada Ronald.

Ronald memberikan kubus tetris pada Aliya. Maksudnya untuk perempuan itu, tanpa omongan. Dia merasakan hal yang aneh. Kenapa Aliya tidak mengajaknya? "Mas Nino nggak jemput kan? Gue anterin," ujar Ronald cepat.

"Ahm..."

"Gue nggak mau dimarahin Mas Nino karena nggak nganterin Lo," ucap Ronald mendahului Aliya keluar dari Toko Merah.

Aliya terlihat enggan mengikuti Ronald setelah berpamitan. Dia tidak punya pilihan. Naik taksi online malam-malam begitu hanya akan mendapat banyak interogasi dari Mas Nino. Minta dijemput akan membuatnya lebih lama di sana. Dan pasti Ronald yang akan jadi tersangka lagi. Dia tidak mau ribut. Apalagi perasaannya sedang kalut.

Cerita Fernando menjadi pemicu suasana canggung di antara Aliya dan Ronald selama perjalanan. Keduanya saling diam. Memang jarang ada obrolan di antara mereka saat di motor. Itu hal biasa. Tapi saat ini, masing-masing mereka sibuk berbicara di dalam hati. Perasaan canggung yang ditimbulkan oleh pemikiran masing-masing yang tidak disampaikan.

Aliya sebenarnya kebingungan menafsirkan genggaman tangan Ronald. Genggaman tangan itu hangat, dan menenangkan perasaannya yang tidak tahu diri, tiba-tiba menjadi kalut setelah mendengar nama seorang perempuan. Tapi tidak mudah mengerti maksudnya apa. Apakah laki-laki itu cukup peka mengerti perasaannya? Sedang Aliya sendiri masih bingung dengan perasaannya.

Aliya memang pandai menganalisa. Sangat mudah membuat kesimpulan dari sikap Ronald terhadapnya. Tapi tidak untuk perasaannya sendiri. Analisanya berlapis, pertimbangannya banyak.

Sampai di suatu persimpangan, lampu lalu lintas berganti dari kuning menjadi merah, Ronald akhirnya punya inisiatif. "Aliya lo belum makan. Mau makan dulu? Ada mie ayam deket sini."

"Ehm... Mas Nino..." Aliya menolak dengan halus. Kudapan yang dia pesan sudah cukup membuatnya kenyang.

Pikiran Ronald semakin kacau. Dua kali ajakan makannya ditolak oleh Aliya hari itu. Dia tidak pandai untuk bicara, tapi saat ini dia begitu ingin menjelaskan. Dia tahu, genggaman tangan tidak cukup untuk memberi Aliya pengertian. Sialnya dia sendiri galau dengan sangkalan di kepalanya sendiri. Apa Aliya butuh penjelasan?

Gelisah itu mengisi kepala Ronald hingga saat mereka sampai di depan rumah Aliya. Pukul 09.00 kurang semenit. Aliya cepat turun dari motor Ronald begitu motor itu berhenti.

Toko MerahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang