Tadi pagi, aku lekas mencari informasi di Rumah Tuan Lim. Sang Nyonya rumah yang memberi banyak informasi. Bang Jo salah saat mencari Imah di warung Mpok Ati langganannya. Mestinya di warung yang lain. Warung Mpok Aminah, ibu dari Imah. Imah biasanya hanya mengantar makanan ke warung Mpok Ati. Aku meminta informasi lokasi warung Mpok Aminah itu dengan rinci.
Tuan Lim dan istrinya langsung curiga. Langsung menuduh kalau aku ingin menjadikan Imah sebagai gundik. Mungkin itu yang ada di otak orang-orang kebanyakan. Lumrah, aku harus memahami tuduhan itu. Aku tidak bisa langsung mengiyakan. Bukankah Paman Andries memintaku berpikir lebih panjang?
Aku bersama Bang Ali langsung menuju lokasi warung yang ditunjukkan oleh Nyonya Lim. Kami berjalan kaki. Lokasinya sedikit jauh dari rumah Tuan Lim. Perjalanan itu cukup membuatku berkeringat di pagi hari.
Warung itu berada di tepi Kali Besar yang alirannya melewati depan Toko Merah. Berada di dekat pertemuan aliran anak sungai dengan Kali Besar itu. Ada tiga orang laki-laki yang sedang makan di warung itu. Tatapan matanya langsung mengulitiku, mungkin karena penampilanku yang berbeda dengan mereka.
Untungnya Bang Ali langsung bergerak, dia bertanya pada seorang perempuan bertubuh kecil yang baru saja memberikan segelas minuman untuk salah seorang pengunjung.
"Silahkan duduk dulu. Maaf Tuan siapa?" Tanya gadis kecil itu.
"Bilang ke Imah, Tuan Leon mencari," ucap Bang Ali sambil melirik ke arahku.
Perempuan bertubuh kecil itu masuk ke bilik di gubuk itu. Aku menunggu beberapa saat. Imah tidak juga menunjukkan diri. Seolah terasa lama sekali sampai membuat gelisah. Sampai seorang paruh baya datang membawa keranjang belanjaan. Suaranya nyaring menyapa para pelanggannya dengan ramah. Dia menjawab dengan sabar keluhan para pelanggan yang menunggu gorengan tempe yang tidak terlihat di meja. Mata perempuan itu berhenti saat menyadari keberadaanku. Senyumnya melebar.
"Ada angin apa yang membawa Tuan sekalian datang ke gubuk kami ini?" Tanya perempuan itu, sopan.
"Kami mencari Imah," jawab Bang Ali.
"Maaf, beribu maaf. Kenapa gerangan Tuan-Tuan sekalian mencari Imah?" Tanya perempuan itu lagi. Matanya menatap Bang Ali, sangat jelas kalau perempuan itu lebih nyaman berbicara dengannya.
"Tuan kami ada urusan dengan Imah yang harus diselesaikan," Bang Ali menoleh kepadaku.
"Urusan apa, Tuan? Apakah dia memiliki hutang?" Tanya perempuan itu lagi. Nada suaranya lebih rendah, dan sedikit bergetar.
"Tidak, kami tidak memiliki masalah apapun. Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu saya bicarakan dengan Imah," aku bersuara. Aku ingin cepat tahu di mana perempuan itu. Kenapa sedari tadi banyak pertanyaan, penuh kecurigaan, seolah kami orang yang jahat.
"Ahm..." Perempuan itu seperti kehabisan kata-kata untuk menjawabku. Sorot mata ramahnya berubah ketakutan.
"Udeh pulang Nyak?" Ucap seorang perempuan yang keluar dari bilik gubuk itu. Imah akhirnya menunjukkan batang hidungnya. Tapi dia seolah mengabaikan kehadiranku di sana. Di tangannya ada dua piring berisi penuh gorengan tempe dan singkong. Terlihat masih panas. Dia membawa piring penuh itu ke meja, yang langsung disambut para pelanggan.
"Udeh. Ini lu dicariin Salimeh. Kemane aje lu?" Tanya perempuan paruh baya tadi.
"Tanggung lagi nggoreng, Nyak. Gosong nanti kalau aye tinggal," jawab Imah menjelaskan. Lalu dia akhirnya menatapku.
"Kenapa Anda mencari saya?" Tanya Imah lugas. Perempuan yang dipanggil 'Nyak' sampai menegur Imah karena perempuan itu bahkan tidak memberi sebutan pada panggilannya. Iya, di kota ini hanya Imah yang tidak memanggilku Tuan, selain Paman Andries dan Nyonya Liesbeth yang punya panggilan khusus untukku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Toko Merah
Historical FictionRonald tiba-tiba tertarik dengan nenek moyang keluarganya, karena ada cerita tentang harta keluarga yang masih tersembunyi. Konon kakek dari kakeknya adalah orang yang sangat kaya. Sampai Ronald menemukan sebuah tulisan tanpa makna dari kakeknya. Di...
