45 Stand Point

731 93 45
                                        

Entah sudah berapa kali aku menghadiri pertemuan perkumpulan itu. Aku dan juga Pieter semakin terlibat lebih dalam. Tentu secara diam-diam. Bahkan Bang Jo, Bang Ali dan Paman Andries pun tidak tahu. Tidak lagi karena Imah semata, tapi untuk hal yang lebih besar. Bahkan sejak pertemuan dengan Imah malam itu, perempuan itu tidak terlihat lagi kehadirannya.

Tadi malam, seorang pemuka menceritakan mengenai kemenangan perjuangan bersama rakyat kecil di belahan dunia lain yang dia ketahui. Orang itu membakar semangat kami. Seperti cerita semut dan gajah, atau David dan Goliath, cerita-cerita yang berusaha membesarkan hati banyak orang. Supaya tidak mudah menyerah atau patah semangat. Bahwa dengan kerja sama dan pemikiran mendalam, perjuangan melawan 'yang besar' itu sangat mungkin untuk terwujud.

Malam tadi Imah menghadiri acara pertemuan itu. Dia ikut duduk bersama beberapa perempuan lain. Tidak hanya mengurus makanan dan minuman yang disajikan. Beberapa kali aku mencuri pandang perempuan itu. Dia memperhatikan dengan seksama omongan-omongan dari para pemuka. Sampai di sesi diskusi, Imah mengangkat tangannya. Mengajukan diri untuk bersuara.

"Cerita itu sangat bagus. Tapi, semut tetaplah makhluk kecil. Kita bisa dengan mudah memitas dengan ujung kuku. Kami orang kecil, perempuan, juga seperti itu."

Imah tidak menyanggah, hanya ngudarasa, mencurahkan perasaan. Imah terlihat begitu berani. Saat perempuan itu berbicara, aku berkesempatan menaruh perhatian padanya. Seolah hanya memperhatikan ucapannya. Tapi tidak bagiku, lebih dari itu. Aku bisa mencurahkan kerinduan yang terus aku pendam. Dan di akhir kalimatnya, mata perempuan itu mengerling ke arahku.

Deg.

Dia sedang menyindirku, juga beberapa orang berdarah campuran di ruangan ini. Pemerintah memang membuat golongan kelas manusia di tanah ini. Kaum pribumi menempati kelas terbawah. Dan kaum kami mendapat lebih banyak keuntungan. Imah menyangkal pesanku. Menyangkal pernyataan yang mengatakan kalau sesama semut harus saling membantu. Dia tetap menganggapku gajah.

Pemuka yang membagikan cerita menjawab dengan diplomatis. Siapapun itu, jika memiliki cita-cita dan cinta yang sama dengan tanah air ini, semua berhak untuk berjuang bersama. Entah kecil, entah besar, memiliki porsi masing-masing. 

Pernyataan itu disambut tepuk tangan. Imah duduk dan mengangguk. Tapi wajahnya datar. Mungkin karena pendapatnya sebagai perempuan tidak mendapat jawaban yang diinginkan. Perempuan itu lalu pergi keluar ruangan, meski pertemuan itu belum usai.

Aku mengikutinya. Di samping rumah menuju ke arah dapur, aku memberanikan diri untuk menghentikan langkahnya dengan menarik tangannya. Sungguh aku ingin membicarakan tentang kami.

"Imah, izinkan aku berbicara sebentar," ucapku.

"Tidak perlu, Tuan," tolak Imah. Ini kali pertama dia menyebutku 'Tuan'. "Tidak ada yang perlu dibicarakan di antara kita."

Aku bertanya alasannya.

"Tolong jangan ganggu saya. Saya tidak mau rumah kami yang dibakar selanjutnya," jawab Imah terang-terangan. Dia jelas-jelas membenciku karena menjadi penyebab dibakarnya warung ibunya.

"Apa ada yang mengancammu? Aku bisa membangun kembali warung ibumu, Imah."

"Bukan urusan Anda. Simpan saja uang Anda, Tuan. Saya minta jangan ganggu saya lagi. Tolong," ucap Imah dengan tatapan tajam. Di sorot matanya ada rasa yang coba ia penjara. Dia tidak mau tunjukkan. Tapi aku tahu dari pelupuknya yang berkaca. Lalu dia menjauh dariku, "Maaf, permisi."

Hati ini begitu patah, perempuan itu punya harapan. Tapi aku begitu yakin kalau ada yang mengancam Imah. Aku sangat yakin. Di satu sisi aku begitu mengharapkan Imah. Tapi, aku juga mengkhawatirkan keselamatannya. Kenekatanku bisa mengancam jiwanya, juga keluarganya.

Toko MerahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang