25 Di Antara Dua Lelaki

494 95 51
                                        


"Kamu dari mana, Aliya?"

"Mas Nino..." Aliya membeku di tempatnya. Bagaimana kakaknya secepat itu sudah di rumah?

"Mas Nino udah pulang? Katanya pulang besok," Tanya Aliya dengan gugupnya. Kakaknya masih berpakaian rapi. Bahkan masih mengenakan sepatu kerjanya.

"Duduk, Al," pinta Nino pada adiknya. Aliya menuruti omongan kakaknya. Tas yang ia bawa diletakkan di sebuah kursi, lalu ia duduk di kursi sebelahnya. Nino mengamati tas Aliya. Bukan tas yang sehari-hari Aliya bawa, tapi sebuah tas ransel berwarna hitam.

Lalu setelah Aliya duduk, Nino kembali bersuara, "Mas tanya, kamu dari mana?"

"Aku kan tadi pagi udah bilang, pergi sama Bilqis, Mas," jawab Aliya.

"Mas tanya kamu dari mana, bukan dengan siapa, sayang..." ucap Nino pelan.

"Lembang..." jawab Aliya jujur. Lanjutnya lirih, "Aku juga udah bilang kan."

"Iya, kamu sudah bilang, tapi Mas belum kasih izin. Kamu tetap pergi. Kenapa Aliya?"

Aliya terdiam. Dia memang tidak meminta izin. Hanya memberi tahu kalau dia mau pergi. Dia tahu kakaknya tidak akan memberinya izin. Bukan karena Aliya tidak boleh main dengan teman-temannya. Tapi karena Aliya tidak bisa menjelaskan dengan siapa saja dia pergi. Dia juga tidak bisa menceritakan untuk apa. Aliya memilih tidak cerita daripada berbohong.

Nino terlihat menarik napas dalam, berusaha untuk sabar dan tidak marah atas kelakuan adiknya. "Ternyata benar kekhawatiran Mas. Mas cepat-cepat pulang karena mikirin kamu. Khawatir kamu sendirian di rumah. Benar kan, kamu sampai pulang larut malam seperti ini. Nomor kamu juga tidak bisa dihubungi dari tadi."

"Aku ketiduran tadi," ucap Aliya pelan.

"Kamu pergi sama siapa? Tidak cuma sama Bilqis kan?" Tanya Nino lagi.

Aliya mengangguk.

"Sama cowok itu lagi?" Tanya Nino mendesak meskipun suaranya tetap pelan.

Aliya terdiam, matanya tidak berani memandang kakaknya. Dia melihat meja yang memisahkannya dengan kakaknya. Dia juga tidak berani menggeleng maupun mengangguk. Bagaimanapun Aliya begitu menghormati kakak satu-satunya itu.

"Aliya?"

Aliya menggeleng kecil, menyembunyikan hal yang tidak ingin kakaknya ketahui.

"Aliya, bener kan kata Mas. Cowok itu jadi pengaruh buruk. Kamu berani berbohong sama Mas? Kenapa Aliya?" Tanya Nino yang mengetahui gelagat aneh adiknya saat sedang mencoba bohong. Laki-laki itu benar-benar mengkhawatirkan adik perempuannya. "Aliya, apa mutiara masih jadi mutiara?"

"Mas, aku udah gede. Aku punya pertimbangan sendiri kenapa aku memilih pergi. Alasanku juga jelas. Aku cuma mau bantuin dia. Udah."

Nino memandang Aliya dengan tidak percaya, adiknya benar-benar berubah, "Kita biasanya bisa diskusi untuk membahas hal seperti ini. Kenapa kamu tidak jelaskan saja sama Mas, Aliya? Biar Mas nggak khawatir kayak gini."

Aliya terdiam, apakah bisa berdiskusi kalau ini kaitannya dengan Ronald?

"Kamu perempuan, Aliya. Ini bukan perkara membeda-bedakan gender. Perempuan resikonya lebih besar. Mas nggak mau hal-hal buruk terjadi sama kamu," ujar Nino dengan penuh kesabaran.

"Mas, aku juga mikir panjang sebelum memutuskan. Aku tahu dengan siapa saja aku pergi. Aku juga tahu tujuan aku pergi, aku bisa jaga diri," ucap Aliya, dia masih menunduk.

"Kenapa tidak bilang saja sama, Mas. Kamu malah memilih berbohong?"

"Aku nggak bohong. Aku cerita sama Mas Nino. Lagian kalau aku cerita, memangnya Mas Nino izinin? Memangnya Mas Nino bolehin aku pergi?" Tanya Aliya sekarang,

Toko MerahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang