47 Seorang Perempuan

481 76 46
                                        


"Ron! Ron!"

Aliya menggoncang lengan laki-laki yang berbaring di dekatnya. Ronald sepertinya benar-benar tertidur. Benar-benar seperti orang yang kurang waktu untuk istirahat. Goncangan Aliya yang begitu hebohnya membuat laki-laki itu terjaga. Lalu dia duduk sambil mengucek matanya.

Begitu Ronald bangun, Aliya dengan heboh memastikan, "Oma Schat itu Imah?"

Pertanyaan itu ditanyakan Aliya setelah dia membaca cerita Leon tentang kedatangan Imah ke kediamannya di suatu malam hari setelah hujan.

Malam itu Imah menceritakan mengenai sebuah pesan yang diterima telegraf di kantor pos tempatnya bekerja. Alat itu mengirimkan sinyal elektromagnetik yang diterjemahkan menjadi kode garis dan titik, sandi morse. Selama ini petugas kantor pos bisa dengan mudah menerjemahkan kode itu menjadi huruf latin tanpa harus mengetahui maknanya. Tapi hari itu, para petugas di kantor pos membicarakan mengenai pesan-pesan yang diterima mesin telegraf di kantor itu.

Pemerintah memang sudah menyatakan kota ini sebagai 'kota terbuka'. Mereka tidak lagi mempertahankan kota ini dengan tujuan supaya tidak terjadi kehancuran akibat pertempuran dengan Nipon seperti yang sudah terjadi di kota lain. Orang-orang kulit putih dari kota lain berkabar melalui telegraf kepada keluarga mereka di kota ini. Nasib mereka terancam.

Imah dibuat gundah gulana karena pikirannya teringat pada sosok Leon yang menyebut dirinya semut juga, sama sepertinya. Dia memang kesal karena laki-laki itu membuat ayahnya mendapat pukulan dari tiga orang kekar. Dia bahkan mengirim surat untuk Leon melalui Pieter yang datang ke kantor posnya. Tapi, kesungguhan dan keberpihakan Leon pada bangsanya, membuat Imah tergerak untuk menemui Leon malam itu.

Imah bercerita tentang telegraf yang dibahas temannya di kantor pos. Bagaimana para orang kulit putih dibantai di kota lain. Leon dan keluarganya bisa menjadi sasaran juga. Imah tiba-tiba peduli dan ingin membantu Leon. Sama seperti Leon yang telah membantu perkumpulan.

Imah meminta Leon menikahinya, dengan demikian Leon bisa berlindung di tengah keluarganya. Dukungan dari perkumpulan juga akan semakin kuat karena statusnya yang terikat pernikahan. Leon ragu, karena bukannya keluarga Imah yang akan melindungi Leon, tapi bisa jadi mereka malah terseret masalah dengan kehadirannya di tengah-tengah keluarga itu.

Aliya belum selesai membaca, tapi dia terlalu bersemangat mengetahui kemungkinan Leon menikahi Imah. Aliya cukup prihatin karena tulisan cerita kegalauan Leon yang berlarut-larut karena cintanya tak bersambut.

"Ron, Tuan Leon menikahi Imah?" Aliya ingin lekas tahu cerita selanjutnya.

Ronald tersenyum tipis mengangkat sebelah bibirnya lebih tinggi, tapi bukan berarti mengiyakan omongan Aliya. "Mau gue jawab atau mau baca sendiri?"

"Ish nyebelin, gue penasaran abis. Gue baca aja sendiri aja kalau gitu," ucap Aliya kesal, sambil melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Aliya tiba-tiba terbelalak, "Sial udah jam 11.00! Gue bisa digorok Mas Nino!"

Aliya mengecek hp-nya. Mati. Dia terlalu asik membaca buku catatan Tuan Leon sampai tidak sadar kalau daya hp-nya habis. Aliya semakin panik. Kakaknya pasti akan marah.

Ronald ikut panik karena raut kecemasan di wajah Aliya. Dia tidak menyangka malam sudah selarut itu. Tidurnya terlalu pulas, atau dia yang terlalu lelah. Mungkin juga terlalu nyaman. "Ahm, gue anterin lo sekarang. Gue cuci muka dulu bentar."

Ronald beranjak ke arah turun, diikuti Aliya yang cepat-cepat mengembalikan buku catatan Leon ke laci meja. Setelahnya mereka bergegas untuk pergi dari tempat itu.

"Balik, Al?" Tanya Bang Jo.

"Iya, Bang, kemaleman ini. Duluan ya..." ujar Aliya tergesa sambil melambaikan tangannya. Dia tidak melihat Bilqis ada di tempat itu lagi. Mungkin sudah pulang.

Toko MerahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang