C39 : Status Yang Berbeda

11.3K 438 24
                                        

Happy Reading ~

Kamis di minggu ini menjadi hari yang Rama benci kehadirannya sebab ia harus merelakan waktunya untuk hal membosankan yang sama sekali tidak menarik, yaitu bertemu dengan keluarga dari gadis yang akan dijodohkan dengannya. Rasanya kian frustasi setiap kali Rama memikirkan tentang kenyataan bahwa sebuah perjodohan sudah menunggu di depan matanya. Cepat atau lambat Rama tahu bahwa ia harus menghadapi hal ini, namun, di saat semuanya masih belum berhasil ia raih, Rama rasa bahwa semakin sulit baginya untuk merubah arah perjodohan ini. Terlebih, Kakeknya adalah tipikal manusia keras kepala, tak bisa dibantah kecuali jika Rama mampu menawarkan satu hal yang menarik bagi seorang Wibisana Rajendra.

Tok! Tok!

Rama yang tengah fokus pada iPadnya yang menampilkan grafik saham, lantas menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar yang terbuka. Andira—Sang Mama, berdiri di sana dengan sebuah senyum simpulnya yang manis.

"Udah selesai siap-siapnya?" Pertanyaan retorik itu dilayangkan oleh Andira.

Rama mengangguk. "Mau berangkat sekarang?"

Andira mendekat, "Iya, Papa dan Kakek udah nunggu di bawah. Ayo."

Rama menghela nafas sejenak, "Sebentar." Ujarnya yang lantas menutup iPad dan meletakannya di atas meja. Pemuda Rajendra itu kemudian meraih jam tangan dan mengenakan benda itu di pergelangan tangan kirinya.

Andira membenahi sedikit kerah kemeja yang putranya kenakan. Ia menatap Rama dengan pandangan teduh. "Senyum dong. Masih muda ngga boleh prengat-prengut, nanti cepat keriput." Ujar wanita itu seraya terkekeh.

Rama menanggapi gurauan itu dengan decakan kecil. "Nanti aja pura-puranya."

Andira mengulum senyum, ia mengelus bahu tegap putra bungsunya itu. "Mama paham kamu pasti keberatan dengan perjodohan ini, tapi ngga ada salahnya untuk ketemu dan kenal dengan calon tunangan kamu. Siapa tau kamu tertarik dengan dia, kan?"

Rama menatap Sang Mama sejenak. "Kalau Rama ngga tertarik dengan dia, apa ada kesempatan untuk Rama menolak perjodohan ini?"

Andira terdiam sejenak. Ia menarik nafas, sedikit membenarkan helaian rambut putranya. "Mama ngga bisa janji, tapi Mama akan bantu untuk bicara dengan Kakek dan Papa-mu."

Rama menarik nafas pelan, bahunya meluruh kecil. Pemuda itu lantas mengangguk sekali, "Makasih, Ma." Ujarnya.

Semua memang tak mudah, tapi setidaknya Rama tahu bahwa ia masih memiliki sang Mama yang senantiasa berada di sisinya.

. . .


Kamis pagi ini Arum mendekam dirinya di kamar, sibuk dengan benda besar berbentuk persegi panjang yang berada di pangkuannya. Kaca mata anti radiasi bertengger di tulang hidungnya yang cantik, bola matanya sibuk menari-nari mengamati deretan kata yang terpampang di layar, sedangkan jari-jemarinya tampak lihai menekan balok demi balok tipis yang tersusun di keyboard.

Tok! Tok!

"Permisi, Non Arum. Ini sarapannya Bibi bawakan."

Pandangan Arum praktis beralih, menatap Bi Ratna yang berada di ambang pintu dengan sebuah nampan berisi sarapan untuknya. Arum lantas meletakan laptopnya di atas ranjang, ia berdiri dan segera menghampiri Bi Ratna.

"Kok Bibi repot-repot? Bibi bisa panggil aku untuk ke bawah, lho." Ujarnya yang kemudian mengambil alih nampan tersebut.

Bi Ratna tersenyum kecil. "Ngga repot kok, Non. Ini Bapak yang minta Bibi untuk antarkan sarapan ke kamar, Non, karena dari tadi Non belum keluar dari kamar. Bapak juga minta Bibi untuk ngecek keandaan Non Arum. Non lagi ngga enak badan, ya?"

TANYA GENGSITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang