C19 : Bukan Pahlawan Kesiangan

12K 465 11
                                        

Happy Reading
______________________

“Eh, itu Arum?” Seruan Arkan terdengar tak percaya, pemuda itu berjalan cepat pun Ega dan Bima yang turut menghampiri Arum.

Mengenyampingkan rasa tak nyamannya akibat aroma busuk yang menyengat, Arkan menepuk pipi Arum dengan pelan. “Arum?”

“Hidungnya berdarah, anjir.” Cemas Bima yang menyadari cairan merah kental yang keluar dari hidung gadis tersebut.

“Gue tanya, siapa yang ngelakuin ini ke Arum?” Suara dingin nan tajam Rama terdengar menuntut penjelasan pada semua siswi yang masih diam mematung.

Isabel menggigit bibir bawahnya, “Itu dia pingsan sendiri tadi. Ya’kan?” para teman – temannya tidak ada yang menyahut, membuat Isabel merutuk dalam hati.

Rama tersenyum sinis, “Lo pikir gue bodoh? Jawab sebelum gue nggak bisa ngontrol emosi gue!” peringatnya sudah tak tahan dengan amarahnya.

Amelia disebelah Isabel kini sedang meremat jemari tangannya, benar – benar takut dan merasa begitu terintimidasi. “K-kita cuman main – main doang kok, itu dianya aja yang emang lemah.”

Ega, Bima, juga Arkan kompak terngaga tak percaya dengan perkataan Amelia. Hanya main – main?

Ega membasahi bibirnya, “Ini termasuk tindak kekerasaan, kalian bukan lagi anak – anak dibawah umur, gue bisa laporin kalian ke kantor polisi.” Ucapan Ega terdengar sangat menyeramkan.
Isabel, terlebih Amelia langsung terbelalak. Kedua gadis itu menggeleng dengan panik. “Lo nggak bisa ngelakuin itu, kita nggak salah disini.” Ucap Isabel berani.

Rama yang mendengarnya pun tertawa, “Terus siapa yang salah? Hah? Jawab gue!” bentaknya membuat kedua gadis itu tersentak.

Situasi tambah memanas ketika tatapan tajam Rama dan ketiga sahabatnya yang lain memandang mereka seolah menghunus.

Isabel melangkah mendekat, “Kamu kenapa marah? Seharusnya kamu seneng dong Arum menderita, kamu nggak suka dia’kan? Kamu benci si sampah ini’kan?”

Rama mengangguk, “Iya, gue emang nggak suka sama dia. Gue benci Arum, gue emang pengen dia menderita. Tapi alasan dia menderita harus cuma gue yang boleh jadi penyebabnya! Cuma gue yang boleh buat dia menderita. Bukan lo atau siapapun.”

“Dia mainan gue. Cuma gue yang berhak atas dia. Gue nggak pernah nyuruh lo ataupun kalian semua untuk ngebully dia. Lo tau, gue benci ada orang yang ngusik kesenangan gue.” Ucap Rama tajam dan membungkam telak Isabel dan para penggemar gilanya.

“Buat kalian semua, denger baik – baik. Kalau ada yang berani ngusik Arum diluar kemauan gue, siap – siap lo berurusan sama gue.” Ucapnya memberi peringatan.

“Dan buat lo, lo mau tau siapa sampah sebenernya? Lo cukup ngaca dan liat seberapa busuk mukak si sampah itu.” Perkataan Rama benar – benar menusuk hingga Isabel hanya mampu bungkam dengan mata yang memanas.

Rama berjongkok dan mengangkat tubuh Arum, benar – benar tidak peduli dengan aroma busuk yang menguar sangat pekat. Pemuda tersebut menatap darah yang masih keluar dari hidung gadis itu, yang entah mengapa semakin membuat amarahnya tersulut. Pemuda Rajendra itu lantas berjalan cepat menuju klik sekolah, meninggalkan kerumunan yang menyaksikan hal dilakukannya itu dengan tampang tak percaya.

Ega, Bima, juga Arkan saling melempar pandangan melihat aksi Rama yang sama tidak terduga itu. Rama peduli dengan Arum? Ini mirip seperti tujuh keajaiban dunia.

“Gue tunggu kalian berdua di ruang BK.” Ucap Ega sebelum mengikuti langkah Rama, sedangkan Bima dan Arkan melempar pandangan sinis kepada Isabel dan Amelia. Tidak lupa decihan yang membuat kedua gadis itu tertunduk dengan perasaan cemas.

TANYA GENGSICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang